Konten dari Pengguna

“Aku Tidak Rasis, Kok!”

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Dian Paramitha Prasetyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika Stereotipe Tersembunyi Bekerja Tanpa Kita Sadari

Seberapa sering kita mendengar kalimat-kalimat yang terdengar akrab dalam percakapan sehari-hari, baik berupa pujian, basa-basi, maupun candaan, seperti berikut ini?

“Kamu bicaranya halus sekali, tidak seperti orang dari daerahmu ya”

"Matanya sipit tapi kok nggak pintar jualan sih?"

“Kamu orang Timur ya, wah tapi kamu pintar sekali”

Bahkan ketika ada yang merasa tersinggung, respons yang muncul sering kali terdengar sederhana:

“Jangan terlalu sensitif ah, aku kan cuma bercanda.”

Sumber: Gambar dibuat oleh ChatGPT

Tetapi apakah kemudian kalimat-kalimat seperti itu secara otomatis tidak menjadi masalah ketika tidak dimaksudkan untuk menyakiti?

Itulah sebabnya banyak orang merasa dirinya bukan orang yang rasis. Mereka menganggap rasisme hanya terjadi ketika seseorang secara terbuka menunjukkan kebencian terhadap kelompok ras atau etnis tertentu.

Padahal, prasangka juga dapat muncul melalui asumsi, kebiasaan, dan interaksi sehari-hari yang dianggap wajar. Seseorang bahkan bisa meyakini dirinya menghargai keberagaman, tetapi tanpa sadar menilai orang lain berdasarkan identitas kelompoknya.

Prasangka yang Bersembunyi di Balik Hal yang Dianggap Wajar

Indonesia memiliki keberagaman etnis, bahasa, agama, dan tradisi. Namun, keberagaman tidak otomatis menghilangkan prasangka. Dalam kehidupan sehari-hari, orang masih kerap diberi label berdasarkan asal daerah, warna kulit, ciri fisik, atau etnisnya.

Misalnya, kelompok tertentu dianggap lebih pandai berdagang, keras, malas, kaya, atau tidak dapat dipercaya. Masalah muncul ketika ciri sebagian orang kemudian digeneralisasi kepada seluruh kelompok.

Prasangka juga tidak selalu berupa hinaan kasar. Ia bisa muncul melalui pujian yang menggeneralisasi, pertanyaan yang terus menyoroti identitas seseorang, atau anggapan bahwa seseorang bukan bagian sepenuhnya dari masyarakat tempat ia tinggal.

Mengapa Kita Bisa Melakukannya Tanpa Merasa Rasis?

Stereotipe adalah salah satu penjelasannya. Stereotipe merupakan keyakinan atau generalisasi tentang karakteristik anggota suatu kelompok yang terbentuk melalui pola asuh, pengalaman, pergaulan, dan informasi yang berulang di lingkungan sosial.

Manurut Devine (1989), stereotipe bisa muncul secara spontan dalam pikiran tanpa kita sadari. Namun, bukan berarti kita langsung mempercayainya. Kita masih bisa berpikir ulang dan mengendalikan respons kita. Akan tetapi, jika tidak disadari dan diperiksa, stereotipe tersebut dapat memengaruhi cara kita menilai dan memperlakukan orang lain.

Misalnya, seorang perekrut menganggap pelamar dengan logat tertentu kurang profesional. Ia mungkin merasa menilai secara objektif, padahal penilaiannya dipengaruhi oleh standar komunikasi kelompoknya sendiri. Hal serupa terjadi ketika seseorang menganggap candaan tentang ciri fisik sebagai hal wajar karena terbiasa mendengarnya, meskipun candaan itu dapat membuat orang lain merasa berbeda.

Karena itu, pikiran otomatis, keyakinan yang sengaja dipertahankan, dan tindakan diskriminatif perlu dibedakan. Ketiganya berkaitan, tetapi tidak sama. Menyadari adanya stereotipe bukanlah alasan untuk menghakimi diri sendiri, melainkan merupakan kesempatan untuk memeriksa apakah asumsi kita sudah adil dan sesuai dengan kenyataan.

“Cuma Bercanda”: Ketika Niat Tidak Selalu Sejalan dengan Dampak

Komentar bernada stereotip sering dibenarkan dengan alasan tidak ada niat buruk. Padahal, seseorang mungkin bermaksud bercanda, tetapi komentarnya justru membuat orang lain merasa direndahkan atau tidak diterima.

Hal ini berkaitan dengan mikroagresi (microaggression), yaitu ucapan, tindakan, atau pesan sehari-hari, baik yang disengaja maupun tidak, yang menyampaikan pesan negatif, merendahkan, atau meniadakan pengalaman seseorang berdasarkan identitas kelompoknya (Sue et al., 2007).

Lui dan Quezada (2018) dan Osman et al. (2024) menunjukkan bahwa mikroagresi berkaitan dengan tekanan psikologis, termasuk stres dan emosi negatif. Sementara itu, Pamoso et al. (2025), menemukan bahwa sebagian orang memilih menertawakan atau mengabaikan stigma untuk menghindari konflik. Respons ini bukan berarti mereka tidak terluka, melainkan dapat menjadi cara menjaga hubungan sosial.

Namun, tentu saja tidak semua komentar yang menyinggung otomatis merupakan mikroagresi. Dampak komentar tidak dapat dinilai hanya dari reaksi sesaat penerimanya. Kita juga perlu mendengarkan, memahami, dan mempertimbangkan konteks, pola interaksi, relasi kuasa, serta pengalaman penerima, dan mengevaluasinya secara terbuka, tanpa langsung menganggapnya sebagai tindakan rasis.

Belajar Menghentikan Stereotipe, Dimulai dari Diri Sendiri

Mengurangi rasisme terselubung tidak cukup hanya dengan menghindari kata-kata kasar. Kita juga perlu memeriksa asumsi dan memperbaiki cara berinteraksi.

Pertama, periksa generalisasi. Ketika kita menganggap seseorang memiliki sifat tertentu karena etnis atau asal daerahnya, tanyakan apakah penilaian itu berdasarkan perilaku individu atau stereotipe yang diwariskan lingkungan.

Kedua, dengarkan dampak, bukan hanya membela niat. Jika komentar kita menyakiti orang lain, cobalah memahami dampaknya, meminta penjelasan, dan memperbaiki perilaku tanpa langsung merasa diserang.

Ketiga, koreksi candaan yang merendahkan. Kalimat sederhana seperti, “Mungkin kita jangan menggeneralisasi satu kelompok, ya,” dapat membuka ruang refleksi tanpa memperuncing konflik.

Keempat, bangun interaksi yang setara antar kelompok. Kenali orang sebagai individu, dengarkan pengalaman mereka, dan bekerja sama untuk mengurangi stereotipe dengan saling menghormati.

Mengurangi prasangka adalah tanggung jawab bersama. Keluarga, sekolah, tempat kerja, media, dan masyarakat perlu membantu menghentikan stereotipe dan memperbaiki perilaku yang merugikan orang lain.

Menjadi Inklusif Berarti Bersedia Berefleksi

Keberagaman tidak cukup dirayakan melalui slogan atau festival budaya. Keberagaman juga perlu hadir dalam cara kita berbicara, menilai, dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tidak harus berniat membenci untuk ikut mempertahankan prasangka. Karena itu, melawan rasisme bukan hanya tentang meyakini bahwa diri kita bukan rasis, tetapi juga berani memeriksa asumsi yang selama ini dianggap wajar.

Pertanyaannya bukan semata-mata, “Apakah saya orang yang rasis?” Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah, “Apakah cara saya memperlakukan orang lain membuat mereka merasa dihargai sebagai individu, atau justru membatasi mereka pada stereotipe kelompoknya?”

Perubahan dapat dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan, mengoreksi diri, dan tidak menjadikan identitas orang lain sebagai bahan generalisasi. Sebab, masyarakat yang inklusif bukan masyarakat yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan masyarakat yang bersedia mengenali kesalahan dan memperbaikinya.