Konten dari Pengguna

Bukan Sekadar Alat, Tapi Tempat Cerita

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ai Ulfatun Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fotografi dan Videografi Cara Kita Menulis Sejarah Masa Muda

Perkenalkan, nama saya Ai Ulfatun Hasanah, mahasiswa semester 2 Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.

Di era digital yang serba cepat ini, setiap detik kehidupan kita seolah berlomba untuk diabadikan. Lewat genggaman ponsel pintar, dunia seakan berada di bawah kendali jempol kita. Namun, sebagai seseorang yang mendalami dunia fotografi dan videografi, saya sering kali merenung: apakah kita benar-benar mengabadikan makna, atau sekadar menumpuk file digital di penyimpanan awan?

Bagi saya, memindahkan realitas ke dalam bentuk visual baik itu diam dalam bingkai foto maupun bergerak dalam deretan frame video bukanlah sekadar soal mencari resolusi tinggi atau spesifikasi alat yang mahal. Ini adalah tentang cara kita memaknai dunia dari sudut pandang yang berbeda.

Memandang danau situ gintung sebagai objek foto dan video untuk pemotretan sebagai cerita untuk masa depan

Menemukan Empati di Balik Lensa

Fotografi dan videografi adalah tentang empati. Saat saya mengarahkan lensa ke keramaian kota, saya tidak sedang berburu objek yang sempurna atau estetika yang dipaksakan. Saya sedang mencari cerita yang tersembunyi di balik gerak manusia. Banyak orang melihat jalanan hanya sebagai ruang untuk beraktivitas, namun di balik viewfinder, saya melihat alur cerita yang menanti untuk disunting dan dibekukan dalam waktu.

Fotografi mengajarkan kita untuk sabar menunggu momen yang tepat. Ada keajaiban dalam menunggu cahaya matahari yang pas atau ekspresi seseorang yang jujur. Sementara itu, videografi memaksa kita untuk memahami ritme kehidupan yang mengalir. Keduanya adalah alat bagi kita, generasi muda, untuk mencatat sejarah personal kita.

Foto saat menyebrang jpo, menuju gelora bung karno

Kamera Hanyalah Perpanjangan Tangan

Sering kali, pertanyaan yang muncul dari rekan sebaya adalah, "Kamera apa yang kamu pakai?" atau "Pakai lensa berapa?". Padahal, pada akhirnya, kamera hanyalah perpanjangan tangan. Kamera tidak menentukan kualitas cerita; kitalah yang memberinya jiwa. Storytelling adalah inti dari segalanya.

Kita tidak perlu menunggu kamera profesional untuk mulai bercerita. Cerita terbaik justru sering muncul dari sudut pandang yang paling jujur, diambil dengan alat yang paling dekat dengan kita saat ini. Masa muda yang sering kali berlalu begitu saja dan mudah dilupakan, kini bisa kita "jaga" dalam bingkai foto atau video pendek yang autentik.

Editing foto dan video di kamar

Ajakan untuk Melihat Lebih Jauh

Mulai hari ini, cobalah untuk melihat lingkungan sekitar dengan mata yang berbeda. Setiap sudut kamar, setiap tatapan teman, dan setiap jejak kaki di trotoar adalah potongan sejarah masa muda yang berharga. Jangan biarkan ia hilang begitu saja ditelan waktu.

Rekamlah, potretlah, dan biarkan dunia melihat melalui perspektifmu sendiri. Karena di masa depan, foto dan video yang kita ambil hari ini bukan lagi sekadar data, melainkan jendela untuk kembali ke masa lalu melihat kembali bagaimana kita pernah tumbuh, berproses, dan menemukan makna di balik setiap objek yang kita abadikan.