Konten dari Pengguna

WWF Indonesia Komitmen Dampingi Pembudidaya Tambak Tradisional Udang Windu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdul Salam Atjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para narasumber kegiatan sekolah lapang budidaya udang windu di Suppa, Pinrang (Dok.Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Para narasumber kegiatan sekolah lapang budidaya udang windu di Suppa, Pinrang (Dok.Istimewa)

Yayasan WWF Indonesia kembali memperkuat komitmennya dalam mendukung sektor perikanan berkelanjutan melalui pelaksanaan kegiatan Sekolah Lapang Tambak Tradisional Udang Windu. Kegiatan ini diselenggarakan di Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pada Kamis (22/10/2026).

Peserta sekolah lapang dari unsur pembudidaya, penyuluh dan staf dinas perikanan (dok.istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Peserta sekolah lapang dari unsur pembudidaya, penyuluh dan staf dinas perikanan (dok.istimewa)

Achmad Mustafa, Sustainable Fisheries and Aquaculture Lead, Yayasan WWF Indonesia mengurai program tersebut merupakan bagian dari Aquaculture Improvement Program (AIP) yang diinisiasi oleh WWF Indonesia sejak tahun 2014/2015. Fokus utamanya adalah memfasilitasi peningkatan kapasitas para pemangku kepentingan (stakeholder), khususnya para petambak udang windu tradisional di Kabupaten Pinrang guna mendongkrak produktivitas komoditas unggulan daerah tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar petambak di wilayah ini sempat beralih ke udang vannamei akibat penurunan drastis produksi udang windu dari tambak tradisional. Menanggapi fenomena tersebut, Sekolah Lapang ini hadir sebagai upaya strategis untuk menarik kembali minat pembudidaya serta memberikan edukasi mengenai tata cara budidaya yang aman dan optimal.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari ini dengan hadirkan narasumber antara lain Ir. H. Saenong, praktisi dan dosen Fakultas Perikanan Universitas Muslim Indonesia berfokus pada dua agenda utama, yaitu pembahasan Standar Operasional Prosedur (SOP) persiapan lahan, termasuk metode pengeringan dan pencucian tanah tambak guna meminimalisir zat beracun serta meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang, serta diskusi mengenai strategi penyediaan benur (bibit udang) berkualitas yang dipasok langsung dari pembenihan lokal di Suppa.

Pelaksanaan Sekolah Lapang ini tidak terlepas dari kolaborasi erat yang telah dikoordinasikan sebelumnya dengan Dinas Perikanan Kabupaten Pinrang serta para Penyuluh Perikanan setempat.

Melalui sinergi antara WWF Indonesia, Dinas Perikanan, penyuluh perikanan, petambak tradisional, dan pelaku pembenihan lokal, kegiatan ini diharapkan melahirkan luaran konkret. Beberapa di antaranya adalah kesamaan pemahaman petambak dalam menerapkan SOP persiapan lahan serta tercapainya kesepakatan bersama terkait rantai pasok benur berkualitas demi keberlanjutan budidaya udang windu di Sulawesi Selatan.

Selain tim dari WWF juga hadir Kepala Dinas Perikanan Pinrang beserta staf, Koordinator Penyuluh Perikanan Pinrang bersama tim, perwakilan PT Atina Pinrang, perwakilan pelaku usaha pembenihan udang (hatchery) Pinrang, Pemerinrah setempat dan beberapa perwakilan pembudidaya udang windu kecamatan Suppa.