Hendrick Bukan Sekadar Kisah Hantu: Ada Sejarah di Baliknya

Mahasiswi UNS Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari adinda aurelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul: Hendrick
Penulis: Risa Saraswati
Penerbit: PT. Bukune Kreatif Cipta
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: viii+248 halaman
Harga: Rp.68.000,00
ISBN: 978-602-220-201-1
Genre: Fiksi
Kategori: Novel (U15+/remaja)
Ada banyak cara untuk menikmati novel Hendrick karya Risa Saraswati. Pembaca bisa melihatnya sebagai kisah tentang seorang anak Belanda yang telah meninggal dan menjadi salah satu sahabat Risa dari dunia lain. Bisa pula membacanya sebagai kisah tentang keluarga, kehilangan, dan hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya.
Namun, bagi saya, Hendrick menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda.
Novel ini tidak hanya membuat saya penasaran terhadap siapa Hendrick, tetapi juga terhadap dunia tempat Hendrick pernah hidup.
Hendrick Konnings merupakan salah satu dari lima sahabat hantu Belanda Risa Saraswati. Dalam buku ini, Risa membawa pembaca menelusuri kehidupan Hendrick sebelum kematiannya. Ia yang pada awalnya dikenal sebagai sosok paling misterius dan paling tertutup justru perlahan membuka cerita tentang dirinya, mamanya, dan papanya. Sinopsis resmi di sampul belakang buku Hendrick bahkan menegaskan bahwa kisah ini bukan berfokus pada bagaimana Hendrick menakuti manusia, melainkan pada “lorong waktu” menuju masa hidupnya.
Hendrick Bukan Sekedar Anak yang Manja
Bagi saya, daya tarik utama novel ini justru terletak pada perubahan cara pembaca melihat Hendrick.
Pada awalnya, Risa menggambarkan Hendrick sebagai sosok hantu yang misterius, bahkan arogan dan menyebalkan. Namun, ketika cerita masa lalunya perlahan dibuka, pembaca diajak melihat bahwa di balik sosok tersebut terdapat seorang anak dengan kehidupan dan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Kehidupan Hendrick bersama keluarganya menjadi bagian penting dalam cerita. Hubungan dengan kedua orang tuanya yaitu Jeremy Konnings dan Nina Konnings, serta perubahan kehidupan keluarganya membuat karakter Hendrick tidak berhenti sebagai tokoh dalam cerita horor tentang hantu Belanda.
Ia terasa seperti seseorang yang pernah menjalani kehidupan. Mungkin karena hal inilah, beberapa bagian ceritanya terasa lebih menyakitkan daripada menakutkan.
Sisi Hendrick yang Membekas
Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya dalam novel Hendrick terjadi setelah kematian Jeremy Konnings, ayah Hendrick. Kematian Jeremy yang terjadi secara mendadak membuat Hendrick sangat terpukul. Tidak hanya kehilangan sosok papa, Hendrick juga mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa keinginannya untuk memperpanjang waktu liburan di perkebunan kina menjadi salah satu penyebab ayahnya terlalu kelelahan.
Di tengah keadaan tersebut, Hendrick akhirnya meminta bantuan kepada Hans. Ia ingin mencari Helena dengan harapan kehadirannya dapat membuat sang mama kembali tertawa. Ketika Hans bertanya mengenai alasannya, Hendrick justru mengungkapkan rasa bersalah yang selama ini ia simpan.
“Tak ada waktu untuk membenci orang lain. Aku sibuk membenci diriku yang tak becus menjaga Papa.”
Bagi saya, kalimat tersebut cukup menampar. Hendrick yang sebelumnya digambarkan sebagai anak yang manja dan cenderung arogan ternyata bisa menyimpan rasa bersalah yang begitu besar. Ia bahkan menganggap bahwa dirinya ikut bertanggung jawab atas kematian sang papa hanya karena pernah meminta agar waktu liburannya diperpanjang.
Namun, Hans tidak membiarkan Hendrick terus menyalahkan dirinya. Ia justru marah dan mengingatkan Hendrick bahwa kematian seseorang bukan sesuatu yang bisa dikendalikan oleh manusia.
“Jangan menghujat dirimu sendiri karena kematian orang lain. Tuhan yang menentukan hidup dan mati!”
Menurut saya, respons Hans menjadi salah satu bagian paling menarik dalam adegan ini. Hans tidak hanya berperan sebagai teman yang mendengarkan Hendrick, tetapi juga menjadi orang yang berani menyadarkan Hendrick ketika ia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia bahkan mengingatkan kembali pesan Jeremy bahwa Hendrick harus menjadi anak yang kuat dan menjaga mamanya.
Setelah mendengar perkataan Hans, Hendrick akhirnya menyadari bahwa ia telah melupakan pesan terakhir papanya. Ia kemudian memeluk Hans tanpa berkata apa-apa. Bagi saya, bagian ini memperlihatkan sisi Hendrick yang jarang terlihat sebelumnya. Di balik sifatnya yang manja dan arogan, Hendrick tetaplah seorang anak yang kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.
Namun, ada satu bagian lain yang membuat saya semakin teringat pada sosok Hendrick. Menjelang akhir cerita, setelah mengalami sakit yang begitu berat, Hendrick mengungkapkan sesuatu yang menurut saya sederhana, tetapi cukup dalam.
“Aku lelah mengatakan ‘Seandainya’.”
Kalimat tersebut menjadi salah satu bagian favorit saya dalam novel ini. Hendrick kemudian menyadari bahwa terkadang kita merasa seolah-olah memiliki banyak kesempatan untuk mengubah sesuatu, padahal kenyataannya kesempatan tersebut sudah tidak ada.
Bagi saya, bagian ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kata “seandainya” sering muncul ketika seseorang menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Kita bisa terus memikirkan apa yang seharusnya dilakukan, apa yang seharusnya tidak dilakukan, atau bagaimana sesuatu mungkin akan berbeda jika kita mengambil keputusan lain. Namun, pada akhirnya, semua itu tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi.
Dua bagian tersebut membuat saya melihat Hendrick dari sisi yang berbeda. Ia tidak hanya hadir sebagai sosok dari masa lalu dalam cerita Risa Saraswati, tetapi juga sebagai seorang anak yang pernah merasakan kehilangan, rasa bersalah, penyesalan, dan akhirnya mencoba menerima kenyataan.
Mungkin itu yang membuat kisah Hendrick terasa membekas bagi saya. Bukan karena ia adalah sosok yang menyeramkan, tetapi karena beberapa perasaan yang ia ceritakan justru terasa sangat manusiawi.
Ketika Hendrick Membawa Saya Menemukan Jejak Sejarah
Hal lain yang membuat saya tertarik ketika membaca Hendrick adalah latar kehidupan Hindia Belanda yang muncul di dalam ceritanya. Awalnya, perkebunan kina yang beberapa kali disebut dalam novel terasa seperti bagian dari latar kehidupan keluarga Konnings. Namun, semakin jauh membaca, saya justru menemukan bahwa beberapa tempat dan nama yang disebutkan di dalamnya memiliki kaitan dengan sejarah yang benar-benar ada.
Salah satunya adalah Franz Wilhelm Junghuhn.
Dalam cerita, Hendrick dan Hans pernah mengunjungi sebuah perkebunan kina. Saat melihat sebuah makam, Hans merasa takut karena mengira tempat tersebut berkaitan dengan orang yang sudah meninggal. Berbeda dengan Hans, Hendrick justru mengenali nama yang ada di sana.
“Itu makam Franz Wilhelm Junghuhn.”
Bagian mengenai Franz W. Junghuhn ini tercantum dalam hlm. 93–99 di novel ini. Hendrick kemudian menceritakan kepada Hans bahwa Junghuhn merupakan ilmuwan asal Jerman yang sangat dikagumi oleh papanya. Pembicaraan mereka kemudian berkembang pada ketertarikan Junghuhn terhadap alam dan pegunungan di Jawa serta penelitiannya mengenai tanaman kina.
Setelah membaca bagian tersebut, saya mencoba mencari tahu lebih jauh mengenai Junghuhn. Saya menemukan bahwa Franz W. Junghuhn memang merupakan tokoh nyata yang dikenal sebagai ilmuwan sekaligus pencinta alam berkebangsaan Jerman. Ia juga disebut sebagai salah satu perintis penanaman kina di wilayah Priangan, Jawa Barat, sejak abad ke-19.
Hal ini membuat bagian dalam novel terasa berbeda bagi saya. Nama Junghuhn yang awalnya hanya saya temukan sebagai bagian dari cerita ternyata membawa saya pada sejarah perkembangan kina di Jawa Barat. Laman Historia.id menjelaskan bahwa Junghuhn terlibat dalam proyek pengembangan kina di Jawa dan kemudian memindahkan lokasi perkebunan ke Malabar, Pangalengan, dan Lembang. Dalam perkembangan berikutnya, Jawa bahkan menjadi pemasok utama kina dunia, sebelum pada 1896 berdiri pabrik pengolahan kina di Bandung.
Kina sendiri menjadi tanaman yang penting pada masa itu karena digunakan dalam pengobatan malaria. Dari sinilah saya kemudian menemukan kaitan lain yang membuat latar Hendrick semakin menarik, yaitu Bandoengsche Kinine Fabriek.
Dalam novel, Jeremy Konnings, ayah Hendrick, digambarkan sebagai seorang peneliti yang bekerja dengan tanaman kina. Pada hlm. 21, Jeremy diceritakan bekerja sebagai peneliti di sebuah perusahaan besar yang berkaitan dengan kina. Sementara itu, pada hlm. 25, kehidupan keluarga Konnings juga digambarkan dekat dengan perkebunan kina. Jeremy sesekali mengajak keluarganya mengunjungi perkebunan untuk mengambil sampel kulit, dahan, batang, dan ranting kina yang kemudian diteliti kualitasnya.
Kina akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari pekerjaan Jeremy, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan Hendrick. Ia bahkan digambarkan sangat menyukai perjalanan keluarganya ke perkebunan tersebut.
Dalam cerita, Jeremy juga disebut bekerja di Bandoengsche Kinine Fabriek sebagai peneliti. Karena nama tersebut cukup spesifik, saya kembali mencoba mencari tahu apakah pabrik tersebut benar-benar ada.
Ternyata, Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. memang tercatat dalam sejarah Bandung. Dalam laman Fakultas Budaya dan Media ISBI Bandung, bangunan yang awalnya bernama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. disebut dibangun pada 1896 dan digunakan untuk mengolah kulit pohon kina menjadi bahan obat untuk penyakit malaria. Bangunan tersebut berada di kawasan Cicendo, Bandung.
Catatan pemerintah Indonesia juga menguatkan keberadaan perusahaan tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1961 mencatat N.V. Bandoengsche Kinine Fabriek sebagai perusahaan yang didirikan berdasarkan akta notaris Nomor 102 pada 29 Juni 1896.
Hal yang menarik bagi saya adalah, ternyata latar yang digunakan dalam kehidupan keluarga Hendrick memiliki kaitan dengan tempat yang benar-benar ada. Selain itu, pada laman Historia.id menjelaskan bahwa ketika produksi kina di Jawa semakin berkembang, pada 1896 didirikan Bandoengsche Kinine Fabriek di Bandung untuk mengolah kulit kina menjadi bubuk kina.
Dari sini, saya mulai melihat bahwa perkebunan kina dalam Hendrick bukan hanya sekadar latar tempat untuk menjalankan cerita. Junghuhn, kina, hingga Bandoengsche Kinine Fabriek menjadi bagian yang saling terhubung dengan dunia yang ditempati Hendrick dalam novel. Tentu saja, kisah Jeremy Konnings dan keluarganya tetap merupakan bagian dari cerita fiksi Risa Saraswati. Saya tidak menganggap keberadaan Bandoengsche Kinine Fabriek sebagai bukti bahwa Jeremy adalah tokoh sejarah. Justru, yang menarik bagi saya adalah bagaimana tokoh fiksi tersebut ditempatkan dalam latar yang memiliki jejak sejarah nyata.
Awalnya saya hanya mengikuti cerita tentang Hendrick dan keluarganya. Namun, dari sebuah nama di makam, saya justru menemukan Franz Wilhelm Junghuhn. Dari Junghuhn, saya kemudian menemukan sejarah kina di Jawa Barat hingga Bandoengsche Kinine Fabriek di Bandung.
Bagi saya, hal inilah yang membuat Hendrick terasa lebih menarik. Novel ini memang tetap merupakan karya fiksi, tetapi latar sejarah yang digunakan Risa Saraswati membuat kehidupan Hendrick terasa berada dalam sebuah zaman yang nyata. Di balik kisah seorang anak bernama Hendrick, ternyata ada potongan sejarah Hindia Belanda yang bisa membawa pembaca untuk mencari tahu lebih jauh.
Kelebihan
Penggambaran karakter Hendrick yang berkembang.
Hubungan antarkarakter yang kuat.
Latar Hindia Belanda dan jejak sejarah yang menarik.
Kemampuan Risa membawa pembaca masuk ke kehidupan masa lalu Hendrick.
Persoalan kehilangan, rasa bersalah, dan penyesalan terasa manusiawi.
Kekurangan dan Saran
Konflik Nina dan Helena terasa berlarut-larut (hlm. 138–191).
Beberapa bagian cerita masih dapat diperkuat dengan ilustrasi.
Pada akhirnya, Hendrick bagi saya bukan hanya cerita tentang seorang anak yang telah meninggal dan kisah masa lalunya. Membaca novel ini kembali dengan sudut pandang yang berbeda membuat saya melihat Hendrick bukan sekadar sebagai sosok yang manja, arogan, atau misterius, tetapi sebagai seorang anak yang pernah mengalami kehilangan, rasa bersalah, penyesalan, dan berbagai hal yang membuatnya terasa manusiawi.
Di sisi lain, perjalanan Hendrick juga membawa saya menemukan sesuatu di luar cerita. Nama Franz Wilhelm Junghuhn, perkebunan kina, hingga Bandoengsche Kinine Fabriek membuat saya menyadari bahwa latar yang digunakan dalam novel memiliki jejak sejarah yang dapat ditelusuri. Dari sebuah cerita tentang Hendrick, saya justru terdorong untuk mencari tahu lebih jauh mengenai kehidupan pada masa Hindia Belanda.
Bagi saya, di situlah salah satu daya tarik Hendrick. Novel ini tetap merupakan karya fiksi, tetapi latar dan kisah yang dibangun Risa Saraswati mampu membuat saya melihat dunia Hendrick sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar latar cerita. Saya datang untuk membaca kisah seorang hantu, tetapi justru pulang dengan cerita tentang manusia, kehilangan, dan sedikit pengetahuan baru tentang masa lalu.
