HokBen dan Kenangan Masa Kecil yang tidak pernah Benar-Benar Pergi

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Dan Desain, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari ABIZAR HAFIZ SADEWA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

HokBen dan Kenangan Masa Kecil yang tidak terlupakan
HokBen bukan sekadar tempat makan cepat saji, tetapi juga bagian dari kenangan masa kecil yang sering kembali saat kita dewasa.
Bagi banyak orang, HokBen bukan sekadar tempat makan. Ia adalah potongan kecil dari masa kecil yang diam-diam tertinggal di belakang waktu. Mungkin kamu masih ingat bagaimana rasanya duduk di meja restoran bersama keluarga, menunggu makanan datang dengan rasa sabar yang berbeda dari sekarang. Tidak terburu-buru, tidak sibuk, hanya menunggu dengan perasaan yang sederhana.
Saat itu, satu kotak makanan dari HokBen terasa seperti hadiah besar. Chicken katsu, chicken roll, atau nasi hangat di dalam kotaknya bukan sekadar makanan. Itu adalah bentuk perayaan kecil yang jarang terjadi. Biasanya ada alasan khusus. Nilai bagus, ulang tahun, atau sekadar akhir pekan yang dianggap pantas untuk “makan enak”.
Yang membuatnya berkesan bukan hanya makanannya. Tapi suasananya. Mall yang terasa luas, suara langkah kaki di lantai, eskalator yang naik turun tanpa henti, dan keluarga yang duduk di satu meja tanpa gangguan ponsel seperti sekarang. Semua itu membentuk ingatan yang sekarang terasa jauh lebih hangat daripada yang kita sadari dulu.
Lucunya, kita tidak pernah benar-benar menyadari bahwa momen itu sedang menjadi kenangan. Kita hanya menjalani saja. Kita makan, kita tertawa kecil, lalu pulang. Sederhana. Tidak ada yang terasa istimewa saat itu. Tapi waktu punya cara bekerja yang berbeda. Ia mengubah hal yang sederhana menjadi sesuatu yang mahal ketika kita tidak bisa mengulanginya lagi dengan cara yang sama.
Sekarang, ketika kita kembali ke HokBen sebagai orang dewasa, rasanya tidak sepenuhnya sama. Makanannya mungkin masih sama, tapi kita yang berubah. Kita datang dengan pikiran yang lebih penuh, hari-hari yang lebih cepat, dan beban yang lebih banyak. Namun ada momen kecil ketika rasa itu muncul kembali. Bukan di lidah, tapi di ingatan.
Seperti sepotong kecil masa lalu yang tiba-tiba muncul tanpa diminta.
HokBen pada akhirnya bukan hanya soal makanan cepat saji. Ia menjadi semacam pintu kecil menuju masa ketika hidup terasa lebih ringan, ketika kebahagiaan tidak serumit sekarang, dan ketika satu momen sederhana bisa terasa cukup untuk membuat hari menjadi baik.
Dan mungkin, kita tidak benar-benar merindukan makanannya. Kita merindukan diri kita yang dulu.
