Karhutla di ASEAN: Bagaimana Empat Negara Anggota Merespons Dampaknya?
Tulisan dari ALIFA AMIRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Karhutla hari ini, beragam keperihan yang dialami oleh Indonesia dan negara tetangga masih tetap terasa sampai detik ini, kebakaran skala besar berhembus mengitari lingkup lintas batas negara, melalui kobaran api dan asap yang menuai berbagai kerugian di lingkungan, makhluk hidup, serta kenyamanan bersama. Hadirnya ASEAN tentu memberikan ruang komunikasi lintas batas negara dalam melihat serta menjembatani permasalahan ini.
Dominic Xavier Imperial, menyampaikan bahwa “Permasalahan penanganan kabut asap ini akan termasuk dalam agenda bahasan nanti”, di bulan depan 16 November 2026 mendatang, ujar Juru bicara Kementrian Luar Negeri Filipina itu. Kekhawatiran akhir-akhir ini sangatlah memprihatinkan, karena tiadanya perubahan cuaca secara signifikan, dan derap langkah pemerintah dalam merespons hal ini. Di sisi lain, menyoroti kerugian pada alam dan makhluk hidup yang masih meninggalkan rasa sakit sampai saat ini.
Respon lanjutan dari negara tetangga terkait asap
Kacaunya internal Indonesia yang belum mampu dalam menangani masalah besar ini, telah melahirkan malapetaka. Walaupun di sisi lain, hal ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi iklim yang kita banyak ketahui tentangnya si “El Nino”. Namun kehadiran negara tentunya diharapkan memiliki kemampuan secara tanggap untuk menanggulangi masalah internalnya.
Dalam laporannya Anewz.tv, kasus asap ini telah menyebar luas melampaui negara Malaysia, dan Singapura. Sungguh menyedihkan! Dengan itu Malaysia juga telah menerapkan langkah yang sama dengan Indonesia yaitu menghentikan kegiatan belajar mengajar, karena tebalnya kabut asap yang tidak hentinya berhembus. Dari hal ini dapat dilihat bahwa, aktivitas keseharian menjadi terhambat dan terkendala. Banyak pengorbanan yang mau tidak mau untuk direlakan di kondisi sekarang ini.
Mohamad Hasan, Mentri Luar Negeri Malaysia menegaskan dengan tegas bahwa permasalahan ini akan ia bawa ke dalam ASEAN summit bulan November nanti, karena sampai sekarang ini belum ada jalan keluar untuk mengatasi bahkan menanggulangi kabut asap yang telah bertiup melewati kawasan ini. Sebelumnya, Malaysia berupaya untuk memberikan upaya pemadaman kebakaran di Indonesia, namun dikarenakan kesulitan akses berupa jarak pandang yang buruk, sehingga tidak mampu untuk melakukan tindakan penyemaian awan, begitu yang disampaikan Mohamad dalam bahasan bersama counterpart Indonesia.
Teriakan negara-negara tetangga untuk Indonesia
Kedekatan geografis Indonesia-Malaysia sekarang ini tengah dalam keadaan sensitif, toxic air dari Indonesia membuat amarah warga Malaysia semakin melunjak hari demi hari, berdasarkan tulisan yang dimuat dalam kabar Sinar Harian.com, disampaikan bahwa kebakaran hutan Indonesia telah mengancam kesehatan masyarkat Malaysia, bersama kenyamanan negaranya.
Merujuk laporan dari Internasional Kompas.com memberitakan bahwa perasaan frustasi masyarakat Malaysia telah meluap sampai ke meja parlemen Malaysia, selama rapat berlangsung berbagai kritik pedas yang dilontarkan dalam menanggapi permasalahan krisis udara ini, Syerleena Abdul Rashid mencetuskan pernyataan “Malaysia dan Indonesia merupakan tetangga dekat, tetapi hubungan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab,” ujar Syerleena. Pernyataan sederhana, namun tegas itu merupakan tanda peringatan tegas untuk pemerintah Indonesia. Selain itu, tidak hanya menerima cibiran manis dari meja parlemen, rakyat Malaysia pun geram melihat kondisi ini, kemarahan mereka tentu setidaknya membuat negara kita ini, Indonesia kiranya memberikan refleksi berupa tindak lanjut secara intens.
Hampir setengah anggota ASEAN ikut terdampak
Perlu diketahui dampak dari kebakaran hutan dan lahan ini tidak hanya berdampak pada negara Malaysia, namun terdapat tiga negara Asia Tenggara lainnya yang ikut menghirup buruknya polusi ini, seperti Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina. Berdasarkan laman berita Berita Satu yang mengutip laporan dari Haze Outlook 2026 yang diberitakan oleh Singapore Institute of Internasional Affairs pada bulan juni 2026 lalu telah memperingatkan bahwa besarnya risiko akibat polusi yang buruk ini di kawasan lintas batas negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei, serta pada bulan Oktober ini tebaran asap telah melayang ke wilayah kawasan Filipina.
Sungguh mengharukan, banyaknya masyarakat dan para aktivis yang telah turun ke lapangan dan jalannan untuk menyuarakan suara dan pedihnya keadaan masyarakat, terutama masyarakat di Indonesia yang telah sangat mengecam sangat dengan tegas kepada stakeholder pemerintahan untuk segera menanggapi hal ini. Agar kerugian alam yang dialami Indonesia berdampak luas bagi negara-negara di Asia Tenggara.
Dimana posisi ASEAN dalam menanggapi kondisi krisis ini?
Melihat fenomena alam yang telah menginjak hampir 3 dekade lalu. Penanggulangan krisis ini sudah dapat disebut sebagai personal regional, karena telah melampaui lintas batas kawasan. Pada tahun 2003 tepatnya bulan November ASEAN telah memberlakukan perjanjian “ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution” (AATHP), yang isinya mengatur tentang pemantauan, tindakan pencegahan, kesiapsiagaan, serta respon darurat nasional secara bersama dalam penanganganan krisis polusi, dan kebakaran hutan yang berdampak lintas batas, data ini didapat dari laman berita katadata.co.id. Walaupun kebijakan serta perjanjian yang telah disepakati secara bersama, namun masih belum teratasi dan direspon dengan bijak oleh badan lembaga serta pemerintahan.
Sehingga dapat kita sama-sama rasakan bahwa fenomena yang merugikan alam dan makhluk hidup ini, tidak dapat disimpulkan bahwa hanya mereka yang dirugikan. Namun ada integritas negara yang perlu ditinjau secara luas dalam merespon fenomena yang tengah terjadi di lapangan serta perlunya kesadaran yang saling memahami antar sesama makhluk hidup, agar dapat mencapai kehidupan yang lebih aman dan sejahtera.
Penegasan dan pesan untuk ASEAN summit di Manila mendatang, harapannya forum yang mempertemukan berbagai negara anggota ASEAN dapat mampu membaca, menyikapi, serta memberikan penanggulangan terhadap keadaan yang tengah menimpa kawasan negara Indonesia dari krisis udara, serta kebakaran hutan dan lahan ini. Sehingga pertemuan yang akan digelar nanti tidak hanya sekadar seremonial saja, namun tetap memperhatikan integritas dari ASEAN itu sendiri, yang bersama-sama menuntut kesejahteran kawasan dan memberikan ruang berupa rasa aman dan perlindungan bagi masyarkat di dalamnya.

