Sehat Itu Mahal, atau Kita yang Terlalu Lalai?

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Albert Fernando Sianipar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antara Persepsi dan Kenyataan
“Sehat itu mahal” telah lama menjadi ungkapan yang dipercaya banyak orang. Kalimat ini seolah menjadi pembenaran bahwa menjaga kesehatan membutuhkan biaya besar, sehingga tidak semua orang mampu melakukannya. Namun, di balik keyakinan tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah sehat itu mahal, atau justru kita yang terlalu lalai dalam menjaganya?
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, kesehatan kerap ditempatkan sebagai prioritas kedua, bahkan kesekian. Pola makan tidak terjaga, waktu istirahat diabaikan, dan aktivitas fisik semakin berkurang. Ironisnya, perhatian terhadap kesehatan baru muncul ketika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan. Dalam konteks ini, menjadi penting untuk melihat kembali apakah mahalnya kesehatan benar-benar berasal dari sistem yang ada, atau dari kebiasaan kita sendiri yang cenderung abai sejak awal.
Realitas Biaya Kesehatan yang Meningkat
Tidak dapat dipungkiri bahwa biaya layanan kesehatan saat ini memang semakin tinggi. Rumah sakit dengan fasilitas modern, penggunaan teknologi medis canggih, serta harga obat-obatan yang terus naik menjadi faktor utama yang membuat pengobatan terasa mahal. Banyak masyarakat yang akhirnya merasa terbebani ketika harus menjalani perawatan, terutama untuk penyakit serius yang membutuhkan waktu lama.
Di Indonesia, keberadaan jaminan kesehatan seperti BPJS memang membantu meringankan beban masyarakat. Namun, dalam praktiknya, tidak semua kebutuhan medis dapat ditanggung sepenuhnya. Masih ada biaya tambahan, antrean panjang, hingga keterbatasan layanan yang membuat sebagian orang memilih jalur pengobatan mandiri dengan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ini semakin menguatkan anggapan bahwa sehat adalah sesuatu yang mahal.
Penyakit Modern sebagai Cerminan Gaya Hidup
Di balik mahalnya biaya pengobatan, terdapat fakta lain yang sering luput dari perhatian, yaitu meningkatnya jumlah penyakit tidak menular yang disebabkan oleh gaya hidup. Penyakit seperti diabetes, hipertensi, jantung, dan obesitas kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Banyak anak muda yang mulai mengalami kondisi serupa akibat pola hidup yang tidak sehat.
Konsumsi makanan cepat saji yang tinggi lemak dan gula, kebiasaan duduk terlalu lama, kurangnya aktivitas fisik, serta tingkat stres yang tinggi menjadi faktor utama yang memicu berbagai penyakit tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak penyakit sebenarnya dapat dicegah sejak awal. Dengan kata lain, mahalnya biaya kesehatan sering kali merupakan konsekuensi dari kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus tanpa disadari.
Budaya Menunda dan Mengabaikan Kesehatan
Salah satu masalah terbesar dalam menjaga kesehatan adalah kebiasaan menunda. Banyak orang merasa masih memiliki waktu untuk memperbaiki gaya hidup di kemudian hari. Selama tubuh masih bisa beraktivitas, tanda-tanda kecil seperti kelelahan, nyeri ringan, atau gangguan tidur sering kali diabaikan.
Pola pikir seperti ini membuat kesehatan tidak menjadi prioritas utama. Pemeriksaan kesehatan dianggap tidak perlu jika belum sakit, olahraga dianggap sebagai aktivitas tambahan yang bisa dilakukan jika sempat, dan pola makan sehat sering kali dikalahkan oleh kepraktisan. Padahal, sikap menunda inilah yang justru membuka jalan bagi munculnya penyakit di kemudian hari.
Mitos bahwa Hidup Sehat Selalu Mahal
Anggapan bahwa hidup sehat membutuhkan biaya besar masih sangat kuat di masyarakat. Banyak yang berpikir bahwa untuk menjadi sehat, seseorang harus mengeluarkan uang untuk membeli makanan organik, mengikuti program diet khusus, atau berolahraga di pusat kebugaran yang mahal.
Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Hidup sehat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, mengonsumsi makanan rumahan yang seimbang, memperbanyak minum air putih, serta menjaga waktu tidur yang cukup. Hal-hal tersebut tidak memerlukan biaya besar, tetapi membutuhkan kesadaran dan konsistensi. Sayangnya, persepsi yang keliru ini membuat banyak orang enggan memulai karena merasa tidak mampu.
Prioritas yang Keliru dalam Gaya Hidup Sehari-hari
Jika diperhatikan lebih jauh, masalah kesehatan sering kali berkaitan dengan cara seseorang menentukan prioritas. Tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang untuk hal-hal konsumtif seperti makanan cepat saji, minuman kekinian, atau hiburan digital, tetapi merasa berat ketika harus mengalokasikan waktu dan tenaga untuk menjaga kesehatan.
Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi dalam pola hidup masyarakat. Kesehatan yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru kalah oleh keinginan sesaat. Akibatnya, ketika kondisi tubuh mulai menurun, barulah muncul kesadaran akan pentingnya kesehatan, meskipun sering kali sudah terlambat.
Dampak Luas dari Kelalaian Kesehatan
Kelalaian dalam menjaga kesehatan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada lingkungan sosial dan ekonomi. Seseorang yang sakit dalam jangka panjang akan mengalami penurunan produktivitas, bahkan bisa kehilangan kemampuan untuk bekerja secara optimal. Hal ini tentu berdampak pada kondisi ekonomi pribadi maupun keluarga.
Dalam skala yang lebih luas, tingginya angka penyakit kronis dapat meningkatkan beban sistem kesehatan nasional. Anggaran yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan di sektor lain akhirnya harus dialokasikan untuk penanganan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Dengan demikian, kelalaian terhadap kesehatan menjadi masalah kolektif yang memerlukan perhatian bersama.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Diri
Upaya untuk mengubah kondisi ini tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Informasi mengenai pola hidup sehat harus disampaikan secara sederhana, mudah dipahami, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, edukasi saja tidak cukup tanpa adanya kesadaran dari masing-masing individu. Setiap orang memiliki peran penting dalam menentukan kondisi kesehatannya sendiri. Kesadaran untuk memulai dari hal kecil, seperti memperbaiki pola makan atau meluangkan waktu untuk bergerak, menjadi langkah awal yang sangat berarti.
Kesehatan sebagai Investasi Jangka Panjang
Menjaga kesehatan seharusnya dipandang sebagai investasi, bukan beban. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan manfaat besar di masa depan. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang untuk menjalani aktivitas dengan lebih produktif dan menikmati hidup dengan lebih baik.
Sebaliknya, mengabaikan kesehatan sama saja dengan menunda masalah yang akan muncul di kemudian hari. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan jauh lebih besar dibandingkan dengan usaha menjaga kesehatan sejak awal. Oleh karena itu, penting untuk mulai mengubah cara pandang terhadap kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dan perlu dijaga.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Pada akhirnya, pertanyaan “Sehat itu mahal, atau kita yang terlalu lalai?” tidak memiliki jawaban yang sepenuhnya hitam atau putih. Biaya kesehatan memang tinggi, tetapi dalam banyak kasus, mahalnya biaya tersebut merupakan akibat dari kelalaian dalam menjaga pola hidup.
Kesehatan bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan hasil dari kebiasaan sehari-hari yang dilakukan secara terus-menerus. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menunda dan mulai mengambil tanggung jawab atas kondisi tubuh kita sendiri.
Mulailah dari langkah sederhana, dari hal kecil, dan dari sekarang. Karena sejatinya, yang membuat kesehatan terasa mahal bukanlah proses menjaganya, melainkan konsekuensi yang harus dibayar ketika kita terlalu lama mengabaikannya.
