Aku Sebelum Aku: Ketika Masa Lalu yang Belum Selesai Terbawa ke Masa Kini

Mahasiswi UNS Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari adinda aurelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Judul Film: Aku Sebelum Aku
Tahun Rilis: 2026
Sutradara: Gina S. Noer
Penulis: Gina S. Noer & Salman Aristo
Produser: Sigit Pratama
Rumah produksi: Wahana Kreator Nusantara
Pemeran: Bima Sena, Ringgo Agus Rahman, Widuri Puteri, Prastiwi Dwiarti
Genre: Drama, coming-of-age
Durasi: 127 menit
Platform: Netflix

Masa lalu memang sudah berlalu. Namun, apakah semua hal yang terjadi di masa lalu benar-benar dapat kita tinggalkan begitu saja?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal yang terus terlintas setelah menyaksikan Aku Sebelum Aku. Film drama Indonesia garapan Gina S. Noer ini tidak hanya bercerita tentang hubungan antara seorang anak dan ayahnya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengalaman masa lalu yang belum selesai dapat memengaruhi cara seseorang menjalani kehidupan di masa kini, bahkan cara ia memperlakukan orang-orang yang disayanginya.
Aku Sebelum Aku merupakan film Indonesia yang disutradarai oleh Gina S. Noer dan ditulis oleh Gina S. Noer bersama Salman Aristo. Ceritanya berpusat pada Jati, seorang siswa SMP berprestasi yang hidup di bawah tekanan ayahnya, Jaya. Ketika tekanan tersebut mulai memengaruhi kehidupan Jati, hubungan keduanya perlahan membawa mereka pada persoalan keluarga dan masa lalu yang selama ini belum benar-benar terselesaikan.
Pada awalnya, Jaya dapat terlihat sebagai sosok ayah yang terlalu keras. Ia menuntut Jati untuk selalu berprestasi dan menjadi anak yang sempurna. Namun, semakin cerita berkembang, penonton diperlihatkan bahwa tuntutan tersebut tidak muncul begitu saja. Jaya memiliki pengalaman masa lalu yang membentuk cara pandangnya terhadap keluarga dan kehidupan. Ia tidak ingin Jati mengalami hal buruk yang pernah ia alami. Ia ingin menjadi ayah yang berbeda dari sosok ayah yang pernah ia kenal.
Di sinilah Aku Sebelum Aku menghadirkan ironi yang menurut saya menjadi kekuatan utama film ini:
Keinginan untuk menjadi lebih baik tidak selalu berarti seseorang sudah berdamai dengan masa lalunya.
Jaya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik kepada Jati, tetapi keinginan tersebut justru diwujudkan melalui tuntutan yang membuat Jati merasa harus selalu sempurna. Bagi Jaya, tuntutan itu mungkin merupakan bentuk perlindungan. Namun bagi Jati, semua itu terasa sebagai tekanan. Ia tidak hanya ingin menjadi anak yang berprestasi, tetapi juga ingin diterima sebagai dirinya sendiri.
Konflik tersebut membuat hubungan Jaya dan Jati terasa lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara ayah yang keras dan anak yang tertekan. Jaya sebenarnya memiliki niat untuk melindungi anaknya, tetapi cara yang ia pilih lahir dari ketakutan dan pengalaman yang belum selesai dalam dirinya. Sementara itu, Jati harus menghadapi dampak dari sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ia pilih.
Menurut saya, film ini menunjukkan bahwa luka dapat diwariskan tanpa seseorang benar-benar bermaksud mewariskannya. Cara orang tua memandang kehidupan, menghadapi masalah, berkomunikasi, hingga memperlakukan anak dapat dipengaruhi oleh apa yang pernah mereka alami. Ketika pengalaman tersebut belum diterima atau dimaafkan, masa lalu dapat terus hadir dalam bentuk yang berbeda.
Jaya tidak ingin menjadi seperti ayahnya. Namun, karena belum sepenuhnya berdamai dengan apa yang pernah terjadi dalam hidupnya, ia justru membawa sebagian luka tersebut ke dalam cara ia membesarkan Jati. Ia tidak melakukan kekerasan fisik, tetapi tuntutan untuk selalu menjadi anak yang sempurna tetap dapat menjadi tekanan.
Perjalanan Jaya kemudian menjadi menarik karena perubahannya bukan hanya tentang berhenti menjadi ayah yang keras, tetapi tentang keberaniannya menghadapi sesuatu yang selama ini membentuk dirinya. Ketika ia mulai menerima masa lalu dan Jati apa adanya, perubahan tersebut terasa sebagai proses berdamai dengan diri sendiri.
Detail Kecil yang Menjadi Benang Merah
Salah satu kelebihan Aku Sebelum Aku bagi saya adalah bagaimana Gina S. Noer menghadirkan detail-detail kecil yang pada awalnya tampak sederhana, tetapi kemudian memiliki fungsi dalam menghubungkan satu bagian cerita dengan bagian lainnya.
Salah satunya adalah keberadaan lebah.
Pada awalnya, lebah mungkin terlihat seperti bagian kecil dari kejadian dalam film. Lebah tersebut dikejar oleh Jaya, Jati dan Asih (Ibu Jati) berusaha menangkap atau membunuhnya di segala penjuru rumah. Ketika Jaya menyebut bahwa hewan tersebut bukan tawon, melainkan lebah, muncul pertanyaan mengenai dari mana ia mengetahui hal tersebut.
Detail sederhana itu kemudian mengarah pada masa lalu Jaya dan keluarganya. Jaya dan kakaknya ternyata pernah memiliki keinginan untuk mengelola omah lebah. Dengan demikian, lebah yang sebelumnya tampak sebagai bagian kecil dari sebuah adegan ternyata menjadi benang merah yang menghubungkan Jaya yang sekarang dengan masa lalu keluarga Jaya.
Hal serupa juga terasa ketika Jati mulai menelusuri kehidupan ayahnya. Dari cerita keluarganya, ia mengetahui bahwa sifat keras bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul pada diri Jaya. Ada sejarah panjang dalam keluarganya yang telah berlangsung lintas generasi.
Gambaran tersebut menjadi semakin kuat ketika Jati masuk ke dalam gua yang berkaitan dengan masa lalu keluarganya. Di sana, terdapat momen ketika Jati seolah berada dalam suatu lorong gua dan berhadapan dengan jejak generasi keluarganya. Sosok buyut, kakek, Jaya sebagai ayahnya, dan paman (Uwa Geni) hadir dalam satu rangkaian visual.
Bagi saya, adegan tersebut seperti menunjukkan bahwa Jaya tidak tiba-tiba menjadi seorang ayah yang keras. Ada kehidupan dan pengalaman yang membentuk dirinya. Ia merupakan bagian dari sejarah keluarga yang panjang, termasuk luka yang belum mampu ia terima dan maafkan.
Detail-detail tersebut membuat film terasa lebih terhubung. Gina tidak selalu menyampaikan maksud cerita secara langsung melalui dialog, tetapi memberikan ruang bagi penonton untuk memperhatikan dan menemukan hubungan antara satu detail dengan detail lainnya.
Visual yang Mengikuti Emosi Cerita
Dari sisi visual, Aku Sebelum Aku juga menjadi salah satu hal yang paling menarik perhatian saya. Saya bukan orang yang memahami proses produksi film secara profesional, tetapi sebagai penonton, saya merasa gaya pengambilan gambarnya terlihat sangat terencana dan presisi. Banyak adegan terasa estetik sekaligus tetap mendukung suasana cerita.
Penggunaan warna dan filter juga mampu mengikuti suasana dari setiap bagian film. Salah satu yang paling menarik adalah ketika cerita membawa penonton kembali pada masa lalu Jaya. Visual yang memberikan kesan seperti rekaman dari masa lampau terasa sangat sesuai dengan suasana adegan. Penggunaan karakteristik visual seperti kamera lama membuat perpindahan waktu terasa lebih kuat dan mempertegas bahwa masa lalu masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan Jaya.
Bagi saya, kekuatan visual tersebut membuat film terasa lebih dari sekadar cerita yang disampaikan melalui dialog. Cara kamera mengambil sebuah adegan ikut membantu membangun emosi dan suasana yang dialami karakter.
Kekurangan yang Terasa sebagai Penonton
Namun, bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan.
Salah satu hal yang saya rasakan adalah pada beberapa dialog yang tampaknya direkam atau diisi ulang setelah proses pengambilan gambar (Dubbing). Sebagai penonton, pada beberapa bagian saya merasa suara yang terdengar belum selalu menyatu dengan adegan yang ditampilkan. Bukan karena dialognya tidak jelas, melainkan karakteristik suara pada beberapa momen terasa kurang pas dengan kondisi visual, terutama jika dilihat dari jarak dan posisi karakter terhadap kamera.
Hal tersebut cukup saya rasakan pada salah satu adegan ketika Jati berbicara dengan salah satu guru kembar sebelum adegan Jati berdoa. Pada bagian tersebut, suara terasa sedikit kurang menyatu dengan visual adegan.
Saya tidak memahami secara teknis bagaimana proses perekaman maupun pengisian ulang dialog dalam produksi film dilakukan. Karena itu, hal ini merupakan pengamatan saya sebagai penonton, bukan penilaian teknis mengenai proses produksi film. Namun, beberapa ketidaksesuaian tersebut cukup terasa dan sedikit mengurangi kealamian pada bagian tertentu.
Selain persoalan suara, cerita Asa juga menjadi salah satu bagian yang menurut saya menarik sekaligus menimbulkan pertanyaan. Asa, yang ternyata bukan anak kandung dalam keluarganya, memiliki pengalaman keluarga yang berbeda dengan Jati. Perbedaan tersebut seolah digunakan untuk memperlihatkan bahwa hubungan keluarga tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah.
Kehadiran Asa memiliki fungsi penting karena menjadi salah satu pemantik bagi Jati untuk mulai menelusuri keluarganya sendiri. Namun, menurut saya, porsi cerita Asa pada beberapa bagian justru berpotensi menjadi distraksi dari konflik utama antara Jaya dan Jati. Ketika film sedang membangun hubungan ayah dan anak sebagai pusat cerita, persoalan keluarga Asa membuat perhatian penonton sempat terpecah.
Saya memahami bahwa perbandingan antara keluarga Asa dan keluarga Jati kemungkinan sengaja digunakan untuk memperkuat gagasan mengenai arti keluarga. Namun, bagi saya, pengembangan cerita tersebut masih menyisakan tanda tanya mengenai seberapa besar perannya terhadap inti konflik yang ingin disampaikan.
Meski memiliki beberapa kekurangan, Aku Sebelum Aku tetap menjadi film yang meninggalkan kesan kuat bagi saya. Film ini tidak hanya mengajak penonton melihat hubungan antara seorang ayah dan anak, tetapi juga bagaimana seseorang dapat membawa masa lalunya ke dalam kehidupan yang sedang dijalani.
Pada akhirnya, mungkin kita semua pernah memiliki sesuatu dari masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kita bisa mengatakan bahwa kita sudah melupakannya, berusaha menjadi orang yang lebih baik, atau memilih untuk tidak membicarakannya lagi. Namun, sesuatu yang belum kita terima dapat tetap hidup dalam diri kita, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.
Aku Sebelum Aku memperlihatkan bahwa seseorang dapat memiliki niat yang baik, tetapi tetap melakukan kesalahan ketika ia masih hidup dibawah bayang-bayang luka yang belum selesai. Jaya ingin menjadi ayah yang lebih baik, tetapi ia baru benar-benar dapat hadir untuk Jati ketika mulai berdamai dengan dirinya sendiri.
Karena itu, bagi saya, pesan film ini bukan sekadar tentang menjadi lebih baik. Film ini berbicara tentang keberanian untuk menerima apa yang sudah terjadi agar kita tidak terus membawanya ke kehidupan yang sedang kita jalani baik secara sadar maupun tidak sadar.
Memaafkan bukan berarti membenarkan apa yang pernah terjadi. Berdamai bukan berarti melupakan. Berdamai berarti menyadari bahwa masa lalu memang pernah menjadi bagian dari hidup kita, tetapi masa lalu tidak harus menentukan siapa diri kita selamanya.
Mungkin, sebelum benar-benar menjadi “aku” yang kita inginkan, kita perlu terlebih dahulu berdamai dengan “aku” yang pernah terluka.
