Toko Buku Literia: Buat Buku Bercerita Lebih Lama Lagi
Tulisan dari Nonos Yunof tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku yang menua tak selalu berakhir di gudang, ronsokan atau lapak loak. Literia memilih jalan lain: mengkurasi, merawat, dan merestorasi buku-buku lawas agar bisa kembali dibaca.
Lewat koleksi buku bekas, vintage, dan buku baru terkurasi, Literia mempertemukan bacaan dari berbagai masa dengan pembaca hari ini. Gagasannya sederhana: perjalanan sebuah buku tidak perlu berhenti ketika pemilik pertamanya tak lagi menyimpannya.
Koleksinya mencakup seni dan desain, sejarah, ensiklopedia, sastra, hingga buku anak, dipilih untuk menjangkau pembaca dengan minat yang beragam.
Toko Buku Literia Bermula dari Lapak di Bawah Pohon
Literia tidak lahir dari toko dengan koleksi besar. Pada 2018, pendirinya merintis usaha bernama Adabro di Padang, Sumatera Barat. Pemicunya adalah sulitnya menemukan buku teori desain dan seni rupa di kota itu. Buku yang tersedia kebanyakan membahas teknik dan tutorial, sementara referensi tentang pemikiran dan teori desain masih langka.
Adabro dimulai dari lapak sederhana di bawah pohon. Yang dijual belum buku bekas, melainkan buku catatan yang dirancang, dicetak, dan dijilid sendiri. Buku catatan itu dimaksudkan sebagai modal awal: dari hasil penjualannya, pendirinya berharap bisa membeli buku dan suatu hari membuka toko buku. Kenyataannya, setelah sekitar lima jam berjualan, hanya tiga yang terjual.
Dari titik itu, usaha ini tumbuh lewat media sosial dan perburuan buku ke berbagai tempat, termasuk Jakarta. Semakin banyak pembaca yang mencari bacaan di luar seni dan desain. Permintaan itu mendorong Adabro berganti nama menjadi Literia, agar bisa merangkul lebih banyak jenis buku.
Berburu Buku ke Berbagai Kota
Dari titik itu, usaha ini tumbuh lewat media sosial dan perburuan buku. Pencarian membawa pendirinya ke berbagai kota di Indonesia, Menyusuri pasar loak, lapak-lapak pinggir jalan, hingga toko buku bekas, memeriksa tumpukan demi tumpukan untuk menemukan buku yang masih menyimpan isi, ilustrasi, dan nilai sejarah.
Proses berburu itu tidak berhenti di lokasi. Literia mendokumentasikannya di Instagram @adaliteria, mulai dari perjalanan mencari buku hingga temuan-temuan yang dibawa pulang. Pengikut bisa melihat sendiri dari mana sebuah buku berasal sebelum sampai ke tangan mereka.
Tidak semua buku yang ditemukan langsung layak dijual. Banyak yang harus dibersihkan dan diperbaiki lebih dulu, sebelum akhirnya kembali ke tangan pembaca. Pandemi sempat menghentikan perburuan itu, sebelum dilanjutkan dengan identitas baru: Literia.
Merawat Buku, Memperpanjang Cerita
Bagi Literia, menjual buku bukan akhir dari pekerjaan. Buku-buku lawas dirawat dan direstorasi lebih dulu, dengan kondisi yang dijaga tanpa menghilangkan karakter aslinya, agar buku yang telah menempuh perjalanan panjang tetap layak dibaca kembali.
Membawa Buku Menemui Pembaca
Literia tidak menunggu pembaca datang. Koleksinya dibawa ke berbagai pameran dan bazar, seperti art aarket, serta ke pop-up store di pusat perbelanjaan. Di ruang-ruang yang ramai dikunjungi publik itu, buku-buku kurasi Literia berdampingan dengan karya kreatif lain dan bertemu pengunjung yang mungkin tak sengaja singgah.
Pertemuan langsung ini menjangkau mereka yang mencari bacaan di luar pilihan arus utama toko buku konvensional. Pembaca bisa memegang, membuka, dan menimbang sendiri buku-buku yang usianya jauh melampaui mereka.
Di Literia, Buku Lawas Siap Bercerita Kembali
Bagi Literia, nilai sebuah buku tidak ditentukan oleh tahun terbit atau kondisi fisiknya semata. Isi, konteks sejarah, ilustrasi, dan pengalaman yang menyertainya membuat sebuah buku punya cerita yang layak dibaca. Setelah dirawat dan direstorasi, buku-buku ini siap bercerita kembali.
Gagasan itu dirangkum dalam semangat
Buat Buku Bercerita Lebih Lama Lagi.
Buku bisa terus berpindah tangan, mempertemukan generasi yang berbeda, dan menyampaikan pengetahuan yang tetap relevan melampaui zamannya.

