Konten dari Pengguna

Ketika Diam Menjadi Pilihan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ahmad zayd dzidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi buku cerpen seekor beras dan sebutir anjing. Photo by binevva from Pexels: https://www.pexels.com/photo/book-in-close-up-photography-14265466/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi buku cerpen seekor beras dan sebutir anjing. Photo by binevva from Pexels: https://www.pexels.com/photo/book-in-close-up-photography-14265466/

Pernah nggak sih terpikir kalau sesuatu yang sederhana seperti bahasa ternyata bisa dipakai untuk mengendalikan orang lain? Kita biasanya menganggap bahasa hanya sebagai alat komunikasi. Padahal, dalam situasi tertentu, bahasa bisa berubah menjadi alat kekuasaan. Hal itulah yang terasa kuat dalam cerpen "Sebutir Anjing dan Seekor Beras" karya Eka Arif Setyawan.

Gambaran Isi Cerpen

Di permukaan, cerpen ini mungkin terlihat seperti kisah tentang aturan yang aneh. Namun, kalau dibaca lebih dalam, cerita ini sebenarnya mengajak kita melihat bagaimana kekuasaan bisa masuk ke hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan, sampai mengatur cara seseorang berbicara dan memandang orang lain.

Landasan Teori

Menurut René Wellek dan Austin Warren dalam Theory of Literature, pendekatan intrinsik merupakan cara mengkaji karya sastra dengan menitikberatkan pada unsur-unsur yang terdapat di dalam karya itu sendiri. Analisis intrinsik tidak berfokus pada latar belakang pengarang ataupun kondisi sosial di luar teks, tetapi pada bagaimana unsur-unsur pembangun karya saling berhubungan dan membentuk makna secara utuh.

Unsur intrinsik tersebut meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, serta amanat. Melalui pendekatan ini, karya sastra dipahami sebagai suatu struktur yang memiliki keterkaitan antarelemen sehingga menghasilkan makna tertentu.

Dalam cerpen Sebutir Anjing dan Seekor Beras, teori intrinsik René Wellek digunakan untuk melihat bagaimana tema kekuasaan dibangun melalui penokohan walikota, konflik yang muncul akibat aturan penggunaan bahasa, dialog antartokoh, serta amanat yang disampaikan pengarang mengenai batas penggunaan kekuasaan terhadap kebebasan individu.

Kekuasaan Tokoh Walikota

Tokoh Utama walikota dalam cerpen digambarkan sebagai sosok yang memiliki kuasa besar. Sayangnya, kekuasaan itu justru dipakai untuk mengatur sesuatu yang sebenarnya bukan urusan pemerintah, yaitu bahasa. Kritik itu terlihat dari kutipan,

"Sejak kapan walikota dan dewan mengurusi penggunaan tata bahasa?"

Kalimat ini seolah mempertanyakan batas antara kewenangan pemimpin dan kebebasan masyarakat.

Bahasa sebagai Alat Kekuasaan

Yang membuat cerpen ini menarik adalah cara pengarang menunjukkan bahwa bahasa bukan lagi sekadar alat komunikasi. Bahasa berubah menjadi alat untuk mengendalikan masyarakat. Ketika penguasa menentukan kata yang boleh dipakai dan makna yang harus dipercaya, masyarakat perlahan kehilangan kebebasan untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.

Dampak bagi Masyarakat

Dampaknya juga tidak berhenti di ruang pemerintahan. Aturan itu ikut memengaruhi hubungan antarwarga. Salah satu adegan yang paling kuat adalah ketika seorang ayah memaki anaknya dengan sebutan,

"Dasar seekor anjing! Sudah kuminta untuk ambil gabah di sawah kenapa malah ke sekolah?"

Bahkan ancaman, "Jika kau ulangi lagi, tongkat ini bisa akhiri nyawamu, seekor anjing!"

menunjukkan bahwa bahasa yang dibentuk oleh kekuasaan akhirnya ikut melahirkan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.

Makna Kritik Sosial

Dari sini terlihat bahwa penyalahgunaan kekuasaan tidak selalu hadir dalam bentuk hukuman atau kekerasan fisik. Kadang, ia hadir lewat kata-kata yang terus diulang sampai dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Lama-kelamaan, masyarakat ikut menerima aturan itu tanpa berani mempertanyakannya.

Makna Judul

Inilah yang membuat judul "Ketika Diam Menjadi Pilihan" terasa relevan. Bukan karena masyarakat setuju dengan aturan yang ada, tetapi karena mereka merasa tidak lagi punya ruang untuk bersuara. Diam akhirnya menjadi cara paling aman untuk bertahan. Lewat cerpen ini, Eka Arif Setyawan mengingatkan bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi masyarakat, bukan mengendalikan cara mereka berpikir. Sastra pun menunjukkan perannya sebagai ruang untuk menyampaikan kritik sosial. Sebab, ketika bahasa mulai dikendalikan dan suara-suara mulai dibungkam, yang dipertaruhkan bukan hanya kebebasan berbicara, tetapi juga kebebasan manusia untuk berpikir.

DAFTAR PUSTAKA

Eka Arif Setyawan. (2024). Sebutir Anjing dan Seekor Beras. Kompas. (Sesuaikan tahun terbit dengan sumber cerpen yang kamu gunakan.)

René Wellek, & Austin Warren. (2016). Theory of Literature (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.