Buku dari Tahun 1910 Ini Saya Temukan Berlumut
Tulisan dari Nonos Yunof tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku itu tidak dipajang. Dia terselip di antara jejeran buku di sebuah kios di Pasar Buku Bekas Blok M, menempel ke dinding yang berlumut. Sampulnya lembap dan kotor, buku itu pun ikut berlumut.
Buku seperti itu biasanya dilewati orang. Saya justru mengambilnya, padahal waktu itu saya tidak tahu siapa penulisnya. Alasannya? Saya selalu penasaran, cerita apa yang dibawa oleh buku-buku tua itu.
Judulnya berbahasa Belanda, 'N Zonnestraal voor Elken Dag. Di halaman judulnya tercetak nama penerjemahnya, Hendriek Gast.
Harganya Rp50.000. Saya bawa pulang.
Buku itu terbit tahun 1910. Umurnya sudah lebih dari seabad.
Belakangan saya juga baru tahu siapa penulisnya. Ralph Waldo Trine adalah penulis Amerika dari gerakan New Thought, cikal bakal buku-buku pengembangan diri yang laris hari ini. Buku yang saya pungut dari dinding lembap itu ternyata leluhur jauh rak self-help di toko buku. Gast, yang juga menerjemahkan buku Trine lain ke bahasa Belanda.
Bacaan Harian dari Seabad Lalu
Judulnya kira-kira berarti "Seberkas Sinar Matahari untuk Setiap Hari". Isinya bacaan harian. Setiap halaman diberi tanggal, dari Februari, April, sampai Juli.
Buku seperti ini tidak dibaca sekali duduk. Ia dibuka sehari sekali, oleh pemilik yang sama, mungkin selama bertahun-tahun.
Saya jadi penasaran. Siapa pemiliknya dulu? Seorang terpelajar Belanda, tentara, atau rohaniwan? Dan bagaimana buku yang dulu dibaca setiap hari bisa berakhir menempel di dinding kios loak?
Saya tidak tahu jawabannya. Yang saya tahu, sebelum ceritanya bisa ditebak, buku ini perlu diselamatkan dulu.
Sebelum Mulai, Saya Perlu Jujur
Yang saya lakukan ini perawatan skala rumahan, bukan konservasi museum. Konservator profesional memakai bahan khusus, seperti kertas Jepang dan lem pati, yang bisa dilepas lagi tanpa merusak buku. Bahan saya lebih sederhana.
Tujuan saya juga bukan membuat buku ini tampak baru. Kertas yang menguning, noda waktu, dan jejak tangan pemilik lamanya adalah bagian dari sejarahnya. Saya hanya ingin menyingkirkan yang mengancamnya: kotoran, sobekan, dan jilidan yang mulai lepas.
Menyapu Debu Seabad, Halaman demi Halaman
Kabar baiknya, kertasnya masih bagus untuk ukuran buku berumur seabad. Noda-nodanya menunjukkan buku ini lama disimpan di tempat lembap, persis seperti posisinya di lapak.
Saya bekerja di atas cutting mat yang dilapisi kertas putih. Alas putih membuat setiap kotoran yang jatuh langsung kelihatan.
Alat utamanya cuma kuas pipih berbulu lembut. Halaman saya buka satu per satu, lalu kuas saya sapukan pelan dari tengah ke luar. Paling lama di lipatan tengah, atau gutter, tempat kotoran mengendap bertahun-tahun.
Dari lipatan itulah keluar butiran hitam yang jumlahnya bikin kaget. Seabad debu, mungkin, yang selama ini terselip di antara halaman yang dulu dibaca setiap hari.
Sambil menyapu, saya sekalian memeriksa: ada halaman yang hilang, sobek, atau lepas dari jilidan? Dari situ saya tahu apa yang harus diperbaiki berikutnya.
Bagian Tersulit Ternyata Menunggu
Setelah halaman dalam bersih, giliran sampul. Sampul depan, belakang, dan halaman pelindungnya saya sapu dengan kuas bergagang kayu. Pelan, karena kertas yang rapuh gampang ikut terkelupas.
Halaman yang robek saya tambal dengan potongan book paper yang warnanya mendekati kertas aslinya. Lem kertas saya oleskan tipis dengan kuas kecil, lalu tambalannya saya tempel perlahan.
Bagian paling rawan adalah engsel, lipatan antara sampul dan halaman pertama. Di situ jilidannya mulai lepas. Lem saya oleskan sepanjang lipatan supaya sampul kembali menyatu dengan isinya.
Terakhir, buku saya tutup dan saya tindih dengan pemberat. Lalu saya menunggu.
Seluruh proses memakan waktu satu hari, dan sebagian besarnya habis untuk menunggu lem kering. Bagian ini tidak bisa dipercepat. Lem yang belum kering bisa membuat halaman saling menempel, dan buku yang sudah bertahan seabad bisa rusak dalam semalam karena saya tidak sabar.
Kalau Kamu Punya Buku Tua di Rumah
Buku ini rusak bukan karena umurnya. Ia rusak karena tempatnya: menempel ke dinding lembap. Artinya, sebagian besar kerusakannya sebenarnya bisa dicegah.
Jadi kalau kamu menyimpan buku tua, jauhkan dari dinding lembap dan kamar mandi. Jangan tambal sobekannya dengan selotip bening, karena lama-lama selotip menguning dan lemnya meninggalkan noda. Jangan juga dijemur di bawah matahari langsung; kertasnya justru makin rapuh.
Kalau ada yang berjamur, pisahkan dulu dari buku lain supaya jamurnya tidak pindah. Bersihkan dengan masker, di ruangan yang berventilasi.
Menunggu Pembaca Berikutnya
Setelah satu hari, buku dari pojok lapak itu kembali utuh. Nodanya masih ada, warnanya tetap kuning tua. Saya sengaja membiarkannya begitu. Yang perlu hilang hanya kotoran yang selama ini menggerogotinya.
Siapa pemilik pertamanya mungkin tidak akan pernah terjawab. Tapi buku yang dulu dibuka setiap hari oleh seseorang, lebih dari seabad lalu, sekarang siap dibuka lagi oleh pembaca berikutnya.
Di Literia, itu yang ingin saya jaga: membuat buku bercerita lebih lama lagi.

