Konten dari Pengguna

Keluar dari Jebakan Overthinking

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ahmad Yassin Al-Manshuri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang overthinking. gambar bersumber pada: https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/terapi-kognitif-perilaku-untuk-mengatasi-overthinking
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang overthinking. gambar bersumber pada: https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/terapi-kognitif-perilaku-untuk-mengatasi-overthinking

Akhir-akhir ini, saya merasakan gejala yang sangat menguras energi: overthinking. Mengutip dari Alodoktor, ini adalah kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan hingga membuat pikiran lelah. Namun, setelah mengobservasi, saya yakin solusi overthinking paling ampuh adalah tidur yang didasari kepasrahan.

Mungkin karena kegiatan saya yang cukup padat, pikiran ini seperti terus berputar tanpa jeda. Tapi lebih dari itu, saya sadar bahwa sifat saya sendiri turut memperburuk keadaan. Saya tipe orang yang selalu mempertanyakan banyak hal - bahkan hal kecil yang menurut orang lain remeh. Di kelas, jikalau ada materi yang terasa janggal sedikit saja, saya langsung ingin tahu alasannya. Di tambah jikalau saya membuat tugas harus di persiapkan sebaik mungkin karena mengincar perfeksionis dan ini pun tidak hanya saat saya membuat tugas, di kala saya mengikuti kepanitiaan, saya merasa segala suatu itu harus di perhatikan dengan sedetail mungkin dan harus perfeksionis, yap sekali lagi perfeksionis, bertemu banyak orang juga sering membuat saya berpikir berlebihan, apakah saya sudah terlihat ramah saat bergaul? Apakah kata-kata saya menyinggung perasaaan orang lain? Apakah semua yang saya lakukan sudah benar? Dan banyak apakah lainnya pada saat itu.

Tidur, Obat Murah untuk Overthinking

Secara psikologis, tidur bukan hanya kegiatan memejamkan mata dan memulihkan tubuh. Di baliknya ada organ tubuh kita yaitu otak sedang bekerja keras merapikan tumpukan pikiran dan emosi yang menumpuk sepanjang hari. Dalam sebuah penelitian dari Harvard Medical School (2025), dijelaskan bahwa selama tidur, terutama pada fase tidur nyenyak (deep sleep), aktivitas di area amigdala yaitu bagian otak yang mengatur rasa takut dan cemas yang menurun secara signifikan. Ini artinya, tidur membantu “meredam volume” dari rasa gelisah yang biasanya memicu overthinking.

Penelitian lain dari University of California, Berkeley (Walker et al., 2024) juga menemukan bahwa tidur yang cukup berperan seperti “terapi emosional alami.” Saat tidur, otak melakukan proses yang disebut emotional regulation, yaitu menyeimbangkan kembali reaksi emosional berlebihan yang muncul akibat stres. Mereka yang tidur cukup terbukti memiliki tingkat kecemasan 30% lebih rendah dibanding mereka yang kurang tidur.

Dari dua temuan itu, saya jadi semakin yakin bahwa tidur benar-benar bisa menjadi “obat termurah” untuk overthinking. Karena lewat tidur, otak mendapat kesempatan untuk menata ulang semua kecemasan dan pikiran yang bertabrakan, tanpa perlu terapi mahal atau solusi rumit.

Perspektif Islam: Tidur, Obat Murah untuk Overthinking

Setelah menelaah dari sisi sains dan psikologi, yang menguatkan fakta bahwa tidur adalah "terapi emosional alami" bagi otak, kita menemukan sebuah konfirmasi spiritual yang lebih mendalam dalam Al-Qur'an. Perspektif ini menjawab mengapa tidur menjadi solusi termurah dan paling fundamental untuk mengatasi beban pikiran berlebihan (overthinking).

Dalam Islam, tidur bukanlah sekadar kegiatan biologis, melainkan sebuah anugerah dan ketetapan Ilahi. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Naba’ (78) ayat 9:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا

"Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat (penghilang penat)."

Inti dari ayat ini terletak pada kata kunci سُبَاتًا (Subātan). Kata ini tidak hanya berarti istirahat biasa, tetapi memiliki makna: "Memutus total," "Menghentikan aktivitas," atau "Jeda dari kesibukan." Subāt: Jeda Spiritual dari Lingkaran Overthinking

Jika kita kaitkan dengan kondisi overthinking - di mana pikiran terus berputar tanpa henti, didorong oleh perfeksionisme, kekhawatiran, dan keraguan - konsep Subāt berfungsi sebagai "tombol reset total" yang diwajibkan oleh Tuhan:

  1. Memutus Beban Eksistensial: Overthinking adalah beban kelelahan mental yang disebabkan oleh keinginan berlebihan untuk mengontrol segala hal. Subāt mengingatkan kita bahwa ada batas kemampuan manusia. Allah telah menetapkan batas di mana kita harus memutus pikiran-pikiran yang tidak produktif dan menyerahkan kontrol kepada Zat yang Maha Kuasa (Tawakal).

  2. Istirahat dari Was-Was: Kecenderungan mempertanyakan setiap detail (apakah saya sudah ramah? apakah sudah sempurna?) seringkali berakar dari was-was (bisikan keraguan). Surah An-Naba' ayat 9 menegaskan bahwa tidur adalah waktu istirahat total dari bisikan tersebut. Inilah mengapa Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan untuk membaca surat-surat perlindungan (seperti Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas) sebelum tidur yaitu sebuah praktik spiritual yang secara efektif membersihkan pikiran dari keraguan sehingga Subāt dapat bekerja maksimal.

  3. Restorasi Ketenangan Hati: Secara spiritual, jika pikiran kita sebelum tidur dipenuhi zikir (mengingat Allah, sebagaimana dalam QS. Ar-Ra’d: 28: "hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram"), maka tidur (sebagai Subāt) akan menjadi proses pemulihan yang sangat efektif. Otak akan beristirahat secara biologis, sementara hati akan tenteram secara spiritual.

Dengan demikian, meyakini dan menjalani tidur sebagai Subāt adalah tindakan spiritual yang sangat kuat. Ini adalah penyerahan diri dan pengakuan bahwa kita adalah hamba yang lemah dan lelah, yang berhak menerima anugerah istirahat dari Pencipta. Tidur bukanlah pelarian dari overthinking, melainkan jalur resmi yang dijamin oleh ilahi untuk memulihkan energi mental dan mengembalikan ketenangan hati.

Penutup: Solusi Overthinking dan Kunci Ketenangan Hati

Setelah menelusuri lorong pikiran yang berlebihan dan menemukan jawaban dari ranah psikologi hingga spiritual, jelaslah bahwa perjuangan melawan overthinking bukanlah pertarungan yang harus kita menangkan saat mata terbuka, melainkan perjuangan yang kita serahkan saat kita memejamkannya. Secara psikologis, kita tahu perfeksionisme yang kita paksakan membebani Amigdala, dan secara ilmiah, tidur terbukti meredam kecemasan tersebut. Namun, konfirmasi terkuat datang dari Al-Qur'an. Allah telah menetapkan tidur sebagai سُبَاتًا (Subātan) - sebuah jeda atau istirahat total, anugerah ilahi bagi hamba yang lelah. Menolak tidur, atau membiarkannya diganggu oleh kekhawatiran, sama saja dengan menolak karunia pemulihan yang telah dijamin-Nya.

Maka, bagi kita yang terbiasa hidup dengan rentetan pertanyaan “apakah sudah benar?” atau “apakah sudah sempurna?”, solusi termudah dan termurah untuk melawan overthinking adalah dengan melakukan ritual tidur yang bermakna. Sebelum merebahkan diri, jadikan Tawakal sebagai "tombol shutdown” pikiran: yakini bahwa Anda telah berusaha sebaik mungkin, dan serahkan semua hasil serta penilaian orang lain kepada Allah. Latihlah hati untuk berkata, "Aku telah berusaha, selebihnya adalah urusan-Nya." Kemudian, amalkan zikir dan surat-surat perlindungan; menjadikannya sebagai "pagar digital" yang membersihkan pikiran Anda dari was-was (bisikan keraguan) yang memicu overthinking. Dengan melakukan ini, kita menghargai dan menerima penuh anugerah Subāt.

Pada akhirnya, tidur memang menghilangkan overthinking - bukan dengan menghapus masalah dari kehidupan, melainkan dengan memberikan jeda wajib agar otak dan hati kita dapat mengatur ulang diri. Saat kita bangun dari Subāt dengan hati yang tenteram, kita tidak lagi menghadapi dunia dengan kecemasan yang berlebihan, melainkan dengan energi yang diperbarui dan keyakinan (Tawakal) yang jauh lebih kuat.

Semoga tulisan yang masih dalam proses belajar ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk memberi diri waktu beristirahat, menjaga kesehatan pikiran, dan berserah diri kepada Allah. Barakallahu fikum, semoga bermanfaat.

embed from external kumparan

embed from external kumparan