Kebijakan Moneter vs Kebijakan Fiskal: Siapa Lebih Berperan Memulihkan ekonomi

Mahasiswi Prodi Pendidikan Ekonomi Universitas Pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Adisty Zakia Muhni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebijakan Moneter vs Kebijakan Fiskal: Bukan Tentang Siapa Lebih Hebat, Melainkan Bagaimana Bersama
Ketika perekonomian negeri ini terpuruk, satu pertanyaan selalu muncul di mulut orang-orang: siapa yang akan mengangkatnya kembali? Apakah Bank Indonesia yang memegang kendali atas suku bunga dan arus uang? Atau pemerintah yang memegang dompet negara — mengatur apa yang dipungut dan apa yang dibelanjakan?
Sering kali kita membandingkan keduanya seolah-olah harus memilih satu. Seolah ada perlombaan, dan salah satunya harus keluar sebagai pemenang. Padahal pertanyaan yang benar-benar penting bukanlah siapa yang lebih unggul. Pertanyaan itu sederhana: apakah keduanya berjalan beriringan, atau justru menarik ke arah yang berlawanan?
Bayangkan seekor burung. Ia memiliki dua sayap. Jika satu sayap mengepak kuat sementara yang lain diam, burung itu tidak akan terbang tinggi. Ia hanya akan berputar-putar, berat, tak tentu arah. Begitulah kebijakan moneter dan fiskal — dua sayap yang harus bergerak serempak agar perekonomian dapat melayang kembali.
Dua Kekuatan, Dua Cara Bekerja
Bank Indonesia memegang tuas yang mengatur biaya uang. Ia bisa menurunkan suku bunga sehingga meminjam uang menjadi murah — membuka pintu lebar-lebar agar modal mengalir ke usaha, ke rumah tangga, ke mana-mana. Ia menjaga agar harga barang tidak melonjak tak terkendali, agar nilai Rupiah tetap dipercaya. Itulah kekuatan kebijakan moneter: ia menciptakan suasana yang memudahkan segala sesuatu bergerak.
Namun ada satu hal yang tidak bisa dilakukannya: ia tidak bisa memastikan uang itu dipakai untuk apa.
Kadang pintu sudah terbuka lebar, tapi orang-orang ragu melangkah masuk. Pengusaha takut membuka pabrik baru karena tidak yakin siapa yang akan membeli barangnya. Masyarakat menahan belanja karena khawatir besok masih ada penghasilan. Uang itu tetap tersimpan di bank, tak berputar ke mana-mana. Keran sudah dibuka, tapi airnya tak mengalir ke ladang.
Di saat seperti inilah peran pemerintah menjadi sangat penting.
Jika kebijakan moneter membuka keran, maka kebijakan fiskal lah yang memegang selang dan menyiramkan air tepat ke tanah yang membutuhkan. Pemerintah membangun jalan, membuka sekolah, merawat rumah sakit, memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Uang itu masuk langsung ke saku masyarakat, ke proyek yang menciptakan pekerjaan, ke permintaan yang nyata. Orang-orang mulai berbelanja lagi, dan pengusaha pun berani memproduksi lagi.
Tentu pemerintah pun tak bisa sembarangan mengeluarkan uang. Dompet negara bukan tak terbatas. Jika terlalu boros, beban utang akan tumbuh menjadi bayang-bayang yang menindih masa depan. Kekuatan ini besar, namun harus dipakai dengan bijak.
Kadang Satu Harus Lebih Maju, Kadang yang Lain
Tidak selamanya peran keduanya sama besar. Kadang yang satu perlu melangkah lebih depan, kadang yang lain.
Jika masalahnya adalah uang terlalu mahal untuk dipinjam, jika nilai mata uang goyah, jika harga-harga melonjak tak terkendali — maka Bank Indonesia lah yang harus memimpin langkah. Di saat seperti itu, kebijakan moneter menjadi penyangga utama.
Namun jika orang-orang sudah tak punya daya beli, jika jalan rusak menghambat perdagangan, jika ketidakpastian membuat semua orang diam menunggu — maka suku bunga serendah apa pun tak akan banyak berarti. Di sinilah pemerintah harus tampil ke depan. Bank Indonesia bisa membuka keran selebar-lebarnya, tapi jika tidak ada yang menyalurkan airnya ke ladang, tanaman tetap tak akan tumbuh.
Kekuatan Sebenarnya Ada pada Keselarasan
Inilah yang sering terlupakan: kebijakan moneter dan fiskal tidak diciptakan untuk bersaing. Mereka diciptakan untuk saling melengkapi.
Ketika keduanya berjalan selaras, keajaiban terjadi. Suku bunga rendah membuat biaya pinjaman pemerintah menjadi ringan, sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan menjadi jauh lebih bermanfaat. Sebaliknya, belanja pemerintah yang tepat sasaran membuat perekonomian bergerak dan tumbuh percaya diri — sehingga uang yang disediakan Bank Indonesia benar-benar berputar, bukan hanya diam tertimbun.
Namun bayangkan jika arahnya berbeda. Bank Indonesia menahan suku bunga agar harga tetap tenang, sementara pemerintah memboroskan belanja sehingga harga justru melonjak. Atau sebaliknya, pemerintah menahan pengeluaran terlalu ketat, sementara Bank Indonesia berusaha mendorong pertumbuhan sendirian. Dalam situasi seperti ini, upaya keduanya justru saling melemahkan. Langkah menjadi berat, jalan menjadi jauh, dan pemulihan menjadi lambat.
Penutup
Jadi, siapa yang lebih berperan? Jawabannya: tidak ada yang lebih penting dari yang lain.
Kebijakan moneter menjaga agar perekonomian tetap bernapas — tenang, stabil, percaya diri. Kebijakan fiskal menggerakkan langkah — membangun, menciptakan, menyentuh kehidupan rakyat secara langsung. Tanpa yang satu, yang lain tak akan mampu berjalan jauh.
Maka pertanyaan yang seharusnya kita tanyakan bukanlah siapa yang lebih hebat. Pertanyaannya jauh lebih sederhana dan jauh lebih penting:
Apakah Bank Indonesia dan pemerintah sedang melangkah seirama? Apakah mereka saling melihat, saling mengerti, saling menyokong?
Selama keduanya berjalan beriringan, pemulihan akan datang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Namun jika mereka berjalan terpisah arah, sekuat apa pun usaha masing-masing, beban akhirnya akan tetap jatuh ke pundak kita semua — rakyat.
