Yang Serius dari Kita, hanya AI, dan Modelnya

Mahasiswa tingkat 2 Akuntansi Sektor Publik Sarjana Terapan Politeknik Keuangan Negara STAN.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aldy Hermansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kampus ini akan merindukan jejak langkahmu, namun dunia luar jauh lebih membutuhkan pemikiran dan karya-karyamu.”
Sebuah kalimat singkat yang bergema dalam aula kampus kala itu. Momen yang bersejarah memang, bagi setiap insan yang menjalani kehidupan akademisnya. Perjuangan selama 4 tahun di menara gading akhirnya usai sudah.
Toga itu lebih berat dari yang kubayangkan. Bukan secara fisik, tentu saja, kainnya tipis dan longgar, tapi ada beban lain yang menumpuk di bahu saat namaku dipanggil dari podium. Aku berjalan, berjabat tangan, difoto, lalu duduk kembali sambil menahan senyum yang entah kenapa terasa dipaksakan.
Di sekelilingku, orang tua menangis haru, teman-teman berpelukan, dosen pembimbing menepuk pundak dengan bangga. Semua orang tampak yakin bahwa hari ini adalah bukti dari sesuatu yang telah tuntas dipelajari, dikuasai, dan layak dirayakan. Aku ikut tersenyum, mengangkat ijazah untuk difoto, mengunggahnya dengan caption penuh rasa syukur. Tapi jauh di dalam, ada satu perasaan yang tidak kuceritakan pada siapa pun: aku tidak benar-benar tahu apa yang baru saja aku selesaikan.
Apakah semuanya memang benar telah usai, atau aku yang bahkan tidak pernah memulai? Singkat, sangat bahkan, nahasnya terus berputar di kepalaku semenjak momen tersebut kulewati.
Yang paling kuingat dari hari itu bukan rasa haru, hanya rasa lega seluruh berkas administrasiku lengkap, transkrip sudah dilegalisasi, surat bebas pustaka ditandatangani, semua kolom di sistem akademik sudah tercentang hijau. Aku lega bukan karena merasa mendapat sesuatu, tapi merasa lolos dari sesuatu.
Beberapa bulan kemudian, akhirnya aku mulai bekerja. Semua tampak sesuai rencana, kuliah, wisuda, kerja, sebuah gambaran keberhasilan kata mereka.
Minggu-minggu pertama masih bisa disamarkan dengan alasan klasik, masa adaptasi, budaya kerja baru, ritme yang belum terbiasa. Tapi lama-lama, alasan itu semakin sulit dipakai untuk menutupi sesuatu yang lebih mendasar.
Satu sore yang masih kuingat jelas. Atasanku memberi sebuah pekerjaan yang, di atas kertas, seharusnya bisa kukerjakan dengan mudah. Materinya bahkan pernah muncul semasa kuliah dulu, mata kuliah yang nilainya A. Ironisnya, saat duduk di depan layar, jariku hanya berhenti di atas keyboard. Aku tahu istilahnya, tahu kerangka besarnya, tapi tidak tahu bagaimana menyambungkan semuanya jadi sesuatu yang benar-benar berfungsi.
Ada jeda canggung sebelum aku akhirnya menjawab dengan kalimat yang terlalu umum, terlalu aman, dan jelas menghindar. Ia menatapku sebentar, lalu berkata pelan, "coba dipelajari lagi, ya." Kalimat sederhana yang terasa lebih menohok daripada teguran keras sekalipun.
Sore itu, kuputuskan untuk lembur, aku merasa ada sesuatu yang harus diselesaikan, dibuktikan lebih tepatnya. Kuputuskan untuk membuka sebuah alat canggih yang menjadi teman setiaku semasa kuliah. Penuh harap, ia bisa menyelesaikan pekerjaan itu seperti biasa, dengan mudah, tanpa perlu menganggapnya sebagai beban sama sekali. Ia memang membantu, memberi jawaban yang rapi dan terstruktur. Tapi kali ini berbeda. Tidak ada dosen yang menerima hasil itu selama formatnya benar. Ada atasan yang akan bertanya lebih jauh, ada rekan kerja yang akan menagih penjelasan, ada klien yang akan menunggu solusi yang benar-benar jalan, bukan sekadar terlihat meyakinkan di atas kertas.
Semasa kuliah, semua terasa ringan. Tugas memang menumpuk, tapi tidak pernah benar-benar terasa berat. Aku ingat betul bagaimana candaan kami, "kuliah mah gampang, tinggal tanya alat canggih," seolah pernyataan itu adalah lelucon receh yang lucu, tanpa sadar menjadi kebenaran yang kami jalani sungguhan.
Satu malam sebelum tenggat tugas akhir semester, aku ingat duduk di depan laptop, menyalin pertanyaan dari lembar tugas, menempelkannya ke alat canggih, lalu menyalin jawabannya kembali dengan sedikit modifikasi kalimat. Yang ada di kepalaku saat itu bukan "apakah aku memahami ini," melainkan "apakah sitasinya sudah sesuai, apakah plagiasi aman." Pertanyaan tentang pemahaman bahkan tidak sempat muncul, karena tidak pernah dianggap penting, sekalipun.
Sistem di sekelilingku juga, jujur saja, tidak banyak membantu. Teman sekelas sering berkata, "asal submit dulu, yang penting kelar," dan tidak ada yang benar-benar mempertanyakan apakah materinya benar-benar dipahami atau tidak. Evaluasi yang kami hadapi lebih banyak mengukur kerapian format dan ketepatan tenggat, dibanding memastikan ada sesuatu yang benar-benar melekat di kepala. Dalam kerangka seperti itu, wajar saja kalau tujuan belajar perlahan bergeser, dari memahami sesuatu, menjadi sekadar memenuhi syarat administratif untuk lulus.
Sistem itu tidak sepenuhnya salah, terdapat andil pribadi yang memang ingin terlihat mudah menguasai segalanya, enggan mengakui ketika sesuatu terasa sulit, dan lebih memilih jalan yang cepat selesai daripada jalan yang benar-benar membentuk pemahaman. alat canggih hanya memfasilitasi kecenderungan itu dengan sangat efisien, tanpa pernah memaksaku berhenti dan bertanya, apakah aku benar-benar sedang belajar, atau sekadar menyelesaikan kewajiban.
Beberapa minggu setelah momen canggung itu, tak sengaja kutemukan foto wisuda lama tersimpan di galeri ponsel. Senyum di foto itu masih sama seperti yang kuingat, lebar dan tampak yakin. Tapi kali ini aku melihatnya dengan cara berbeda.
Bukan lagi sebagai bukti pencapaian, melainkan sebagai potret dari seseorang yang sangat pandai menyelesaikan sesuatu tanpa benar-benar memahaminya. Tidak ada penyesalan yang meledak-ledak, hanya kesadaran pelan yang menetap, bahwa ijazah, nilai, bahkan gelar sekalipun, tidak pernah benar-benar setara dengan pemahaman yang sesungguhnya.
Malam itu aku menutup laptop, membuka kembali materi lama yang dulu hanya kutempelkan ke alat canggih tanpa pernah kubaca isinya, dan mulai mempelajarinya ulang, kali ini benar-benar membacanya sendiri, pelan-pelan, tanpa terburu memindahkannya ke kolom prompt. Bukan langkah besar, hanya langkah kecil yang mungkin terlambat, tapi setidaknya jujur.
Yang serius dari kita, mungkin memang hanya AI dan modelnya. Sementara kita sendiri, sibuk memastikan semuanya terlihat selesai, tanpa pernah benar-benar memastikan ada yang benar-benar dipahami.
Education is the most powerful weapon which u can use to change the world. – Nelson Mandela
But what can we change if we're not even educated?
