Konten dari Pengguna

Sore: Film Fiksi Sebagai Medium Kampanye Kesehatan Tidak Langsung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adipatra Kenaro Wicaksana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah kisah tentang pilihan dan konsekuensi Dalam Scene Sore. (Sumber: @cerita_films)
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah kisah tentang pilihan dan konsekuensi Dalam Scene Sore. (Sumber: @cerita_films)

Bayangkan jika seseorang dari masa depan datang hari ini bukan untuk mengungkap kejayaan atau kehancuran dunia, tapi sekadar mengingatkan agar tidur cukup, berhenti merokok, dan jangan terlalu sering minum alkohol.

Halo, aku Sore. Istri kamu dari masa depan.

Sebaris kalimat itu meluncur di awal film Sore: Istri dari Masa Depan, menggebrak layar dengan premis yang langsung bikin dahi mengernyit bagaimana bisa ada istri dari masa depan?

Sepintas, kita mungkin mengira ini bakal jadi drama romantis fantasi yang klise, tentang sepasang kekasih yang berjibaku dengan takdir. Namun, di balik narasi romansa lintas waktu, film ini menyisipkan pesan-pesan kesehatan yang dikemas sebagai Medium Kampanye Kesehatan Tidak Langsung

Sebuah bisikan halus yang pelan-pelan meresap ke alam bawah sadar kita, jauh lebih mujarab daripada seribu poster himbauan kesehatan.

Film ini, dibintangi Dion Wiyoko dan Sheila Dara Aisha, memang dibungkus dalam genre romantis dengan sentuhan fiksi ilmiah. Namun, lebih dari sekadar kisah cinta, SORE menyimpan pesan kesehatan yang begitu dalam, sekaligus menyentuh.

Dan inilah yang membuat film ini layak dibaca bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai bentuk soft campaign untuk hidup lebih sehat baik secara fisik maupun emosional.

Jonathan Dengan Gaya Hidup yang Melelahkan

Jonathan Films/SORE:Istri dari Masa Depan. (Sumber: @cerita_films)

Jonathan adalah potret umum banyak anak muda urban masa kini mereka terasa sibuk, kreatif, berprestasi tapi secara fisik dan mental, rapuh. Terdampar hidup dalam pola yang kacau seperti begadang, makan sembarangan, dan pelarian melalui rokok serta alkohol.

Dan yang paling mencolok, yang menjadi visual paling kuat dari kehancuran ini adalah rokok yang setia mengepul di sela jari-jarinya, seolah itu adalah bagian tak terpisahkan dari identitas dan persona-nya. Asap yang menyesakkan, tumpukan asbak yang penuh, adalah saksi bisu dari pilihan-pilihan yang membahayakan.

Semua itu tidak disorot secara dramatis, justru ditampilkan sebagai kebiasaan harian yang dianggap biasa. itulah keunggulan narasi SORE di filmnya tidak menghakimi, tapi memperlihatkan bahwa kebiasaan-kebiasaan kecil bisa menjadi pintu masuk menuju kehancuran yang lebih besar.

Kita mengenali fragmen diri kita atau orang-orang terdekat dalam diri Jonathan, dan secara tidak langsung, kita mulai merefleksikan kebiasaan kita sendiri. Pendekatan naratif seperti inilah yang digunakan untuk menekankan pada visualisasi situasi tanpa penjelasan yang rumit.

Yang bikin ini makin ngena kita nggak dikasih adegan tokoh masuk rumah sakit a. Kita dikasih keheningan, kesepian, dan adegan yang penuh asap. Itu semua udah cukup buat bikin kita gelisah.

Sore, Wujud Nyata Konsekuensi yang Tak Terlihat

Peran Sore diemban Sheila Dara Ais. (Sumber: @cerita_films)

Kemunculan Sore sebagai “istri dari masa depan” adalah simbol. Ia bukan hanya pasangan, tapi semacam alarm yang lembut seorang pengingat bahwa hidup tidak bisa terus berjalan seperti ini.

Lewat cara sederhana, seperti memasakkan makanan sehat, menyuruh Jonathan tidur tepat waktu, Sore memperkenalkan bentuk self-care yang sangat manusiawi.

Yang menarik, pesan-pesan ini disampaikan bukan sebagai ajaran, tapi sebagai bagian dari hubungan. Kita diajak masuk ke dalam relasi yang sehat, penuh perhatian, yang menjadikan perawatan diri sebagai bentuk cinta, bukan tuntutan.

Ini bukan tentang jadi istri ideal, tapi jadi pengingat yang lembut ternyata tubuh kita juga butuh cinta. Secara simbolik, Sore adalah self-care yang kita lupakan. Dia hadir di tengah kekacauan Jonathan dan dengan tenang bilang, "Ayo kita rapikan hidup ini bareng-bareng."

Karakter ‘Sore’ dapat dimaknai sebagai simbol ajakan reflektif terhadap gaya hidup, termasuk kebiasaan yang merugikan kesehatan.

Rokok, Alkohol & Trauma yang Menyusup Pelan

Salah satu adegan paling sederhana tapi menghantam adalah saat Jonathan ngerokok. Buat sebagian penonton, itu mungkin biasa. Tapi bagi Yandy Laurens, sutradaranya, adegan itu justru bikin dia berhenti dan menangis.

Dalam wawancaranya, Yandy cerita bahwa ayahnya meninggal karena rokok. Adegan Jonathan merokok, tanpa sadar, jadi katarsis kemarahan, kehilangan, dan trauma masa lalu tumpah di sana.

"Ternyata di dalam marah, ada rasa kayak, 'Pa, kamu lebih pilih rokok daripada saya, ya?'" katanya. Kalimat ini bukan dialog film, tapi dialog batin yang bisa aja kita alami juga. Mungkin kamu punya orang tua atau saudara yang perokok berat. Kamu nggak bisa marah, tapi diam-diam merasa dikhianati.

Dan SORE nggak menggambarkan rokok sebagai dosa besar. Ia cuma memperlihatkan dampaknya, bukan di tubuh dulu, tapi di relasi. Rokok bukan cuma membakar paru-paru, tapi juga jarak antara orang yang kita sayang.

Alkohol pun begitu. Tidak dijadikan simbol keren atau perayaan. Ia muncul sebagai pelarian. Sebuah refleksi bahwa ketika tubuh dan jiwa sudah terlalu penat, kita sering memilih jalan cepat, padahal itu jalan pintas menuju kehancuran.

SORE tidak memasang label “film kesehatan”. Film ini berhasil menyampaikan nilai hidup sehat sebagai bagian dari narasi, bukan pesan sponsor.

Kampanye Kesehatan Gratis yang Kita Nggak Sadari

Sheila Dara - Dion Wiyoko (tangkapan layar). (Sumber: @cerita_films)

Saya merasa SORE brilian. Diam-diam, ini adalah kampanye kesehatan yang paling manusiawi. Nggak ada logo kementerian, nggak ada voice over yang bilang, "Ayo hidup sehat." Tapi yang kita lihat adalah perubahan gaya hidup lewat cinta, trauma yang disembuhkan dengan kehadiran, dan kebiasaan baik yang dibangun pelan-pelan.

Tidak ada adegan dokter yang ceramah panjang lebar tentang bahaya nikotin, tidak ada grafik rumit tentang indeks massa tubuh, apalagi iklan layanan masyarakat yang mendikte. Semua pesan kesehatan itu terbungkus rapi dalam balutan kisah cinta yang menyentuh hati dan bumbu fantasi yang membuat kita penasaran.

Kita dibuat peduli pada Jonathan, pada hubungannya yang unik dengan Sore, dan pada masa depan yang mereka perjuangkan bersama. Secara tak sadar, keinginan kita agar Jonathan sukses mengubah diri juga berarti kita mengharapkan ia menjadi lebih sehat.

Kita bersorak dalam hati saat Jonathan mulai mengurangi rokok, atau saat ia mencoba hidup lebih teratur. Ini adalah teknik kampanye yang brilian

Membuat kita peduli pada isu kesehatan lewat jalur empati dan emosi, bukan sekadar logika dan data. Film ini menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi medium yang sangat kuat untuk menanamkan kesadaran, bahkan untuk hal sepenting kesehatan, tanpa harus kehilangan esensinya sebagai hiburan.

Sore berhasil membuktikan bahwa film fiksi bisa jadi medium untuk menanamkan kesadaran, bahkan untuk hal sepenting kesehatan.

Siapa sangka, sebuah film romantis bisa jadi pengingat paling efektif untuk membuang asbak dan mulai tidur lebih awal, bukan karena takut sakit, tapi karena ada "Sore" di masa depan yang menanti.