Karyawan yang Dihargai Akan Lebih Berarti bagi Perusahaan

mahasiswa universitas pamulang program studi manajemen s1
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari abdul syahrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya pernah bertanya pada teman yang resign dari perusahaan besar dengan gaji di atas rata-rata. Alasannya singkat, "Di sana saya hanya dianggap angka, bukan manusia." Di era yang sibuk mengejar AI dan efisiensi, banyak pemimpin lupa hal paling dasar bahwa karyawan bukan mesin. Gaji memang bisa membuat orang datang, tapi hanya penghargaan yang membuat orang bertahan
Karyawan yang dihargai itu ingin didengarkan, bukan sekadar disuruh mendengarkan. Cukup dengan kalimat "Menurut kamu bagaimana?" ia merasa idenya ada harganya. Mereka juga ingin dilihat prosesnya, bukan hanya hasilnya. Perusahaan yang hanya mengingat karyawan saat target gagal, tapi melupakan lembur dan pengorbanan saat target tercapai, akan kehilangan orang-orang yang bekerja dengan jujur.
Yang paling penting adalah memperlakukan mereka sebagai manusia, bukan alat produksi. Atasan yang chat jam 11 malam minta revisi, marah di depan umum, dan pelit mengucapkan terima kasih, adalah alasan utama kenapa karyawan pintar pergi duluan. Padahal kata "terima kasih, kerja kamu sangat membantu" tidak butuh biaya, tapi dampaknya bisa membuat seseorang bertahan bertahun-tahun.
Dampaknya sangat nyata. Karyawan yang merasa dihargai tidak akan hitung-hitungan, ia akan bekerja karena rasa memiliki, bukan karena takut. Biaya merekrut orang baru 3 kali lebih mahal daripada mempertahankan orang lama. Pada akhirnya perusahaan hebat tidak dibangun oleh sistem yang canggih, tapi oleh karyawan yang merasa dirinya berarti bagi perusahaan.
Ditulis Oleh: Abdul Syahrohman Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen S1
