Konten dari Pengguna

Embun Sirna dalam Genggaman Hamidah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aisyah Nurnajmi Sholihah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/cahaya-teh-lampu-memuja-2692556/
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/cahaya-teh-lampu-memuja-2692556/

Fatimah Hasan Delais atau nama pena Hamidah adalah seorang penyair serta menulis novel Indonesia. Salah satu karyanya berupa novel Kehilangan Mestika yang terbit pada tahun 1969. Hamidah lahir pada tanggal 13 Juni 1915 dan wafat tanggal 8 Mei 1953. Hamidah berhasil membuat salah satu karya sastra yang mengubah seluruh perspektif pandangan orang tentang perempuan. Di mana dahulu perempuan selalu mendapatkan tekanan sosial yang membatasi kebebasan dan hak-haknya . Yang hanya boleh sekolah hanya laki-laki, sementara perempuan tidak boleh bersekolah. Mereka harus memuaskan laki-laki dan mengurus rumah tangga. Hal tersebut terbentuklah kesetaraan gender terhadap perempuan. Peristiwa itu yang membuat Hamidah bergerak untuk menyalurkan perasaannya ke dalam kertas.

Hamidah perempuan dengan segala upaya

Apa kalian pernah membayangkan hidup tanpa kedua orangtua? Anak berusia 4 tahun baru saja menangisi ibunya yang meninggal dunia. Anak tersebut bernama Hamidah. Hamidah memilik 6 bersaudara, namun 2 saudara tersebut telah meninggal dunia. Tak lama ayahnya pun menyusul ibunya ke akhirat. Sejak kecil ia selalu dibesarkan dalam lingkungan yang membatasi hak seorang perempuan. Pertepatan dengan peristiwa tersebut ibunya meninggal dunia. Tentu pasti akan sangat menyakitkan bila terdapat orang yang kita cintai meninggal dunia. Bagaimana rasa kesedihan itu berlangsung? Apalagi kalian seorang perempuan. Apa kalian pernah membayangkan betapa susahnya seorang perempuan pada tahun 1969?

Hamidah dikisahkan mengalami banyak masalah percintaan dan tekanan dari masyarakat setempat. Ketika ia remaja, Hamidah diuji dengan tertimpanya masalah dalam percintaan. Ia bertemu dengan sahabat kecil yang bernama Ridhan. Ridhan dan Hamidah memiliki hubungan kuat dalam kisah cinta. Hamidah selalu jatuh cinta padanya. Namun nasib sial menimpa gadis malang itu. Keluarga Ridhan tidak menyetujui hubungan mereka. Hamidah sedikit kecewa, mereka berakhir dengan Hmidah merelakan sahabat kecilnya sekaligus cinta pertamanya. Beberapa setelah itu, tak lama Ridhan meninggal dunia setelah tak direstui oleh keluarganya.

Selang beberapa hari, Hamidah ingin sekolah tinggi namun selalu mendapat tekanan dari bibi dan pamannya yang bernama Pak Hasan. Ia dilarang sekolah tinggi-tinggi karena bagi mereka, itu buang-buang waktu saja. Perempuan ya perempuan, harus berada di rumah biarlah seorang laki-laki yang sekolah tinggi-tinggi untuk mencari nafkah. Hamidah menurut, tak banyak yang dapat dilakukan. Tak butuh waktu yang lama, ia berhasil menjalin hubungan lagi dengan seorang pria yang bernama Idrus. Sayangnya hubungan mereka tak sejalan dengan bayangan Hamidah. Gadis itu tetap mendapatkan penolakan dari keluarganya sendiri yakni bibi dan paman. Hamidah murung, ia bersih keras untuk mendapatkan Idrus kembali. Tapi gagal, sudah beberapa kali Hamidah membujuk tidak membuahkan hasil. Hamidun sempat frustasi. Semua jalan hidupnya diatur oleh keluarganya.

Beberapa bulan berlalu, Hamidah sempat mendengar kabar bahwa Idrus sang mantan kekasihnya telah meninggal dunia karena sakit. Hamidah pada saat itu cukup merasa sedih karena masih cinta pada Idrus. Ia seperti di terkurung dalam sangkar, tak dapat memilih jalan hidupnya sendiri. Terlebih lagi Hamidah mempunyai cita-cita yang tinggi yakni menjadi seorang guru. Terlihat Hamidah murung beberapa hari di kamar, Bibi Hasan yang melihat hal tersebut merasa kasihan pada dirinya. Akhirnya memutuskan untuk menjodohkan Hamidah dengan pria pilihan terbaiknya. Pria tersebut bernama Rusli. Hamidah yang mengetahui hal itu tentu menolak, namun karena sudah tidak ada piloihan lain (ia juga tidak bersekolah) Hamidah menolah perjodohan itu walaupun hatinya masih tertinggal dalam hati Idrus.

Hamidah tentu sempat memberontak, namun ia hanya pasrah berjodoh dengan Rusli. Tapi alam begitu kejam, Hamidah juga mendapatkan tekanan tidak bebas dalam berpendidikan dan adat tradisi di sana. Dari lubuk hati yang dalam, Hamidah tidak mencintai Rusli. Ia hanya menerima dan mengalah dari tekanan keluarganya. Hamidah sudah terbiasa tunduk dan pasrah kepada bibi dan pamannya karena mereka lah yang senantiasa merawat Hamidah dari kecil hingga remaja. Nilai-nilai tradisi di sana juga melihat bahwa Hamidah perempuan yang harus patuh kepada keputusan keluarga. Namun, bibi dan pamannya meninggal dunia setelah beberapa bulan itu. Hamidah ada sedikit sedih dalam kejadian kelam tersebut. Bertepatan dengan meninggalnya Rusli. Di akhir cerita, Hamidah tidak merasa sedih. Walaupun ia kehilangan orang yang disayanginya namun Hamidah bebas dalam berpendidikan. Hamidah dapat bersekolah tinggi-tinggi dan kembali mengejar cita-citanya. Tak ada satupun orang yang akan menghalangi jalan pencapaian seorang gadis cantik ini.

Pesan menurut pembaca dalam karaktek Hamidah

Tak terbayang bukan apa yang dialami oleh Hamidah dalam kondisi seperti itu? Kesetaraan gender pada masa itu benar-benar sangat kompleks. Hamidah kehilangan satu persatu orang yang disayanginya. Karakter Hamidah dalam menjalankan hidupnya sangat tidak putus asa. Ia berusaha mencari kebebasan yang dapat menerima perempuan sebagai kesetaraan gender. Hamidah ingin membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan hak-hak yang tidak pernah didapat oleh perempuan sebelumnya. Hak-hak tersebut seperti memiliki cita-cita tinggi menjadi guru. Dan itu lah mengapa novel ini dinamakan Kehilangan Mestika.

Daftar Pustaka:

Delais, Fatimah Hasan. (1935). Kehilangan Mestika. Jakarta: Balai Pustaka.