Konten dari Pengguna

Jakarta: Sisi Tergelap dari Surga yang Dipuja

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alifa zuqni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: kemewahan kota jakarta, Doc; Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto: kemewahan kota jakarta, Doc; Pribadi

Apa yang terlintas dalam benak Anda ketika mendengar kata Jakarta?

Bagi kebanyakan orang, Jakarta identik dengan gemerlap lampu kota, gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan mewah, teknologi modern, serta para pekerja kantoran yang berlalu-lalang dengan setelan jas. Tak sedikit pula yang memandang Jakarta sebagai "surga" tempat segala impian dapat diwujudkan. Kota ini dianggap sebagai simbol kemajuan dan kesejahteraan.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Setiap tahun, ribuan orang dari berbagai daerah datang merantau ke Jakarta dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Ketika mereka pulang ke kampung halaman, masyarakat sering kali menganggap mereka telah sukses, memiliki banyak uang, dan hidup berkecukupan di kota metropolitan tersebut.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa di balik kemegahan Jakarta terdapat realitas yang jauh berbeda?

Di balik gedung-gedung tinggi yang memantulkan cahaya kota pada malam hari, ada banyak orang yang berjuang keras hanya untuk memastikan mereka masih dapat makan keesokan harinya. Badut jalanan, manusia silver, pengamen, pekerja seks, hingga tukang parkir liar menjadi bagian dari wajah Jakarta yang sering kali luput dari perhatian. Mereka seakan terpinggirkan oleh kemewahan yang setiap hari dipamerkan kota ini.

Banyak orang memandang pekerjaan mereka sebagai pekerjaan rendahan, bahkan hina. Akan tetapi, apakah mereka benar-benar menginginkan kehidupan seperti itu?

Jawabannya sering kali tidak.

Di balik pekerjaan yang kerap dipandang sebelah mata, tersimpan harapan yang terus mereka perjuangkan. Ada keluarga yang harus diberi makan, anak-anak yang harus tetap bersekolah, serta mimpi-mimpi sederhana yang ingin diwujudkan. Keringat yang mereka keluarkan setiap hari bukan sekadar usaha mencari uang, melainkan bentuk perlawanan terhadap kerasnya kehidupan.

Jakarta, Ibu Tua yang Penuh Luka

Jakarta bukan hanya tentang kemewahan. Secara tidak langsung, kota ini seolah terbagi menjadi dua dunia yang berjalan berdampingan namun memiliki jarak yang sangat jauh.

Di satu sisi, terdapat dunia yang dipenuhi kemegahan, kemajuan, dan kemakmuran. Di sisi lain, terdapat dunia yang dihuni oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan dan kekurangan. Tidak sedikit orang yang sulit percaya bahwa di balik citra modern Jakarta, masih tersimpan berbagai persoalan sosial yang kompleks.

Tingkat kriminalitas, kemiskinan, banjir, polusi udara, penggusuran, hingga permukiman kumuh di gang-gang sempit menjadi bagian dari kenyataan yang tidak dapat diabaikan. Pemandangan tikus yang berkeliaran di saluran air, maupun para pekerja yang berdesakan setiap hari di kereta rel listrik dari Bogor menuju Jakarta Kota, merupakan gambaran yang menunjukkan bahwa kehidupan di Jakarta tidak selalu seindah yang dibayangkan.

Di tengah segala hiruk-pikuk itu, ada manusia-manusia yang setiap hari berjuang mempertahankan hidup tanpa jaminan bahwa masa depan mereka akan menjadi lebih baik. Mereka tetap melangkah, bekerja, dan bertahan meskipun sering kali harus berdamai dengan ketidakpastian.

Pelajaran dari Sisi Tergelap Surga

Buku Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna mengajak pembacanya melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Buku ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki makna hidup yang tidak sama. Ada yang memilih untuk terus hidup karena menemukan alasan untuk bertahan, meskipun hidup terasa berat. Sebaliknya, ada pula yang merasa kehilangan arah karena tidak kunjung menemukan kebahagiaan yang mereka cari.

Melalui kisah-kisah yang dihadirkan, Brian Khrisna mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi kehidupan orang lain berdasarkan pekerjaan atau latar belakang sosialnya. Apa yang tampak di permukaan sering kali berbeda dengan kenyataan yang mereka alami. Banyak orang menjalani pekerjaan yang dianggap rendah bukan karena keinginan, melainkan karena keadaan memaksa mereka untuk mengambil pilihan tersebut.

Pada akhirnya, Jakarta bukan hanya tentang gedung pencakar langit, pusat bisnis, atau kemewahan yang dipamerkan di media sosial. Jakarta juga adalah tentang mereka yang berjuang di pinggir jalan, mereka yang hidup di balik bayang-bayang kemajuan, dan mereka yang setiap hari mempertaruhkan tenaga demi bertahan hidup.

Mungkin sudah saatnya kita melihat Jakarta dengan cara yang lebih utuh. Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di puncak kemewahan, tetapi juga oleh mereka yang selama ini bekerja dan berjuang di lapisan paling bawah kehidupan. Di sanalah tersimpan sisi tergelap dari surga yang selama ini banyak dipuja.

Daftar Pustaka

Khirsna, B. (2023). Sisi Tergelap Surga: Gramedia Pustaka Utama.