Konten dari Pengguna

AI Tidak Akan Menyelamatkan UMKM Jika SDM-nya Enggan Belajar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Moh Ali fais tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi UMKM. Foto: murtiwijaya/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi UMKM. Foto: murtiwijaya/Shutterstock

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan memperbaiki pengelolaan bisnis. Melalui teknologi ini, pelaku usaha dapat membuat konten pemasaran, menyusun deskripsi produk, menganalisis kebutuhan konsumen, hingga membantu merencanakan kegiatan operasional.

Namun, di balik peluang tersebut, terdapat persoalan mendasar yang perlu diperhatikan. Teknologi yang semakin canggih tidak selalu membuat usaha menjadi lebih maju apabila sumber daya manusianya tidak memiliki kemauan untuk belajar dan beradaptasi.

Persoalan UMKM selama ini sering dikaitkan dengan keterbatasan modal, akses pasar, dan kemampuan memanfaatkan teknologi. Padahal, terdapat faktor lain yang tidak kalah penting, yaitu kompetensi sumber daya manusia (SDM). Perangkat digital dapat dibeli dan aplikasi AI dapat diakses dengan relatif mudah, tetapi kemampuan menggunakannya secara produktif membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kemauan untuk terus belajar.

Dalam perspektif Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM), transformasi digital bukan sekadar persoalan adopsi teknologi, melainkan proses pengembangan kompetensi manusia agar mampu menghadapi perubahan lingkungan bisnis.

Kesenjangan antara Adopsi AI dan Kesiapan SDM

Besarnya peluang AI bagi UMKM perlu dilihat secara kritis. Pada 9 Juli 2026, ANTARA memberitakan pernyataan Menteri UMKM Maman Abdurrahman bahwa lebih dari 90 persen pelaku UMKM di Indonesia belum memanfaatkan AI secara optimal dalam menjalankan usahanya. Pada saat yang sama, tingkat adopsi AI secara umum di Indonesia disebut telah mencapai 92 persen. Angka tersebut memperlihatkan adanya persoalan penting, yaitu kesenjangan antara perkembangan penggunaan AI secara umum dan pemanfaatannya dalam kegiatan bisnis UMKM.

Data tersebut tidak berarti bahwa seluruh pelaku UMKM sama sekali belum mengenal AI. Persoalannya adalah bagaimana teknologi itu digunakan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi usaha. Menggunakan AI untuk mencoba membuat tulisan promosi tentu berbeda dengan mengintegrasikannya ke dalam strategi pemasaran, pengelolaan pelanggan, dan pengambilan keputusan bisnis.

Informasi tersebut sejalan dengan tantangan yang disoroti dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025. Publikasi Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa 66 persen usaha mikro dan kecil belum menganggap keterampilan digital sebagai kebutuhan utama. Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi, tetapi juga dengan pemahaman mengenai pentingnya kompetensi digital bagi keberlangsungan usaha.

Teknologi Tidak Menggantikan Kemauan untuk Belajar

Bayangkan seorang pelaku usaha kuliner yang menggunakan AI untuk membuat promosi di media sosial. Kontennya terlihat menarik, bahasanya meyakinkan, dan desainnya lebih profesional. Namun, ketika pesanan meningkat, pemilik usaha kesulitan mengatur persediaan bahan baku, menjaga kualitas produk, dan menghitung keuntungan. Dalam kondisi ini, teknologi membantu aktivitas pemasaran, tetapi persoalan manajemen usaha tetap belum terselesaikan.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan aplikasi tidak selalu sejalan dengan kemampuan mengelola bisnis. Pelaku UMKM membutuhkan kompetensi yang lebih luas, mulai dari literasi digital, pengelolaan keuangan, komunikasi, kreativitas, hingga pengambilan keputusan.

AI juga dapat menghasilkan informasi yang keliru atau tidak sesuai dengan karakteristik produk. Karena itu, hasil yang diberikan teknologi harus diperiksa sebelum digunakan. Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumennya, mengenali keunggulan produknya, dan memastikan bahwa informasi yang disampaikan kepada pelanggan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sebagai pengganti pengetahuan dan pertimbangan bisnis.

Pengembangan SDM Tidak Boleh Berhenti pada Pelatihan

Salah satu tantangan pemberdayaan UMKM adalah memastikan bahwa pelatihan menghasilkan perubahan perilaku dan peningkatan kinerja. Pelaku usaha mungkin telah mengikuti pelatihan pemasaran digital atau penggunaan AI, tetapi pengetahuan tersebut belum tentu diterapkan secara konsisten setelah kegiatan berakhir.

Dalam pengembangan SDM, proses pembelajaran perlu dilanjutkan melalui praktik, pendampingan, dan evaluasi. Pelatihan penggunaan AI, misalnya, sebaiknya tidak berhenti pada pengenalan aplikasi. Peserta perlu belajar menyusun instruksi yang tepat, memeriksa kualitas hasil, menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan bisnis, dan mengevaluasi manfaatnya.

Keberhasilan program juga tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diterbitkan. Indikator yang lebih bermakna meliputi peningkatan keterampilan, efisiensi waktu kerja, perbaikan kualitas pemasaran, ketepatan pencatatan keuangan, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang relevan.

Pendampingan menjadi penting agar pelaku usaha memiliki kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki cara kerja, dan membangun kebiasaan baru. Pendekatan ini menempatkan pengembangan kompetensi sebagai proses berkelanjutan, bukan kegiatan sesaat.

Membangun Budaya Belajar di Lingkungan UMKM

Kemauan belajar merupakan bagian penting dari kesiapan SDM menghadapi perubahan teknologi. Namun, kemauan tersebut tidak cukup dibangun melalui imbauan agar pelaku usaha mengikuti perkembangan zaman. Mereka membutuhkan lingkungan yang mendukung proses belajar, akses terhadap pendampingan, dan materi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Pemilik usaha perlu membangun kebiasaan mengevaluasi kegiatan operasional, terbuka terhadap masukan, serta berani mencoba pendekatan baru. Pemerintah dapat memperluas akses pelatihan yang praktis dan terukur. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian terapan dan pendampingan berbasis kebutuhan usaha. Sementara itu, komunitas bisnis dapat menjadi ruang berbagi pengalaman dan praktik baik.

Pengembangan kompetensi juga perlu disesuaikan dengan karakteristik UMKM. Pengusaha batik, misalnya, dapat memanfaatkan AI untuk membantu pemasaran sekaligus memperkenalkan filosofi motif dan identitas budaya lokal. Pelaku usaha kuliner dapat menggunakannya untuk menyusun variasi konten promosi dan menganalisis tanggapan pelanggan. Teknologi akan lebih bermanfaat ketika pengguna memahami persoalan yang ingin diselesaikan.

Pada akhirnya, transformasi digital membutuhkan kolaborasi antara teknologi, kompetensi manusia, dan sistem pengelolaan usaha yang baik.

Menempatkan Manusia sebagai Fondasi Transformasi Digital

Besarnya jumlah UMKM dan perannya dalam perekonomian nasional menjadikan pengembangan kompetensi SDM sebagai agenda strategis. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam publikasi pada Juli 2025, menyebutkan bahwa UMKM mencakup sekitar 99 persen unit usaha di Indonesia dan berkontribusi 61,07 persen terhadap produk domestik bruto berdasarkan data yang disampaikan dalam publikasi tersebut. Skala ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas UMKM berpotensi memberikan dampak luas bagi perekonomian.

Namun, potensi tersebut tidak akan berkembang optimal apabila transformasi digital hanya dipahami sebagai penggunaan aplikasi baru. Penguatan SDM harus berjalan seiring dengan akses teknologi, pendampingan usaha, dan perbaikan tata kelola bisnis.

AI memang dapat mempercepat pekerjaan dan membantu pelaku usaha mengakses informasi. Akan tetapi, teknologi tidak secara otomatis menumbuhkan kedisiplinan, kreativitas, kemampuan membaca pasar, atau keberanian untuk memperbaiki strategi bisnis. Semua itu membutuhkan proses belajar dan pengembangan kompetensi.

Karena itu, UMKM tidak cukup hanya didorong untuk menggunakan AI. Mereka juga perlu didukung agar mampu belajar secara berkelanjutan dan menerapkan teknologi sesuai kebutuhan usaha.

AI tidak akan menyelamatkan UMKM jika SDM-nya enggan belajar. Sebaliknya, ketika pelaku usaha memiliki kemauan belajar, kompetensi yang memadai, dan kemampuan beradaptasi, AI dapat menjadi instrumen penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Masa depan UMKM bukan hanya ditentukan oleh teknologi yang mereka gunakan, melainkan juga oleh kemampuan manusia dalam mengubah teknologi menjadi nilai tambah bagi usaha.