Konten dari Pengguna

Anak yang Berjalan Bersama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aghna Dziaulhaq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kisah dalam Cerpen yang Mengambarkan Ketengangan Dua Anak

Ilustrasi pada cerpen Perjelanan Menuju ke Neraka yang menjelasakan dua anak kecil di sebuah tempat yang membuat mereka tanya-tanya namun memiliki ketidakpastian. Gambar tersebut di ambil dan di edit sendiri melalui aplikasi Hypic untuk mengatur efek pada foto.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pada cerpen Perjelanan Menuju ke Neraka yang menjelasakan dua anak kecil di sebuah tempat yang membuat mereka tanya-tanya namun memiliki ketidakpastian. Gambar tersebut di ambil dan di edit sendiri melalui aplikasi Hypic untuk mengatur efek pada foto.

Pergi ke neraka bukan hal yang biasanya dilakukan dua anak kecil pada suatu pagi. Tapi dalam cerpen Perjalanan ke Neraka yang dipublikasikan di Kompas.id, itulah yang terjadi dan yang membuat cerita ini tidak biasa bukan tujuannya, melainkan alasan di baliknya yaitu satu ingin melarikan diri, satu lagi tidak mau membiarkannya pergi sendirian.

Cerpen ini menghadirkan dua tokoh bocah tanpa nama yang tumbuh dalam satu atap yang sama sebuah gedung penampungan, tempat anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya dikumpulkan. Dari sinilah cerita bermula. Bocah lelaki yang selama ini menutup diri memutuskan untuk pergi menuju neraka, dengan satu tujuan yang ia simpan rapat-rapat: mencari jawaban dari sang ayah yang telah lama pergi ke sana lebih dahulu. Dan bocah perempuan, yang sudah lama menaruh perasaan padanya, memilih untuk mengikuti, bukan karena diminta, tapi karena tidak bisa melakukan sebaliknya.

Ketegangan antara keduanya bukan ketegangan dramatis yang meledak-ledak. Ia justru hadir dalam percakapan-percakapan kecil yang menumpuk sepanjang perjalanan. Bocah lelaki menolak, bocah perempuan tidak pergi. Bocah lelaki mempercepat langkah, bocah perempuan mengikuti. Ada satu momen ketika bocah lelaki hampir membiarkan bocah perempuan terpeleset di batu sungai tapi tangannya bergerak duluan sebelum pikirannya sempat memutuskan. Ia segera menarik tangannya kembali, pura-pura itu bukan apa-apa. Bocah perempuan juga pura-pura tidak melihat.

Gestur kecil itu adalah salah satu momen paling jujur dalam cerita ini. Tidak ada yang perlu diucapkan karena semuanya sudah tersampaikan.

Keengganan bocah lelaki untuk ditemani bukan tanpa alasan. Ia pernah mengatakannya dengan terus terang:

"Selama ini aku tidak pernah mendapat kasih sayang. Aku selalu disiksa dan tidak ada yang lain selain itu. Jadi aku kira aku sudah terbiasa. Tidak akan ada siksaan yang lain yang membuatku menyerah."

Kalimat itu bukan kesombongan. Ia adalah cara seseorang yang sudah terlalu lama menderita menjelaskan mengapa ia tidak lagi takut pada hal-hal yang menakutkan. Neraka, baginya, bukan ancaman melainkan sebuah konfirmasi atas apa yang selama ini sudah ia rasakan.

Bocah perempuan merespons bukan dengan iba, melainkan dengan sesuatu yang lebih keras:

"Kita senasib, kamu dan aku. Gedung yang sama, dapur yang sama, galon yang selalu tinggal seperempat sebelum diisi lagi. Aku tidak bisa pura-pura tidak tahu itu."

Di sini, pengarang tidak menempatkan bocah perempuan sebagai sosok yang lemah lembut dan sabar tanpa batas. Ia memiliki luka yang sama, nasib yang tidak jauh berbeda. Yang membedakan mereka bukan seberapa besar penderitaannya, melainkan bagaimana mereka memilih merespons penderitaan itu. Dan bocah perempuan memilih untuk tidak menutup diri bahkan ketika orang yang ingin ia dekati terus mendorongnya menjauh.

Dalam Teori Kesusastraan, René Wellek dan Austin Warren (1977) menjelaskan bahwa tokoh dalam karya fiksi bukan sekadar pelaku yang menjalankan alur cerita. Tokoh adalah medium sarana pengarang menyampaikan makna yang lebih dalam dari sekadar peristiwa. Dua bocah dalam cerpen ini adalah dua cara manusia merespons trauma yang berasal dari sumber yang sama: ketiadaan kasih sayang sejak awal kehidupan. Satu menjadikan luka itu alasan untuk pergi, satu lagi menjadikannya alasan untuk tidak meninggalkan.

Wellek dan Warren juga menegaskan bahwa simbol dalam sastra memuat makna yang melampaui dirinya sendiri. Neraka dalam cerpen ini tidak sekadar menjadi latar tempat ia adalah representasi kondisi batin bocah lelaki itu sendiri. Kehidupan tanpa kasih sayang, penuh siksaan, tanpa pilihan: bukankah itu juga bisa disebut neraka? Maka perjalanannya ke sana adalah perjalanan mengkonfrontasi kondisi yang selama ini ia hidupi, dengan cara yang mungkin hanya bisa dipahami oleh seseorang yang pernah merasakannya.

Ketika ia akhirnya menemukan sang ayah di sudut neraka dan menumpahkan apa yang selama ini ia tahan, tidak ada resolusi yang rapi. Tidak ada pelukan, tidak ada maaf yang mengubah segalanya. Yang ada hanya satu anak kecil yang akhirnya bisa bertanya dan itu, rupanya, sudah lebih dari cukup untuk membuat tubuhnya sedikit lebih ringan.

Malaikat yang menemani bocah perempuan mencari temannya menyampaikan sesuatu yang menjadi kunci bacaan atas seluruh cerita ini:

"Orang yang benar-benar ingin hilang tidak membawa pulang orang yang mencintainya."

Kalimat itu adalah pembelaan paling diam-diam untuk bocah lelaki yang sepanjang cerita bersikeras tidak ingin ditemani. Bahwa ia tidak pernah benar-benar mengusir hanya tidak tahu bagaimana cara membiarkan seseorang masuk. Dan bocah perempuan tahu itu, maka ia tidak pernah benar-benar pergi.

Wellek dan Warren membedakan antara subject matter dan tema yang sesungguhnya bergerak di balik cerita. Perjalanan ke neraka adalah pokok bahasan. Tapi tema yang diam-diam menggerakkan seluruh cerita adalah pertanyaan yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih berat: apakah seseorang yang tidak pernah dicintai dengan benar masih bisa percaya bahwa ia layak untuk ditemani? Dan jawaban yang diberikan cerpen ini tidak datang dalam bentuk pernyataan ia datang dalam bentuk sepasang langkah kaki yang terus mengikuti, bahkan sampai ke tempat yang paling tidak mungkin sekalipun.

Cerpen Perjalanan ke Neraka tidak mengajarkan cara berdamai dengan masa lalu. Ia hanya menunjukkan bahwa perjalanan menuju kedamaian itu mungkin lebih mudah bila ada seseorang yang bersedia berjalan tepat setengah langkah di belakang tidak mendahului, tidak meninggalkan.

Daftar Pustaka

Wellek, R., & Warren, A. (1977). Teori Kesusastraan (M. Budianta, Penerjemah). PT Gramedia Pustaka Utama.

Kompas.id. (t.t.). Perjalanan ke neraka. Diakses dari https://www.kompas.id/artikel/perjalanan-ke-neraka