Berjalan di Jalur Sendiri: Mengapa Saya Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang
Tulisan dari AL FAJRIN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda membuka media sosial, berniat hanya sekadar scrolling selama lima menit, namun berakhir dengan perasaan tertinggal dan tidak berguna?
Jika iya, Anda tidak sendirian. Saya pun pernah terjebak dalam fase yang sama.
Setiap hari, lini masa saya dipenuhi oleh pencapaian orang lain. Ada teman yang baru saja dipromosikan, rekan kuliah yang mengunggah foto liburan ke luar negeri, hingga kenalan yang membeli rumah di usia dua puluhan. Di satu sisi, saya ikut senang. Namun, di sudut hati yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik, "Kamu sedang ngapain aja selama ini? Kok jalan di tempat?"
Perasaan tertinggal ini perlahan menggerogoti rasa percaya diri saya. Saya mulai mengukur kesuksesan saya menggunakan penggaris orang lain. Padahal, kita semua tahu bahwa media sosial hanyalah sebuah highlight reel—etalase yang hanya memajang momen terbaik, bukan perjuangan berdarah-darah, kegagalan, atau malam-malam penuh air mata di baliknya.
Titik baliknya terjadi ketika saya menyadari bahwa stres yang saya rasakan murni karena ekspektasi yang saya ciptakan sendiri. Saya memutuskan untuk mengambil langkah mundur. Saya mulai melakukan detoks digital dengan membatasi waktu penggunaan media sosial hanya 30 menit sehari. Sisanya? Saya gunakan untuk kembali berdialog dengan diri sendiri.
Saya mulai menulis jurnal dan mencatat kemenangan-kemenangan kecil yang saya raih setiap hari. Tidak ada pencapaian yang terlalu remeh. Berhasil bangun pagi tanpa menekan tombol snooze, menyelesaikan satu bab buku, atau sekadar bisa makan malam dengan tenang adalah sebuah kesuksesan yang patut dirayakan.
Perubahan mindset ini membawa dampak yang luar biasa. Ketika saya berhenti melihat ke jalur lari orang lain, saya akhirnya bisa fokus pada langkah kaki saya sendiri. Saya menjadi lebih tenang, lebih bersyukur, dan produktivitas saya justru meningkat karena energi saya tidak lagi terkuras untuk merasa iri.
Pada akhirnya, saya belajar satu pelajaran berharga: setiap bunga memiliki musim mekarnya masing-masing. Bunga matahari tidak pernah merasa iri pada mawar, ia hanya mekar dengan caranya sendiri. Kita tidak pernah terlambat, dan kita tidak sedang tertinggal. Kita hanya sedang berjalan di zona waktu kita sendiri.
Jadi, untuk Anda yang hari ini merasa lelah karena terus membandingkan diri, tarik napas dalam-dalam. Tutup aplikasi tersebut sejenak. Anda sudah melakukan yang terbaik, dan itu sudah lebih dari cukup.

