Konten dari Pengguna

ASEAN Perlu Pendongeng yang Handal

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com

Selama ribuan tahun, kawasan Asia Tenggara telah menjadi tempat bertemunya peradaban besar. Selat Malaka, jalur rempah di Nusantara, hingga pusat keagamaan di Angkor, kawasan ini menyimpan sejarah yang panjang tentang perdagangan, toleransi, dan keberagaman budaya. Meski diwarnai konflik di masing-masing wilayah, ASEAN secara keseluruhan menjadi kawasan yang relatif damai jika dibandingkan dengan wilayah lain secara geopolitik. Namun, walau Asia Tenggara memiliki narasi yang damai, majemuk, dan resilien, ironisnya narasi ini kurang tersorot di panggung global. Dunia lebih mengenal American Dream, British Invasion, Belt and Road Iniative, dan Korean Wave. Di tengah dunia yang semakin ditentukan narasi, justru ASEAN mengalami krisis representasi, maka dari itu ASEAN perlu pendongeng yang handal.

Dalam era informasi yang mengalir begitu cepat, kekuatan tidak hanya terletak pada militer dan ekonomi, namun juga kepada siapa yang dapat membentuk cara berpikir dunia. Narasi telah menjadi alat strategis yang berguna untuk membangun pengaruh. Negara-negara besar tidak hanya memasarkan produk dan jasa meraka, tetapi menjual cerita tentang kemajuan, harapan, dan peradaban. ASEAN, sayangnya tidak punya kisah yang kuat untuk ditampilkan.

ASEAN yang memiliki istilah seperti centrality atau non-interference, terdengar seperti teknokratik dan tidak menyentuh hati masyarakat pada umumnya. ASEAN kehilangan koneksi generasi muda, bahkan diantara warga negara anggotanya sendiri. Tanpa narasi yang kuat, ASEAN hanya menjadi entitas birokratis tetapi dingin, padahal dalam sebuah kawasan yang begitu beragam, suatu narasi bisa menjadi perekat untuk membangun kebersamaan.

Negara-negara anggota justru lebih aktif mempromosikan identitas nasional masing-masing. Indonesia dengan diplomasi budaya, Thailand dengan thaienthunya, atau Malaysia dengan diplomasi pendidikannya. Tetapi tidak ada cerita bersama yang menyatukan itu semua dalam bingkai “Ini ASEAN”. ASEAN bukan hanya butuh juru bicara, tapi juga pendongeng yang merupakan sosok atau institusi yang mampu menyampaikan kisah kawasan ini dengan caa yang menggugah dan relevan.

Pendongeng ASEAN bisa datang darimana saja seperti diplomat yang mampu bicara di forum internasional, penulis yang menggambarkan pengalaman antarbudaya Asia Tenggara, musisi yang memadukan harmoni Melayu, Khmer, dan Tagalog, hingga influencer muda yang menceritakan pengalaman studi lintas negara ASEAN. Dan ASEAN perlu membentuk ekosistem yang mendukung seperti contohnya ASEAN Storytelling Fellowship, memperkuat lembaga budaya regional yang dapat menyelenggarakan festival lintas negara, hingga mengembangkang media yang mapan. ASEAN tidak bisa terus-terusan bertumpu pada pertemuan atau konfrensi tingkat tinggi yang berakhir dibaca oleh para diplomat-diplomat saja.

Dengan narasi yang kuat, ASEAN bisa menjadi kisah inspiratif tentang bagaimana kawasan dengan sejarah kolonialisme dan konflik bisa bersatu dan berkembang tanpa harus menjadi satu negara seperti Uni Eropa. ASEAN bisa jadi role model kolaborasi tanpa penyeragaman. Dan dalam lanskap global yang penuh dengan perebutan opini dan persepsi, ASEAN harus mulai mendongeng. Karena yang akan diingat bukan hanya siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling bisa menginspirasi.