Konten dari Pengguna

Fenomena Tarot dalam Kalangan Gen-Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alifia Putri Wirawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber: doc.pribadi

Kemunculan kembali tarot di kalangan Generasi Z merupakan fenomena sosial yang menarik untuk dibahas. Di era digital saat ini, tarot tidak lagi identik dengan praktik mistis tertutup, melainkan hadir secara terbuka melalui media sosial. Banyak konten tarot dikemas dalam bentuk video singkat dengan bahasa yang ringan, sehingga mudah diterima oleh anak muda.

Menurut saya, popularitas tarot di kalangan Gen Z tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial generasi ini. Gen Z tumbuh di tengah ketidakpastian, mulai dari tekanan akademik, persaingan kerja, hingga dinamika hubungan sosial yang kompleks. Dalam situasi tersebut, tarot sering diposisikan sebagai media refleksi diri, bukan semata-mata alat untuk meramal masa depan.

Dari sudut pandang psikologis, tarot bekerja dengan cara memancing proses berpikir dan perenungan. Bacaan tarot umumnya berisi narasi umum yang berkaitan dengan emosi, pilihan hidup, dan hubungan interpersonal. Hal ini membuat banyak orang merasa bacaan tersebut relevan dengan kondisi dirinya. Dalam konteks ini, tarot lebih berfungsi sebagai pemicu introspeksi, bukan sebagai penentu nasib secara mutlak.

Jika dilihat dari sudut pandang sosiologis, fenomena tarot menunjukkan perubahan pola pencarian makna hidup di kalangan Gen Z. Ketika kepercayaan terhadap institusi formal atau otoritas tertentu mulai berkurang, anak muda cenderung mencari alternatif lain yang dirasa lebih personal dan fleksibel. Tarot menjadi salah satu bentuk ekspresi dari pencarian makna tersebut.

Dari sudut pandang media dan budaya digital, maraknya konten tarot juga dipengaruhi oleh algoritma media sosial. Konten yang bersifat emosional dan relevan dengan banyak orang cenderung mendapatkan perhatian lebih. Tarot memenuhi unsur tersebut karena membahas tema universal seperti cinta, kegagalan, harapan, dan masa depan. Dengan demikian, tarot berkembang bukan hanya karena faktor kepercayaan, tetapi juga karena mekanisme penyebaran konten digital.

Namun demikian, fenomena ini tetap perlu disikapi secara kritis. Masalah muncul ketika tarot dipercaya secara berlebihan dan dijadikan dasar utama dalam pengambilan keputusan penting. Ketergantungan semacam ini dapat mengurangi kemampuan berpikir rasional dan tanggung jawab individu terhadap pilihannya sendiri. Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk menempatkan tarot sebagai hiburan atau sarana refleksi, bukan sebagai kebenaran mutlak.

Sebagai penutup, fenomena tarot di kalangan Gen Z merupakan cerminan dari kondisi sosial, psikologis, dan budaya digital generasi muda saat ini. Tarot tidak selalu tentang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana anak muda berusaha memahami diri dan realitas hidupnya. Selama disikapi secara bijak dan kritis, tarot dapat dipahami sebagai fenomena sosial yang wajar dalam masyarakat modern.