Hanya Sektor Pendidikan yang Ramah Virtual Selama Pandemi

Cendekiawan Muslim
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ahmad Afif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sektor pendidikanlah yang mampu survive kondisi bangsa yang sekarat karena COVID-19. Apalagi alur pendidikan yang notabene harus ramah teknologi dalam berbagai sektor serta lini pekerjaan di dalamnya harus juga mampu beradaptasi dengan era virus ini. Hal ini nyatanya mendapatkan respons oleh dunia pendidikan dengan baik.
Melalui inovasi platform digital dalam melakukan display serta broadcast kegiatan pembelajaran, administrasi pendidikan, ruang lingkup pendidikan sampai pada hal sifatnya non-teknis ikut diakomodir oleh platform ini. Kita bisa katakan zoom, google classroom, e learning sudah barang tentu mendapatkan angin segar melalui banyaknya aplikasi yang diunduh maupun berlangganan dengan menggunakan akun baik pribadi atau organisasi.
Preferensi dari demand itu tidak bisa dipungkiri lagi. Profit yang digenggam oleh layanan jasa daring ini selama pandemi mulai tahun 2020-2021 meroket tajam. Pada tahun 2020 meraih laba 2,6 menjadi USD 3,7 miliar pada Mei 2021. Hal ini tentunya didasarkan pada kecenderungan masyarakat dalam menggunakan platform tersebut sebagai penopang aktivitas mayornya selama pandemi. Bukan tanpa sebab juga sektor pendidikan merupakan penyumbang terbesar market share platform jenis ini.
Melalui aktivitas mayor mereka dalam hal pembelajaran salah satunya, market share zoom dalam memenuhi kebutuhan daring ini begitu dominan. Bedakan saja dengan sektor lain, misalnya ekonomi. Sektor tersebut nyaris tidak dapat digantikan perannya dibandingkan dengan sektor pendidikan karena beberapa alasan.
Resources pada pegiat usaha khususnya UMKM dinilai masih menggunakan unsur tradisional. Bayangkan saja bagaimana UMKM yang digunakan anak muda lebih bisa bernapas panjang ketika pandemi dibandingkan oleh generasi veteran. Tentu saja pembelajaran serta pendampingan dari insan veteran masih perlu ditingkatkan.
Siapa yang bertanggung jawab? semua stakeholder bertanggung jawab atas hal ini. Peran pengusaha digadang-gadang menjadi hal yang paling prinsip. Mengapa demikian? karena segala kesesuaian bisnisnya tentu sebanding dengan profesinya yang disebut dengan entrepreneur. Orang dengan profesi tersebut nyatanya masih menjadi langganan prinsip kedewasaan serta kemandirian. Termasuk dalam segi peningkatan kualitas diri agar pola pengembangan usahanya dapat dilihat langsung progresnya oleh diri mereka sendiri tentunya.
Di samping itu, sektor kesehatan juga sulit menggunakan platform digital sebagai sarana penyambung aktivitas mayor mereka bersama masyarakat memerangi virus ini. Kita bisa saksikan beberapa hari pada masa PPKM Darurat yang sejatinya akan berjalan sampai tanggal 20 Juli mendatang mendapatkan tantangan nyata dari banyaknya pasien yang datang ke rumah sakit, namun pihak RS telah kolaps. Hal ini tentunya disadari oleh seluruh stakeholder untuk memanfaatkan platform digital ini. Sudah tentu para regulator negeri ini telah bersiap dengan sarana pelayanan berbasis digital melalui sosmed dan website.
Ironisnya, hal ini cenderung top-down, artinya bahwa dari masyarakat kepada pemahaman alur kerja sistem tersebut masih kesulitan. Ini juga merupakan challenge bagi pemerintah bahwa resources serta infrastruktur tentang era digital ini untuk menghadapi 5.0 belum sepenuhnya siap. Kendali sistem kesehatan untuk informasi seputar pandemi hanya dapat diakses bagi mereka yang ramah teknologi terutama anak Milenial serta Gen Z dan X. Lebih parahnya lagi, hal itu tidak didukung dengan realitas bahwa virus COVID-19 sulit ditentukan kapan parahnya. Tracing terhadap virus ini begitu kasat mata sehingga efek panik ketika harus ditentukan waktunya ke rumah sakit juga menjadi kendala dalam memanfaatkan platform digital baik sosmed maupun website yang telah disediakan oleh pemerintah.
Sudah saatnya, pemerintah menggunakan platform ramah masyarakat. Sebut saja seperti WhatsApp serta Youtube. Mekanismenya tentu harus dipikirkan bersama. Dua kanal tersebut paling ramah diakses oleh rakyat kita. Bayangkan saja apabila para youtuber open donation baik dengan memanfaatkan channel mereka atau sifatnya ajakan menyumbang tentu akan jauh lebih berbeda situasinya.
Kembali lagi menyoal sektor pendidikan. Sekarang kendala yang dihadapi oleh sektor pendidikan justru ada pada pola kegiatan non-mayornya. Sebut saja seperti PPDB. Hal ini sangat berdampak baik dalam segi informasi sampai sense dari calon peserta didik dan orang tua sulit untuk menentukan sekolahan berikutnya karena dibatasi oleh pandemi. Tentu kita masih ingat bahwa dalam setiap edisi PPDB para calon peserta didik rajin melakukan survei bahkan sampai rela berjibaku untuk mendapatkan akses ke sekolah yang mereka inginkan agar dapat diterima.
Beda situasinya sekarang, PPDB masih memainkan peran sentral platform digital. Seakan para stakeholder insan pendidikan masih mendambakan peran sentral sebagai suksesor yang sama pada aktivitas pembelajaran daring. Tentu tidak demikian, seluruh komponen pembelajaran dengan aktivitas yang sifatnya temporer akan memiliki masa aktif serta power yang berbeda.
Untuk itulah, perlu diadakan kerja sama yang lebih merata dengan prokes yang ketat tentunya. Para calon peserta didik tetap dapat akses ke calon sekolah dambaan mereka ataupun lembaga serupa seperti pondok pesantren melalui pemanfaatan media ramah masyarakat seperti WhatsApp dan Youtube. Sama seperti halnya sektor kesehatan yang telat respons karena platform yang mereka gunakan masih misscommunication dengan masyarakat dalam memaksimalkan pengoperasiannya.
Ahmad Afif
Dewan Pendidik Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Kota Depok
