Warisan Leluhur: Jangan Seperti Kacang Lupa Kulitnya

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Teknik Mesin
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aditiya Karunia Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah dengar ungkapan "kacang lupa kulitnya"?
Itu kiasan buat orang yang sudah senang, sukses, atau sudah maju, tapi malah melupakan asal-usulnya, orang tuanya, atau budaya tempat ia dibesarkan. Di Indonesia, ungkapan ini sangat lekat dan jadi peringatan keras buat kita semua. Kenapa? Karena kita adalah bangsa yang punya kekayaan luar biasa, dititipkan oleh nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Mulai dari adat istiadat, nilai-nilai hidup, seni, bahasa, sampai cara kita bergaul semuanya punya makna mendalam. Warisan leluhur ini ibarat "kulit" yang membungkus dan melindungi jati diri kita. Kalau kita sampai meninggalkannya, sama saja kita sudah jadi kacang yang lepas dari kulitnya hilang arah, tak berakar, dan tak lagi punya harga diri sebagai orang Indonesia.
Warisan leluhur itu bukan cuma soal bangunan tua, candi, atau benda pusaka yang tersimpan di museum ya. Lebih dari itu, warisan ini ada dalam bentuk kebiasaan dan nilai yang mengatur hidup kita. Contoh paling nyata dan terkenal adalah semangat gotong royong. Dulu, nenek moyang kita hidup saling bantu-membantu tanpa hitung-hitungan untung rugi. Kalau ada tetangga bikin rumah, warga datang bantu. Kalau ada yang sakit atau kena musibah, warga datang menolong. Semangat ini yang bikin masyarakat Indonesia dulu hidup rukun, damai, dan kuat menghadapi segala tantangan. Ada juga kebiasaan musyawarah, hormat kepada orang tua dan tamu, serta rasa toleransi yang tinggi. Semua ini adalah "kulit" yang menjaga karakter kita supaya tetap lembut, santun, dan menyayangi sesama.
Sayangnya, zaman sekarang semuanya berubah cepat banget. Arus globalisasi dan teknologi membawa masuk banyak budaya, gaya hidup, dan kebiasaan dari luar negeri. Banyak hal baru yang keren, canggih, dan seru, itu memang benar. Tapi ada bahaya tersembunyi di balik kemudahan ini. Banyak di antara kita, terutama anak muda, yang terlalu asik meniru gaya orang lain sampai lupa kelebihan sendiri. Ada yang malu pakai baju adat, menganggap bahasa daerah itu kuno, atau merasa nilai-nilai lama itu nggak relevan lagi buat zaman sekarang. Kalau sudah begini, itulah tanda-tanda kita mulai jadi "kacang lupa kulitnya". Kita sudah menikmati kemajuan dan kemudahan, tapi lupa siapa yang membentuk karakter kita sampai ke titik ini.
Padahal, kalau kita mau lihat lebih dalam, warisan leluhur itu isinya ilmu dan kebijaksanaan yang nggak kalah hebat sama ilmu modern. Nenek moyang kita itu pandai banget menjaga alam, paham cara menjaga keseimbangan, dan tahu rahasia hidup rukun damai. Contohnya, aturan adat soal larangan menebang pohon sembarangan atau cara bertani yang menyesuaikan musim. Itu semua bukti kalau mereka sudah paham kelestarian lingkungan jauh sebelum isu pemanasan global jadi pembicaraan dunia. Nilai sopan santun dan kejujuran yang diajarkan sejak dulu juga jadi modal utama kita agar bisa dihormati orang lain. Jadi, nggak ada alasan buat menganggap warisan itu ketinggalan zaman. Justru tanpa warisan itu, kita bakal kehilangan arah dan gampang terbawa arus yang belum tentu baik.
Bahaya kalau kita sampai lupa "kulit" budaya kita sendiri. Bangsa yang lupa sejarah dan warisannya ibarat pohon yang tak berakar. Sekilas mungkin terlihat tinggi dan besar, tapi kalau kena angin sedikit saja, ia bakal gampang tumbang. Kita bisa jadi bangsa yang maju secara teknologi dan ekonomi, tapi kosong secara karakter dan moral. Kita bisa bicara bahasa asing dengan lancar, tapi lupa cara berbicara sopan sama orang tua. Kita bisa punya barang-barang mewah impor, tapi malu pakai produk budaya sendiri. Kalau hal ini terus dibiarkan, lama-kelamaan kita bakal jadi bangsa yang "asing" di negeri sendiri. Kita ada di sini, tapi jati dirinya sudah hilang entah ke mana.
Makanya, tugas kita sekarang adalah merawat dan meneruskan warisan itu, bukan membuangnya. Melestarikan budaya bukan berarti menolak kemajuan atau menutup diri dari dunia luar. Bukan begitu maksudnya. Kita tetap boleh pakai teknologi, tetap boleh kenal budaya orang lain, dan tetap boleh berkembang. Tapi, jadikanlah warisan leluhur itu sebagai dasar dan pegangan. Seperti kacang yang tetap butuh kulitnya supaya isinya terlindungi dan berharga, kita pun butuh budaya sendiri supaya tetap jadi manusia Indonesia yang sejati. Cintai apa yang dimiliki bangsa sendiri, banggakan keunikan kita, dan terapkan nilai-nilai baik itu dalam keseharian.
"Jangan seperti kacang lupa kulitnya"
adalah pesan paling jitu buat kita menjaga warisan leluhur. Warisan itu adalah kulit pelindung, akar penyangga, dan jati diri kita yang sesungguhnya. Kemajuan zaman boleh kita kejar setinggi langit, tapi jangan sampai kita melepaskan akar dan asal-usul kita di bumi pertiwi ini. Menjadi orang modern itu boleh, tapi tetaplah orang Indonesia yang berkarakter. Jangan sampai nanti kita sudah sukses dan hebat, tapi saat ditanya "siapa kamu dan dari mana asalmu?", kita malah bingung dan nggak bisa jawab. Yuk, jaga terus warisan leluhur kita, supaya kita tetap utuh, berharga, dan dikenal dunia sebagai bangsa yang hebat dan beradab.
