Konten dari Pengguna

Rivalitas tak terhindarkan AS-Cina melalui konsep Regional Hegemon

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Abid Syamsul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Mohammed Hassan dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Mohammed Hassan dari Pixabay

Pada tanggal 24-25 September, 2026 Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping melakukan pertemuan di Gedung Putih. Pada pertemuan tersebut, dua pemimpin dari dua negara paling berpengaruh di dunia saat ini setidaknya berfokus pada 5 isu penting yaitu Perdagangan, Kecerdasan buatan, Taiwan, Iran, dan Ukraina. Namun, apakah pertemuan tersebut menandakan suatu usaha antara kedua negara untuk memperkuat hubungan kerja sama dan menurunkan level konflik yang selama ini diprediksi akan terus melonjak cepat ataupun lambat? Menurut hemat kami, pertemuan tersebut tidak akan menghasilkan kesepakatan yang berarti terhadap 5 isu utama yang dibahas. Hal ini di dasari oleh konsep Regional Hegemon yang secara struktural tidak menginginkan adanya Regional Hegemon lain di sekitar mereka.

Konsep tersebut menghasilkan pemahaman bahwa tujuan utama suatu negara adalah untuk menjadi Global Hegemon. Namun, dikarenakan menjadi Global Hegemon hampir mustahil akibat beberapa faktor yang sangat menghambat proyeksi kekuatan suatu negara hingga ditingkat global, maka tujuan yang paling memungkinkan untuk setidaknya mendekati level Global Hegemon adalah menjadi Regional Hegemon. Setelah suatu negara menjadi Regional Hegemon yaitu mendominasi area regional mereka sendiri, negara tidak bolerh berhenti sampai di situ saja. Regional Hegemon juga harus melakukan manufer-manufer tingkat lanjut untuk mencapai tujuan selanjutnya, yaitu untuk mencegah negara lain di regional lain untuk menjadi Regional Hegemon karena Regional Hegemon tidak mengiginkan adanya eksistensi dari Regionsl Hegemon lainnya. Maka dari itu, Regional Hegemon akan berusaha untuk menjaga regional lain agar terpisah menjadi beberapa negara dan tidak di kuasai oleh satu negara tertentu.

Konsep ini diperkenalkan oleh Professor John J. Mearsheimer dalam Teori Offensive Realism yang ia populerkan pada tahun 2001 melalui bukunya “The Tragedy of Great Power Politics.” Konsep ini dapat dilihat melalui hubungan Amerika Serikat dan Cina. Cina yang berusaha untuk menjadi Regional Hegemon di Asia, harus menghadapi hadangan Amerika yang berusaha menahan proyeksi kekuatan Cina di Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan di Asia Timur itu sendiri melalui kebijakan luar negeri langsung maupun melalui negara-negara aliansinya.

Simbolisme Yang Terlihat Kuat, Namun Minim Substansi

Pertemuan kedua pemimpin tersebut direspon berbagai pengamat secara skeptis, Center of Security and International Studies dan Professor John J. Mearsheimer memiliki kesamaan pemahaman bahwa pertemuan tersebut termasuk 5 isu utama tidak akan menghasilkan kesepakatan yang berarti. Kami akan menganalisis 5 isu tersebut kecuali isu perdagangan.

Pada isu Taiwan, Cina memiliki permintaan kepada Amerika untuk menghentikan semua pengiriman senjata ke Taiwan yang pada saay yang sama, Amerika sedang berpikir untuk mengirim paket senjata senilai 14 Triliun dolar ke Taiwan. Di sisi lain, pertanyaan mengenai kemerdekaan Taiwan. Cina menginginkan Amerika untuk memainkan “Hardball” kepada Taiwan hingga pada titik di mana Taiwan tidak dapat mendeklarasikan kemerdekaan dari Cina. Amerika terlihat berusaha untuk menghindari isu ini melalui pernyataan Trump yang mengatakan bahwa “tidak banyak waktu digunakan untuk membahas Taiwan dan segala nya baik-baik saja”. Menekankan bahwa Amerika tidak mau mengambil “Bait” dari Cina karena yakin bahwa mengubah kebijakan terhadap Taiwan akan menurunkan kredibilitas dan daya gentar Amerika itu sendiri (Mearsheimer, 2026) (CSIS, 2026).

Pada isu Iran, Amerika lah yang memiliki permintaan kepada Cina mengenai beberapa hal. Pertama, menginginkan Cina untuk memberikan tekanan kepada Iran agar Iran mau untuk menerima syarat-syarat Amerika agar dapat mencapai kesepakatan damai. Kedua, Amerika ingin agar Cina berhenti untuk mengirimkan intel, senjata dan semua bentuk bantuan militer kepada Iran. Namun jelas Cina menolak permintaan tersebut (Mearsheimer, 2026). Cina bahkan memiliki kemungkinan besar untuk membantu Iran membangun kembali kekuatan militer konvensionalnya (CSIS, 2026).

Pada isu Ukraina, Amerika meminta bantuan Cina untuk menghentikan Perang atau minimal mencapai kesepakatan gencatan senjata melalui pemberian tekanan oleh Cina kepada Rusia. Tentu saja Cina menolak permintaan tersebut (Mearsheimer, 2026).

Pada isu Kecerdasan Buatan (AI), banyak pihak yang berharap bahwa kesepakatan akan terjadi, namun harapan tersebut pupus dengan Trump yang menegaskan bahwa akan melanjutkan dinamika kompetisi kedua belah pihak di samping kedua pihak yang sama-sama khawatir pada isu AI yang kabur dari kendali para Insinyur. Padahal kedua pihak dapat merumuskan kerja sama terhadap keselamatan dan keamanan AI tanpa mengorbankan kemampuan teknologi mereka (CSIS, 2026). Kedua pihak menunjukkan intensi yang sama untuk tidak membatasi pengembangan AI masing-masing (Mearsheimer, 2026).

Tidak adanya kesepakatan yang berarti dari pertemuan kedua pihak ini jelas di pengaruhi oleh konsep Regional Hegemon yang terimplementasikan dengan sangat pas. Di samping usaha di atas kerta yang mereka lakukan untuk saling menguntungkan, Amerika tetap tidak bisa lepas dari tujuan utama mereka untuk menahan Cina agak tidak menjadi hegemon di Asia Timur dengan cara membuat Cina berhenti untuk memproyeksikan pengaruhnya lebih luas. Di sisi lain, ina juga akan berusaha untuk mencapai tujuannya untuk menjadi Regional Hegemon dengan terus memperluas pengaruhnya di Timur Tengah dan Eurasia.