Saat Harapan Terlalu Besar, Cinta Jadi Terasa Berat

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan program pendidikan bahasa dan sastra Indonesia semester 2
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ahmad zayd dzidan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang bilang kalau cinta bisa mengalahkan apa saja. Selama masih saling sayang, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Dalam cerpen "Perihal Menyederhanakan Cinta", cinta justru terasa rumit karena dipenuhi harapan, janji, dan penantian yang tidak kunjung selesai. Cerita ini menunjukkan kalau rasa cinta saja belum tentu cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan.
Awal hubungan tokoh Aku dengan Tokoh laki laki bumi
Tokoh Aku menjalin hubungan dengan Tokoh utama, seorang laki-laki yang sudah memiliki istri dan anak. Sejak awal, ia sadar kalau hubungan itu tidak mudah dan penuh risiko. Meski begitu, ia tetap memilih bertahan karena percaya bahwa suatu saat Bumi akan menepati janjinya. Hal itu terlihat dari ucapannya,
"Aku putuskan, ya, aku menunggu. Terlepas apa yang menanti di ujung sana."
Kutipan tersebut memperlihatkan bahwa tokoh Aku lebih memilih menggantungkan harapan daripada meninggalkan hubungan yang belum memiliki kepastian.
Harapan sebagai alasan bertahan
Harapan itulah yang membuatnya terus bertahan. Setiap kali muncul keraguan, ia kembali percaya bahwa Bumi hanya membutuhkan sedikit waktu lagi untuk menyelesaikan masalahnya. Keyakinan itu terlihat dalam kalimat,
"Berbulan sejak kisah itu, aku masih percaya Bumi akan menepati janjinya, ia hanya perlu waktu sedikit lagi."
Dari kutipan ini terlihat bahwa harapan bisa membuat seseorang tetap menunggu, bahkan ketika kenyataan belum menunjukkan perubahan apa pun.
Dampak menunggu tanpa kepastian
Namun, menunggu terlalu lama akhirnya membawa rasa lelah. Semakin lama waktu berjalan, tokoh Aku mulai merasa bahwa dirinya hanya terus diberi harapan tanpa kepastian. Perasaan itu tergambar dalam pengakuannya,
"Aku pikir aku mulai kelelahan, menunggu Bumi yang tidak juga bercerai. Aku kehilangan harga diriku sebagai seorang perempuan."
Kutipan ini menunjukkan bahwa hubungan yang dipenuhi janji tetapi tanpa tindakan nyata bisa membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri dan mulai mempertanyakan harga dirinya.
Konflik dan runtuhnya harapan
Keadaan menjadi semakin rumit ketika Tokoh utama Bumi memberi tahu bahwa istrinya sedang hamil. Kabar itu membuat tokoh Aku sadar bahwa kenyataan tidak berjalan seperti yang selama ini ia bayangkan. Ia dihadapkan pada pilihan yang sulit, yaitu tetap bertahan dalam hubungan yang tidak jelas atau memilih pergi meski harus merasakan sakit. Dari bagian ini terlihat bahwa tidak semua harapan akan berakhir sesuai keinginan, dan tidak semua janji mampu diwujudkan.
Analisis hubungan tokoh berdasarkan teori cinta Erich Fromm
Kalau dilihat dari pemikiran "Erich Fromm", cinta bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tentang tanggung jawab, komitmen, dan keberanian mengambil keputusan. Seseorang yang benar-benar mencintai tidak hanya memberikan janji, tetapi juga membuktikannya lewat tindakan. Dalam cerpen ini, Bumi memang menunjukkan rasa sayang kepada tokoh Aku, tetapi ia tidak mampu memberikan kepastian yang selama ini dijanjikan. Akibatnya, hubungan mereka lebih banyak diisi dengan penantian daripada langkah nyata untuk membangun masa depan bersama.
Kesimpulan dan pesan moral cerpen
Lewat cerpen "Perihal Menyederhanakan Cinta", pembaca diajak memahami bahwa bertahan demi cinta tidak selalu menjadi pilihan yang terbaik. Ada kalanya seseorang harus berani menerima kenyataan, meskipun kenyataan itu tidak sesuai dengan harapannya. Cinta memang membutuhkan kesabaran, tetapi juga membutuhkan kepastian dan tanggung jawab. Seperti yang diungkapkan tokoh Aku di akhir cerita,
"Betapa sulitnya mendorong cinta."
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa cinta tidak cukup hanya dirasakan, tetapi juga harus diperjuangkan dengan tindakan yang nyata, bukan sekadar janji dan harapan.
DAFTAR PUSTAKA
Erich Fromm. (2002). The Art of Loving. New York: Harper Perennial Modern Classics. (Karya asli diterbitkan tahun 1956).
Nina Nurmila. (2023). Perihal Menyederhanakan Cinta. Dalam Kompas (Cerpen Pilihan).
