Fase After Break Up Saat Rutinitas Kuliah Tetap Berjalan

Mahasiswi Sistem Informasi S1 Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aisya Dwi Hapsari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Alarm tetap berbunyi jam yang sama. Jadwal kelas tetap dimulai jam yang sama. Tugas kelompok tetap harus dikumpulkan sesuai deadline yang sudah ditentukan dosen. Tapi ada satu hal yang berubah total: orang yang biasanya ada di sepanjang rutinitas itu, sekarang sudah tidak ada lagi. Break up mungkin mengubah banyak hal dalam hidup, tapi ada satu hal yang tidak ikut berhenti yaaitu jadwal kuliah.
Fase ini sering luput dibicarakan. Kebanyakan obrolan soal putus cinta berkutat di seputar cara move on atau melupakan mantan, padahal ada persoalan yang lebih dekat dan nyata: bagaimana caranya tetap menjalani hari-hari kuliah seperti biasa, ketika separuh dari rutinitas itu dulunya selalu melibatkan orang yang sekarang sudah bukan siapa-siapa lagi.
Rutinitas yang Sama, Tapi Orangnya Sudah Berbeda
Sebelum putus, mungkin ada kebiasaan kecil yang tidak pernah disadari sebagai sesuatu yang berharga: berangkat kuliah bareng naik motor yang sama, sarapan di kantin sambil menunggu kelas dimulai, chat pagi-pagi sebelum masuk kelas pertama, atau sekadar ketemu sebentar di parkiran kampus sebelum masing-masing sibuk dengan urusan sendiri.
Begitu hubungan berakhir, rutinitas fisiknya sebenarnya tidak hilang. Motor tetap dipakai ke kampus, kantin tetap buka jam yang sama, kelas tetap dimulai sesuai jadwal. Yang hilang cuma satu: orang yang biasa mengisi rutinitas itu bersama kita. Efeknya justru bisa terasa lebih berat dibanding kalau rutinitasnya benar-benar berubah total, karena setiap sudut kampus yang biasa dilewati bisa jadi pengingat kecil tentang sesuatu yang sudah tidak ada lagi.
Kuliah Tidak Pernah Menawarkan Jeda
Yang membuat fase ini terasa berat adalah kenyataan bahwa dunia perkuliahan tidak pernah menawarkan waktu jeda untuk "menenangkan diri dulu". Tugas tetap harus dikumpulkan, presentasi tetap harus dipresentasikan, praktikum tetap harus diikuti sesuai jadwal, dan rapat organisasi tetap berjalan seperti biasa.
Tidak ada dosen yang bertanya, "kamu lagi baik-baik aja nggak sebelum ujian ini dimulai?" Semua tuntutan akademik tetap berjalan dengan kecepatan yang sama, terlepas dari apa yang sedang terjadi di kehidupan pribadi mahasiswanya. Ini yang membuat banyak orang merasa harus "berfungsi normal" secara instan, padahal secara emosional belum tentu sudah siap.
Ketika Pikiran Tiba-Tiba Melayang di Tengah Kelas
Ada momen-momen tertentu yang sering terjadi tanpa diduga: sedang duduk di kelas mendengarkan dosen menjelaskan materi, tiba-tiba pikiran melayang ke percakapan terakhir sebelum putus. Sedang mengerjakan tugas kelompok, tiba-tiba teringat momen dulu mengerjakan tugas bersama dengan cara yang sama sekarang, tapi dengan orang yang berbeda.
Kondisi ini wajar terjadi, karena otak butuh waktu untuk "memisahkan" antara aktivitas dan kenangan yang selama ini menempel padanya. Semakin lama sebuah hubungan berlangsung, semakin banyak pula titik-titik kecil dalam rutinitas kuliah yang sudah terhubung dengan kenangan bersama mantan dan titik-titik itu tidak hilang begitu saja hanya karena hubungannya sudah berakhir.
Ketika Masih Satu Kampus, Bahkan Satu Kelas
Situasi menjadi lebih rumit lagi kalau ternyata masih satu kampus, satu jurusan, atau bahkan satu kelas dengan mantan. Berbeda dengan putus dengan orang yang sudah tidak akan pernah bertemu lagi, kondisi ini menuntut cara beradaptasi yang berbeda karena kemungkinan bertemu bukan sesuatu yang bisa dihindari sepenuhnya.
Bisa saja tiba-tiba berpapasan di lorong kampus, duduk di kelas yang sama untuk mata kuliah wajib, atau bertemu di organisasi yang sama-sama diikuti sejak sebelum putus. Setiap pertemuan seperti ini butuh penyesuaian tersendiri: bagaimana bersikap wajar tanpa harus terlihat canggung berlebihan, dan bagaimana tetap fokus pada urusan akademik meski hati belum sepenuhnya tenang.
Mulai Membangun Rutinitas yang Baru
Perlahan, satu-satu rutinitas yang dulu dijalani berdua mulai digantikan dengan cara baru. Berangkat kuliah yang biasanya berdua, sekarang dijalani sendiri atau bareng teman lain. Waktu makan siang yang dulu selalu diisi bersama pasangan, sekarang jadi kesempatan untuk lebih sering nongkrong dengan circle pertemanan yang mungkin sempat agak terpinggirkan selama pacaran.
Proses ini biasanya tidak terjadi dalam semalam. Ada masa-masa canggung di awal, merasa aneh melakukan sesuatu sendirian yang dulu biasa dilakukan berdua. Tapi lambat laun, rutinitas baru ini mulai terasa lebih natural, bahkan sering kali membuka ruang untuk hal-hal yang sebelumnya jarang dilakukan seperti ikut kegiatan kampus yang dulu terlewat, lebih dekat dengan teman-teman lama, atau sekadar menikmati waktu sendirian tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan orang lain.
Kuliah Bukan Pelarian, Tapi Bagian dari Proses Pulih
Penting untuk membedakan antara menjadikan kuliah sebagai pelarian dan menjadikan kuliah sebagai bagian dari proses kembali ke rutinitas yang teratur. Menyibukkan diri secara berlebihan hanya untuk menghindari perasaan yang belum selesai bisa menjadi caranya untuk lari dari masalah, bukan menyelesaikannya.
Namun tetap menjalani rutinitas kuliah apa adanya — datang ke kelas, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi seperti biasa atau justru bisa membantu memberi struktur pada hari-hari yang mungkin terasa berantakan secara emosional. Rutinitas yang tetap berjalan memberi semacam pijakan: ada hal-hal yang masih bisa dikendalikan dan diselesaikan, meski ada bagian lain dari hidup yang sedang terasa berantakan.
Hidup Sebagai Mahasiswa Tidak Ikut Berhenti
Break up mungkin terasa seperti dunia berhenti sejenak, tapi kenyataannya kalender akademik tidak pernah ikut berhenti menunggu siapa pun selesai berduka. Jadwal kuliah tetap jalan, deadline tugas tetap datang, dan semester tetap harus diselesaikan.
Justru dari sinilah proses adaptasi terjadi secara alami. Bukan karena dipaksa untuk "pura-pura baik-baik saja", tapi karena kehidupan sebagai mahasiswa menuntut kita untuk terus bergerak maju, langkah demi langkah, sambil membawa proses penyembuhan itu berjalan beriringan di latar belakang. Lama-kelamaan, rutinitas yang tadinya terasa menyakitkan karena penuh kenangan, mulai berubah menjadi rutinitas yang benar-benar milik diri sendiri, bukan lagi bayang-bayang dari hubungan yang sudah berakhir.
Penutup
Hubungan boleh berakhir, tapi kehidupan sebagai mahasiswa tidak ikut berhenti bersamanya. Ada proses menyesuaikan diri yang tidak instan ketika rutinitas yang sama harus dijalani dengan keadaan yang sudah berbeda namun masih di kelas yang sama dan kampus yang sama, tapi tanpa kehadiran orang yang dulu selalu ada di sana. Yang terpenting bukan seberapa cepat semuanya kembali normal, tapi bagaimana perlahan-lahan rutinitas lama itu bisa dibangun ulang menjadi sesuatu yang baru, yang benar-benar milik diri sendiri.
