Konten dari Pengguna

IHSG Terjun di Era Prabowo: Apa yang Sebenarnya Dikhawatirkan Pasar?

M Akbar Febriyan

M Akbar Febriyan

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Sistem Informasi

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Akbar Febriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Pasar saham sering kali dianggap sebagai cerminan kondisi ekonomi sebuah negara. Ketika indeks menguat, investor cenderung lebih optimistis. Sebaliknya, ketika indeks jatuh, muncul pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Situasi ini sedang menjadi perhatian di Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang 2026. Hingga akhir September, IHSG ditutup di level 6.071,13, terkoreksi sekitar 29,79% sejak awal tahun. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar bukan sekadar perubahan harga dalam satu atau dua hari perdagangan.

Di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kondisi ini memunculkan pertanyaan penting: apakah pasar sedang bereaksi terhadap kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, atau kombinasi keduanya?

Jawabannya tidak sesederhana menyalahkan satu pihak. Pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh banyak faktor, tetapi kepercayaan investor menjadi salah satu unsur yang sangat menentukan.

Pasar Tidak Hanya Melihat Kondisi Hari Ini

Investor membeli saham bukan hanya berdasarkan kondisi perusahaan saat ini, tetapi juga berdasarkan perkiraan keuntungan dan risiko pada masa mendatang.

Ketika investor menilai prospek ekonomi membaik, mereka cenderung lebih berani menempatkan dana di pasar saham. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, sebagian investor memilih mengurangi kepemilikan saham atau memindahkan dananya ke instrumen yang dianggap lebih aman.

Dalam konteks Indonesia, ketidakpastian kebijakan pemerintah dan kekhawatiran terhadap pengelolaan fiskal menjadi perhatian pelaku pasar. Reuters melaporkan pada Juni 2026 bahwa sejumlah keputusan pemerintahan Prabowo, kebutuhan pembiayaan program pemerintah, dan tekanan nilai tukar ikut memperbesar kekhawatiran investor.

Hal ini tidak otomatis berarti seluruh kebijakan pemerintah buruk. Namun, pasar membutuhkan kejelasan mengenai sumber pembiayaan, prioritas belanja, dan dampak kebijakan terhadap dunia usaha.

Kekhawatiran terhadap Anggaran Negara

Salah satu hal yang diperhatikan investor adalah kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara belanja negara dan penerimaan.

Program pembangunan, bantuan sosial, pendidikan, dan berbagai agenda prioritas membutuhkan anggaran yang besar. Program tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi apabila dirancang dan dilaksanakan secara efektif.

Namun, investor juga ingin mengetahui bagaimana program-program tersebut dibiayai dan apakah pelaksanaannya tetap menjaga kesehatan fiskal negara.

Ketika kebutuhan belanja meningkat sementara penerimaan tidak tumbuh sesuai harapan, risiko terhadap defisit anggaran dan pembiayaan pemerintah dapat menjadi perhatian.

Kekhawatiran semacam ini juga berhubungan dengan nilai tukar dan pasar obligasi. Jika investor menilai risiko suatu negara meningkat, mereka dapat meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk menempatkan dana atau memilih mengurangi eksposur investasinya.

Karena itu, transparansi anggaran dan disiplin fiskal penting bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi kepercayaan pasar.

Kebijakan Pemerintah dan Independensi Bank Sentral

Faktor berikutnya adalah hubungan antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Pemerintah membutuhkan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi, sementara bank sentral bertugas menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan sesuai mandatnya.

Keduanya perlu berkoordinasi, tetapi investor juga memperhatikan apakah keputusan moneter tetap dibuat secara kredibel dan berdasarkan pertimbangan yang tepat.

Pada Januari 2026, Reuters melaporkan bahwa pelemahan rupiah dan arus keluar modal turut dipengaruhi kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal serta persepsi terhadap independensi bank sentral. Perubahan pejabat ekonomi juga menjadi bagian dari ketidakpastian yang diperhatikan pasar.

Mengapa hal ini penting? Sebab kepercayaan investor tidak hanya dibentuk oleh kebijakan yang diumumkan, tetapi juga oleh keyakinan bahwa lembaga ekonomi dapat menjalankan tugasnya secara konsisten.

Jika arah kebijakan sulit diperkirakan, investor dapat meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi.

Investor Asing Ikut Menentukan Arah Pasar

Pasar saham Indonesia juga dipengaruhi oleh pergerakan modal internasional.

Investor asing mempertimbangkan berbagai hal sebelum menempatkan dana, mulai dari prospek pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, suku bunga, kualitas perusahaan, hingga risiko politik dan regulasi.

Ketika risiko dinilai meningkat, mereka dapat menjual saham dan menarik sebagian modalnya. Tekanan jual yang besar dapat memperburuk penurunan harga, terutama pada saham-saham dengan bobot besar dalam indeks.

Meski begitu, arus keluar dana asing bukan satu-satunya penentu pergerakan IHSG. Investor domestik, kinerja emiten, kondisi likuiditas, serta sentimen global juga memengaruhi harga saham.

Artinya, penurunan IHSG tidak bisa langsung diartikan bahwa seluruh perusahaan di Indonesia mengalami penurunan kinerja. Indeks merupakan gabungan pergerakan banyak saham yang memiliki bobot berbeda.

Masalah Transparansi dan Kepercayaan Pasar

Selain kondisi ekonomi, kualitas tata kelola pasar juga menjadi perhatian.

Pada Januari 2026, penyedia indeks MSCI menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan di pasar Indonesia. Kekhawatiran tersebut memicu aksi jual tajam karena investor menilai ada risiko terhadap aksesibilitas dan kredibilitas pasar.

Persoalan ini penting karena investor institusi global membutuhkan informasi yang memadai untuk menentukan apakah suatu saham benar-benar likuid, bagaimana kepemilikannya tersebar, dan apakah harga yang terbentuk mencerminkan kondisi pasar secara wajar.

Perbaikan transparansi bukan hanya urusan teknis bursa. Hal tersebut juga berkaitan dengan reputasi pasar modal Indonesia di mata dunia.

Apabila standar keterbukaan informasi semakin baik, investor memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan. Sebaliknya, ketidakjelasan dapat menambah premi risiko yang harus ditanggung pasar.

Apakah Penurunan IHSG Berarti Ekonomi Indonesia Memburuk?

Tidak selalu.

Pasar saham dan ekonomi riil saling berhubungan, tetapi keduanya tidak bergerak dengan cara yang persis sama.

IHSG dapat melemah ketika investor mengkhawatirkan kondisi masa depan, bahkan sebelum dampaknya terlihat jelas pada aktivitas ekonomi sehari-hari. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang positif tidak menjamin seluruh saham akan naik.

Investor juga mempertimbangkan valuasi saham. Perusahaan dengan prospek bisnis yang baik sekalipun dapat mengalami penurunan harga apabila sebelumnya dinilai terlalu mahal atau ketika risiko yang dihadapi meningkat.

Karena itu, untuk menilai kondisi ekonomi secara menyeluruh, IHSG perlu dilihat bersama indikator lain seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, tingkat pengangguran, konsumsi rumah tangga, nilai tukar, dan kondisi fiskal.

Penurunan indeks merupakan sinyal yang perlu diperhatikan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesehatan ekonomi nasional.

Apa yang Perlu Dilakukan Pemerintah?

Memulihkan kepercayaan pasar membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan optimistis atau upaya mendorong harga saham naik.

Pemerintah perlu memberikan kejelasan mengenai prioritas kebijakan, menjaga pengelolaan anggaran yang kredibel, serta memastikan program-program ekonomi memiliki perencanaan dan pelaksanaan yang transparan.

Di sisi lain, otoritas pasar modal perlu memperkuat keterbukaan informasi, kualitas pengawasan, dan perlindungan investor.

Langkah-langkah tersebut tidak menjamin IHSG langsung pulih. Pergerakan pasar tetap dipengaruhi kondisi global dan keputusan investor. Namun, kebijakan yang konsisten dapat membantu mengurangi ketidakpastian yang berasal dari dalam negeri.

Pada Akhirnya, Pasar Membutuhkan Kepastian

Penurunan IHSG pada era pemerintahan Prabowo memperlihatkan bahwa kepercayaan investor merupakan bagian penting dari pengelolaan ekonomi.

Kebijakan pemerintah tidak hanya dinilai dari tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari cara kebijakan itu dirancang, dibiayai, dilaksanakan, dan dikomunikasikan kepada publik.

Investor tidak selalu menuntut pemerintah untuk mengambil kebijakan yang menguntungkan pasar dalam jangka pendek. Mereka juga membutuhkan aturan yang jelas, lembaga yang kredibel, dan arah ekonomi yang dapat diperkirakan.

Bagi masyarakat, penurunan IHSG juga perlu disikapi secara proporsional. Investor ritel sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena panik melihat indeks melemah. Memahami kondisi perusahaan, tujuan investasi, dan kemampuan menanggung risiko tetap lebih penting daripada sekadar mengikuti sentimen pasar.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukan hanya mengapa IHSG jatuh, melainkan apa yang harus diperbaiki agar pasar modal Indonesia menjadi lebih transparan, kredibel, dan mampu menarik investasi jangka panjang.

Sebab, pasar saham yang sehat tidak dibangun hanya dari kenaikan indeks, tetapi dari kepercayaan terhadap fondasi ekonomi dan aturan yang menopangnya.