Konten dari Pengguna

Tabungan Genetik BRIN untuk Restorasi Gambut dan Pencegahan Karhutla

Fauziah AlHasanah

Fauziah AlHasanah

Periset di Badan Riset Inovasi dan Nasional

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fauziah AlHasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam beberapa bulan terakhir menjadi ancaman serius di Indonesia. Kebakaran terjadi dalam skala luas, terutama di lahan gambut Kalimantan dan Sumatera. Gambut yang mengering akibat degradasi sangat mudah terbakar. Konsekuensinya, emisi karbon dalam jumlah besar terlepas ke udara, kesehatan masyarakat terganggu, dan keanekaragaman hayati terancam.

Untuk memutus siklus bencana ini, restorasi ekosistem gambut menjadi kuncinya. Di sinilah koleksi ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berpotensi memainkan peran penting, yang saat ini belum menjadi perhatian publik.

Pengelola Aset Ilmiah Nasional

Salah satu unit kerja di BRIN, Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI), memiliki fungsi penting dalam mengelola, melestarikan, mendokumentasikan, serta memfasilitasi pemanfaatan koleksi ilmiah. Cakupan koleksinya sangat luas, mulai dari spesimen hayati dan nonhayati, data primer, hingga hasil riset, yang semuanya harus diperlakukan sebagai aset nasional untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan inovasi.

Dalam praktiknya, DPKI BRIN ini menjalankan peran sebagai kolektor, pengonservasi, dan sekaligus fasilitator pemanfaatan. Sebagai kolektor, DPKI mengumpulkan material hayati dari berbagai wilayah secara terencana dan terdokumentasi. Sebagai pengonservasi, DPKI memastikan koleksi tetap hidup, sehat, dan terjaga kemurniannya. Sebagai fasilitator pemanfaatan, DPKI membuka akses koleksi bagi riset, restorasi, pendidikan, dan inovasi tanpa mengorbankan kelestariannya.

Ketiga peran itu berpadu dalam satu tujuan, yaitu menjaga, merawat, dan mendokumentasikan aset ilmiah agar aman dan berkelanjutan sebagai sumber keragaman genetik. Karena itulah koleksi hayati BRIN disebut "tabungan genetik". Seperti tabungan, ia harus dikumpulkan dengan cermat, dijaga agar tidak hilang, dan baru "ditarik" saat dibutuhkan, misalnya ketika bibit untuk merestorasi gambut tak lagi tersedia di alam.

Dalam konteks ini, dokumentasi menjadi fondasi dari semua proses. Setiap spesimen dicatat asal-usulnya, lokasi pengambilannya, dan perkembangannya. Tanpa catatan ini, koleksi hanyalah kumpulan tanaman. Dengan catatan yang baik, ia akan menjadi sumber data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan lintas generasi.

Lima Tanaman Prioritas

BRIN menetapkan lima kelompok tanaman prioritas sebagai target konservasi ex-situ resmi. Kelimanya adalah Ramin (Gonystylus bancanus), Jelutung Rawa (Dyera polyphylla), Balangeran (Shorea balangeran), Punak (Tetramerista glabra), dan Gemor (Nothaphoebe coriacea).

Gambar 1. Balangeran (sumber: https://kebunraya.id)

Kelima spesies ini dipilih karena perannya yang vital dalam merehabilitasi ekosistem gambut nasional. Kantong Semar (Nepenthes spp.) turut dilestarikan sebagai bagian dari vegetasi khas lantai hutan gambut.

Gambar 2. Kantong Semar (sumber: https://kebunraya.id)

Mengapa Penting bagi Restorasi?

Lahan gambut memiliki karakteristik yang ekstrem, yaitu: sangat asam, miskin hara, dan sering tergenang. Akibatnya, hanya vegetasi adaptif yang mampu tumbuh subur di sana.

Ramin adalah pohon ikonik hutan rawa gambut yang menghasilkan kayu berkualitas tinggi. Namun kini ia langka akibat eksploitasi berlebih. Jelutung Rawa tumbuh baik di area yang sering tergenang, menghasilkan kayu sekaligus getah, dan menjadi andalan program restorasi.

Balangeran dan Punak merupakan pohon keras endemik yang tahan terhadap kondisi rawa gambut basah, sehingga cocok untuk rehabilitasi lahan rusak. Gemor menghasilkan kulit kayu bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat lokal. Adapun Kantong Semar beradaptasi dengan tanah miskin nitrogen melalui sifat karnivoranya.

Menanam spesies asli membantu memulihkan struktur hutan, menahan air, mengurangi kekeringan, dan menurunkan risiko kebakaran. Vegetasi asli juga mendukung pemulihan fungsi hidrologi gambut sebagai prasyarat restorasi lahan gambut.

Status Konservasi IUCN

Secara umum menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), beberapa spesies gambut berstatus terancam. Ramin termasuk spesies yang paling kritis, yaitu Sangat Terancam Punah (Critically Endangered). Kondisi ini terjadi akibat eksploitasi kayu yang berlebihan dan diperparah oleh hilangnya hutan rawa gambut.

Balangeran, Jelutung Rawa, dan Punak umumnya berada pada kategori Rentan (Vulnerable). Penyebab kondisi ini antara lain karena terjadinya pembalakan liar, pemanenan getah yang merusak, kebakaran lahan, dan alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan monokultur.

Gemor belum dievaluasi secara menyeluruh oleh IUCN, tetapi populasinya di alam terus menurun akibat pengulitan batang dan penebangan. Adapun status Kantong Semar bervariasi menurut spesiesnya, dari Rentan hingga Sangat Terancam Punah, karena kerusakan habitat dan perburuan untuk tanaman hias.

Dua Bentuk Koleksi

Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah mengelola koleksi ilmiah dalam dua bentuk. Pertama, koleksi hidup yang berada di kebun raya. Kebun Raya Cibinong menerapkan konsep ekoregion, yaitu tanaman dikelompokkan berdasarkan pulau asalnya (Region Kalimantan dan Region Sumatra). Di zona ini ditanam Ramin, Jelutung Rawa, Punak, dan Balangeran untuk mereplikasi ekosistem asli.

Kebun Raya Bogor memiliki zona tumbuhan air dan tepi rawa yang mengoleksi berbagai Nepenthes serta beberapa spesimen pohon rawa. Sementara itu, mitra kebun raya daerah, seperti Kebun Raya Balikpapan (Kalimantan Timur) dan Kebun Raya Sriwijaya (Sumatra Selatan), berfokus pada konservasi tumbuhan endemik lokal, termasuk Gemor dan Balangeran.

Kedua, selain mengoleksi tumbuhan hidup di kebun raya, BRIN juga menyimpan koleksi dalam bentuk bank biji. Biji spesies prioritas gambut dikumpulkan, didokumentasikan, dan disimpan secara terkendali sebagai cadangan genetik jangka panjang. Bila populasi di alam menyusut atau koleksi hidup terganggu, bank biji menjadi sumber bibit untuk perbanyakan dan restorasi.

Menjaga Tabungan untuk Masa Depan

Dengan pengelolaan terpadu yang dilakukan oleh BRIN, koleksi hayati berfungsi sebagai cadangan genetik yang siap dimanfaatkan ketika alam membutuhkannya. Melalui proses mengelola, melestarikan, mendokumentasikan, dan memfasilitasi pemanfaatan koleksi, DPKI BRIN menjamin bahwa bibit spesies asli lahan gambut tetap tersedia. Ketersediaan bibit ini dapat mendukung program restorasi lahan gambut sehingga dapat mengurangi risiko karhutla. Di sisi lain, ketersediaan bibit ini dapat juga berfungsi untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia bagi generasi mendatang.