Tugas Selesai, Pemahaman Belum Tentu: Fenomena Menyalin Jawaban di Kalangan Pelajar

Mahasiswa Universitas Pamulang Semester 2 Jurusan Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adinda Andaresta Tri Hastuti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugas selesai, pemahaman belum tentu. Kalimat ini cukup menggambarkan kebiasaan belajar yang masih sering ditemukan di kalangan pelajar saat ini. Tidak sedikit siswa yang lebih mementingkan tugas cepat selesai dan dikumpulkan tepat waktu daripada memahami materi yang diberikan oleh guru. Ketika mendapatkan tugas, sebagian siswa cenderung mencari jawaban di internet, menyalin pekerjaan teman, atau menggunakan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) tanpa benar-benar memahami isi jawabannya. Akibatnya, tugas memang dapat diselesaikan, tetapi tujuan utama dari proses belajar justru belum tentu tercapai.
Ketika Tugas Hanya Menjadi Kewajiban
Pada dasarnya, tugas diberikan bukan hanya untuk memenuhi kewajiban siswa atau menambah nilai, melainkan sebagai salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami materi yang telah dipelajari. Melalui tugas, siswa seharusnya dapat melatih kemampuan berpikir, mencari informasi, mengolah pengetahuan, dan menyampaikan pendapat menggunakan pemahamannya sendiri.
Namun, kenyataannya masih ada siswa yang menganggap tugas sebagai sesuatu yang harus segera diselesaikan. Mereka lebih fokus pada hasil akhir daripada proses mengerjakannya. Kebiasaan ini lama-kelamaan dapat membuat kegiatan belajar hanya menjadi rutinitas tanpa memberikan pemahaman yang berarti.
Kemudahan Teknologi yang Justru Bisa Menjadi Ketergantungan
Perkembangan teknologi sebenarnya memberikan banyak kemudahan bagi pelajar dalam mencari informasi. Internet dan berbagai aplikasi pembelajaran dapat membantu siswa memahami materi yang sebelumnya sulit dimengerti. Bahkan, kehadiran AI dapat menjadi sarana untuk mendapatkan penjelasan tambahan ketika siswa mengalami kesulitan belajar.
Akan tetapi, kemudahan tersebut juga bisa menimbulkan kebiasaan yang kurang baik apabila digunakan secara tidak tepat. Misalnya, siswa langsung memasukkan pertanyaan ke aplikasi AI, mengambil seluruh jawabannya, kemudian mengumpulkannya sebagai hasil pekerjaan sendiri tanpa membaca atau memahami isinya.
Jika hal ini terus dilakukan, siswa akan terbiasa bergantung pada jawaban yang tersedia dan kurang berusaha mencari tahu sendiri. Padahal, teknologi seharusnya menjadi alat bantu dalam belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir.
Banyak Tugas, Sedikit Waktu untuk Memahami
Menurut saya, permasalahan ini bukan semata-mata karena siswa malas belajar. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kebiasaan tersebut, salah satunya adalah banyaknya tugas yang harus diselesaikan dalam waktu berdekatan. Ketika siswa merasa terbebani oleh jumlah tugas dan batas waktu pengumpulan, mereka cenderung memilih cara yang paling cepat agar semua tugas dapat diselesaikan.
Selain itu, tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik juga terkadang membuat siswa lebih memperhatikan hasil daripada proses belajar. Akhirnya, yang terpenting bagi sebagian siswa adalah tugas sudah dikumpulkan dan mendapatkan nilai, bukan seberapa jauh mereka memahami materi tersebut.
Guru dan Siswa Sama-Sama Punya Peran
Guru juga memiliki peran penting dalam menghadapi kebiasaan ini. Pemberian tugas sebaiknya tidak hanya berfokus pada banyaknya soal atau panjangnya jawaban yang harus dikumpulkan. Guru dapat memberikan tugas yang mendorong siswa untuk berpikir dan menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari.
Contohnya, daripada hanya meminta siswa menjelaskan suatu pengertian berdasarkan buku, guru dapat memberikan permasalahan sederhana yang meminta siswa menyampaikan pendapat dan alasan berdasarkan pemahamannya sendiri. Dengan begitu, siswa tidak cukup hanya menyalin jawaban dari internet karena mereka perlu memahami permasalahan yang diberikan.
Di sisi lain, siswa juga perlu menyadari bahwa proses belajar bukan hanya tentang mendapatkan nilai. Tidak masalah menggunakan internet, berdiskusi dengan teman, atau memanfaatkan AI selama hal tersebut digunakan untuk membantu memahami materi, bukan menggantikan seluruh proses berpikir.
Menurut saya, lebih baik mengerjakan tugas dengan jawaban sederhana tetapi benar-benar dipahami daripada mengumpulkan jawaban panjang yang sebenarnya tidak dimengerti. Pemahaman yang diperoleh melalui usaha sendiri akan lebih bermanfaat ketika siswa harus menghadapi ujian, menjawab pertanyaan, atau menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan Sampai Tugas Selesai, tetapi Tidak Ada yang Dipahami
Fenomena menyalin jawaban menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembelajaran tidak seharusnya hanya diukur dari tugas yang terkumpul atau nilai yang diperoleh. Hal yang lebih penting adalah perubahan pengetahuan dan kemampuan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Siswa yang mampu menjelaskan kembali materi menggunakan bahasanya sendiri menunjukkan bahwa ia tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga berusaha memahami apa yang dipelajari.
Pada akhirnya, tugas seharusnya menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Kemudahan teknologi memang tidak dapat dihindari, tetapi penggunaannya tetap perlu disertai tanggung jawab dan kesadaran untuk belajar.
Baik siswa maupun guru memiliki peran dalam menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna. Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan siswa yang rajin mengumpulkan tugas dan memperoleh nilai tinggi, tetapi juga membentuk individu yang mampu berpikir, memahami, dan menggunakan pengetahuannya.
Jangan sampai tugas selalu selesai tepat waktu, tetapi ketika ditanya kembali tentang materinya, justru tidak tahu apa yang sudah dikerjakan.
