Generasi Z dan Kebutuhan di Balik Demam Hip-hop Dangdut
Tulisan dari Adam Raihan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba buka TikTok atau Instagram, lalu geser layar beberapa kali, dan kita bisa saja menemukan video anak muda yang memakai lagu dangdut bernuansa hip-hop sebagai suara latar. Salah satu lagu yang sering dipakai adalah “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” karya Tenxi, Jemsii, dan Naykilla, yang
dirilis pada 20 Desember 2024. Padahal, perpaduan dangdut dan rap sebenarnya bukan hal baru, sebab penyanyi dangdut Alam sudah lebih dulu memopulerkan unsur rap lewat lagu “Mbah Dukun”, dan grup NDX AKA dari Yogyakarta pun ramai dibicarakan sekitar 14 tahun sebelum “Garam & Madu” muncul. Gabungan kedua aliran inilah yang kini dikenal dengan nama hip-hop dangdut.
Lagu ini bisa menyebar luas berkat media sosial. Dalam sebulan saja, video musiknya ditonton lebih dari 31 juta kali, dan lagunya sempat menempati posisi puncak tangga lagu Spotify Top 50 Indonesia. Potongan lagunya juga dipakai sebagai suara latar video pendek, dan banyak anak muda ikut membuat video menggunakan lagu tersebut.
Pengaruhnya tidak berhenti di situ. Tahun 2025 disebut sebagai tahun hip-hop dangdut, dan pada 19 November 2025, lagu ini meraih penghargaan Karya Produksi Terbaik di Anugerah Musik Indonesia ke-28. Dari sini muncul pertanyaan yang menarik: mengapa Generasi Z, yang setiap hari dibanjiri konten, begitu tertarik pada hip-hop dangdut? Apakah mereka hanya ikut-ikutan, atau ada kebutuhan yang sebenarnya sedang mereka penuhi?
Pertanyaan itu bisa dijawab dengan teori uses and gratifications, atau teori penggunaan dan kepuasan, yang dikembangkan oleh Elihu Katz, Jay Blumler, dan Michael Gurevitch (1973, 1974). Teori ini mengajak kita mengubah cara bertanya, dari apa yang dilakukan media terhadap orang, menjadi apa yang dilakukan orang dengan media.
Ambil contoh memilih menu di kantin. Tidak ada yang memaksa kita membeli es teh atau kopi, sebab kita memilih sesuai kebutuhan, entah sedang haus, mengantuk, atau hanya ingin sesuatu yang manis. Menurut teori ini, audiens memilih media dengan cara yang sama, yaitu dengan mencari hiburan, meluapkan perasaan, mencari teman, menunjukkan jati diri, atau menguatkan nilai yang mereka percayai (Katz, Blumler, dan Gurevitch, 1973). Jika teori ini benar, pilihan Generasi Z pada hip-hop dangdut pasti punya alasan, jadi mari kita lihat apa saja alasannya.
Kita mulai dari lagunya. “Garam & Madu” berbeda dari lagu dangdut pada umumnya karena temponya lebih lambat daripada lagu hip-hop dangdut sebelumnya dan nuansanya ceria, tidak seperti lagu patah hati yang membuat sebagian pendengar dangdut merasa bosan. Liriknya pun memakai tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Jawa.
Video musiknya juga sederhana, memperlihatkan para penyanyi yang bersantai di rumah bersama teman. Suasana ini terasa dekat dengan Generasi Z yang sering dijuluki kaum rebahan, dan sikap cogil-cegil dalam liriknya, yaitu cuek terhadap aturan dan tidak berbelit-belit, juga cocok dengan bahasa gaul mereka.
Tentu, tidak semua orang menyukainya. Sebagian pendengar menilai liriknya terlalu vulgar, sebagian penggemar dangdut merasa unsur dangdutnya terlalu sedikit, dan ada pula yang menyebutnya “musik kabupaten”. Namun, lagu ini tetap melesat, jadi ada banyak pendengar yang memilihnya dengan sadar meski dikritik.
Sekarang saatnya menguji teorinya. Jika audiens memang memilih lagu sesuai kebutuhan, data tadi seharusnya menunjukkan kebutuhan apa yang dipenuhi oleh hip-hop dangdut, dan ternyata ada tiga kebutuhan yang terlihat.
Kebutuhan pertama adalah hiburan dan meluapkan perasaan. Setelah lama akrab dengan lagu patah hati, pendengar mendapat jeda lewat lirik yang lebih ceria, dan hal ini sejalan dengan teori karena media dipakai untuk menyeimbangkan suasana hati.
Kebutuhan kedua adalah menunjukkan jati diri. Video santai di rumah dan sikap cogil-cegil terasa mewakili gambaran diri Generasi Z, sedangkan lirik tiga bahasa terasa dekat dengan keseharian mereka. Dengan memutar atau membagikan lagu ini, mereka seolah berkata, “ini aku”.
Kebutuhan ketiga adalah rasa kebersamaan. Lebih dari 31 juta penayangan dalam sebulan dan banyaknya video buatan pengguna, menunjukkan bahwa orang ingin ikut dalam percakapan yang sama, dan teori ini memang menyebut keinginan untuk tetap menjadi bagian dari kelompok sebagai salah satu alasan orang memakai media.
Perbedaan tanggapan antarpendengar juga menguatkan teori ini. Penggemar dangdut dan yang bukan penggemar menilai lagu yang sama dengan cara berbeda, sebagaimana dinyatakan oleh Blumler dan Katz (1974), bahwa orang yang berbeda dapat memakai pesan yang sama untuk tujuan yang berbeda.
Meski begitu, teori ini tidak menjelaskan semuanya. Menurut penulis, teori ini terlalu menekankan pilihan individu, padahal pada kasus hip-hop dangdut, aplikasi media sosial ikut menentukan apa yang sampai ke pengguna karena lagu muncul sebagai potongan pendek di linimasa. Selain itu, Generasi Z tidak hanya memilih, tetapi juga mengubah lagu menjadi bahan video mereka sendiri, sehingga mereka menjadi penonton sekaligus pembuat konten. Peran ganda ini belum tergambar dalam teori yang lahir pada masa radio dan televisi.
Jadi, teori uses and gratifications terbukti dapat menjelaskan mengapa Generasi Z tertarik pada hip-hop dangdut, sebab mereka memilih lagu ini karena kebutuhan akan hiburan, jati diri, dan kebersamaan terpenuhi. Hanya saja, teori ini perlu dilengkapi agar mampu menjelaskan peran media sosial dan kenyataan bahwa audiens kini juga menjadi pembuat konten. Media sosial memang mempercepat penyebarannya, tetapi keputusan akhir tetap ada di tangan pendengar.
(Artikel ini ditulis oleh Adam Raihan Musyaffa, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.)

