Konten dari Pengguna

Bukan Musuh, Tapi Duo: Bahasa Baku & Gaul

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alifia Elok Mulia Insani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: gambar ini diambil dari freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: gambar ini diambil dari freepik

Sadar atau tidak, bahasa yang kita gunakan mencerminkan siapa kita. Bahasa baku bisa menunjukkan intelektualitas dan kemampuan berpikir sistematis. Sementara bahasa gaul bisa memperlihatkan sisi kekinian, adaptasi, dan keakraban kita dengan lingkungan sosial.

Menariknya, kita nyaris tidak pernah sadar saat beralih dari bahasa baku ke bahasa gaul, atau sebaliknya. Dalam satu hari, seseorang bisa mengetik pesan dengan kalimat seperti, “Mohon izin, saya tidak bisa hadir rapat siang ini,” lalu membalas chat temannya dengan, “Gas nongki sore, gak?”—tanpa merasa janggal

Lalu, apakah kita harus memilih antara bahasa baku atau bahasa gaul? Jawabannya: Tidak. Justru kemampuan untuk menggunakan keduanya dengan tepat menunjukkan kecakapan berbahasa yang tinggi. Sebab pada akhirnya, bahasa bukan hanya soal berbicara, tapi juga soal mencerminkan siapa kita dan bagaimana kita menghargai warisan budaya bangsa.

Tak bisa dimungkiri, kemunculan media sosial ikut mendorong fleksibilitas berbahasa. Kita bisa melihat akun-akun resmi lembaga pemerintah kini mulai menggunakan bahasa yang lebih santai agar terasa dekat dengan generasi muda. Di sisi lain, banyak anak muda yang kini juga sadar pentingnya menulis dengan struktur yang rapi saat membuat lamaran kerja atau mengikuti forum akademik. Inilah bukti bahwa penguasaan bahasa, baik baku maupun gaul, bukan sekadar kemampuan teknis, tapi juga cerminan dari kecerdasan emosional dan sosial

Bahasa baku dan bahasa gaul bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua bentuk bahasa yang bisa berjalan berdampingan jika digunakan secara bijak.Bahasa baku menjaga kejelasan dan identitas nasional, sementara bahasa gaul mencerminkan dinamika sosial dan keakraban. Kuncinya adalah kesadaran dalam memilih bahasa sesuai situasi.

Mari menjadi penutur bahasa Indonesia yang cerdas: luwes dalam bergaul, santun dalam formal, dan bijak dalam memilih kata.