Konten dari Pengguna

Roti Widoro, Oleh-oleh Khas Sukoharjo yang Bertahan Sejak 1922

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Dani Kusnan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Roti Widoro merupakan oleh-oleh khas Sukoharjo, Jawa Tengah, yang telah legendaris sejak 1922 dengan resep warisan dari mantan koki Keraton Solo. Kuliner ini tetap eksis hingga kini berkat cita rasa autentik dan proses pembuatan tradisional yang dijaga ketat oleh generasi penerus.

Roti Widoro, oleh-oleh khas Sukoharjo. Foto: Instagram/@roti_widoro
zoom-in-whitePerbesar
Roti Widoro, oleh-oleh khas Sukoharjo. Foto: Instagram/@roti_widoro

Sejarah Panjang dan Pendiri

Roti Widoro dimulai oleh Wongso Dinomo, seorang supir kereta kencana raja Keraton Solo, yang mewarisi resep dari ibunya, Jiwo Panantang, seorang juru masak keraton pada masa itu. Awalnya, roti bolu ini dibuat khusus sebagai hidangan spesial untuk tamu hajatan atau acara keraton, kemudian dibuka usaha rumahan di Dusun Widoro, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Nguter, Sukoharjo. Kini, generasi ketiga bernama Sri Hatnanto Yuwono yang mengelolanya, menjaga tradisi selama lebih dari 103 tahun tanpa perubahan signifikan pada resep asli.

Bahan Istimewa dan Cara Pembuatan

Keunikan utama Roti Widoro terletak pada penggunaan telur bebek segar sebagai pengembang alami, dicampur dengan gula pasir murni dan tepung terigu berkualitas, tanpa campuran telur ayam atau bahan pengawet kimia. Prosesnya sepenuhnya manual: adonan dikocok dengan seikat lidi tradisional hingga mengembang sempurna, kemudian dipanggang dalam tiga tahap berbeda untuk mencapai tekstur empuk dan renyah di bagian luar. Setelah matang, roti dihias dengan tulisan atau motif sederhana dari campuran gula dan putih telur, menghasilkan rasa manis gurih yang tahan hingga 10 hari tanpa basi, sangat cocok sebagai oleh-oleh jarak jauh.

Ilustrasi Pembuatan Roti Widoro. Foto: Antara/Mohammad Ayudha

Harga, Varian, dan Daya Tarik

Roti Widoro dijual dalam tiga ukuran: kecil Rp7.000, sedang Rp8.500, dan besar Rp10.000 per biji, ditambah biaya tas pembungkus Rp500; tersedia juga varian roti kering sebagai pendamping. Popularitasnya melonjak untuk pesanan hajatan besar, acara keluarga, hingga dukungan UMKM lokal, menjadikannya ikon kuliner Sukoharjo selain jamu tradisional. Banyak wisatawan dan warga yang pulang kampung selalu memburunya, memperkuat status sebagai kudapan keraton yang kini merakyat luas.

Ahmad Dani kusnan Hidayat, mahasiswa ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.