Buku Catatan dan Perplexity: Dua Benda di Meja Mahasiswa Sejarah

Mahasiswa Pendidikan Sejarah'25 Universitas Jember
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Alif Yuan Rhafilim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sore itu, di kamar kos yang sepi, saya duduk bersila di lantai dengan laptop di pangkuan. Hanya ada suara kipas angin yang berputar pelan, menemani udara dingin yang mulai masuk lewat celah jendela. Minggu pertama kuliah Sejarah Pendidikan baru saja usai, dan dosen sudah memberikan tugas kelompok: membuat presentasi PowerPoint tentang Reformasi Pendidikan 1998 yang akan dipresentasikan di minggu ke-11. Tenggat waktu masih dua bulan lagi, tapi sebagai anak baru di kampus, saya dan dua teman sekelompok sepakat untuk mulai mencari referensi sejak awal. Di grup WhatsApp, kami mulai membagi sub pembahasan. "jangan lupa pake jurnal ter akreditasi ya, sesuai arahan dosen" ketik teman saya. Tanpa berpikir panjang, saya membuka Perplexity, sebuah AI yang baru saya kenal dari video seorang dosen di TikTok yang sering membahas skripsi dan kebetulan sering muncul di FYP saya.
Saya mengetik singkat di kolom pencarian: "reformasi pendidikan 1998 Indonesia". Dalam hitungan detik, layar laptop menampilkan rangkuman dari berbagai jurnal akademis lengkap dengan tautan langsung ke file PDF yang open access. Saya klik satu per satu, menyimpan 7 file ke folder tugas. Beberapa judulnya relevan, beberapa lainnya harus saya seleksi lagi karena isinya melenceng dari topik. Total waktu yang saya habiskan? Tidak lebih dari 15 menit. Teman sekelompok merespons cepat di grup: "Wah, udah dapet nih?" Saya balas santai, tapi dalam hati, saya teringat cerita dosen yang mengisi materi pada saat PKKMB atau ospek. Beliau bercerita bagaimana dulu, untuk satu tugas seperti ini, mereka harus menghabiskan berjam-jam di perpustakaan, membaca puluhan buku tebal, mencatat dengan tangan. Saya membayangkan diri saya harus melakukan hal yang sama, tanpa AI, tanpa internet, dan langsung merasa kewalahan. Mungkin bisa, tapi pasti akan memakan waktu sangat lama.
Malam harinya, saya membuka tujuh file PDF yang sudah tersimpan rapi di laptop. Buku catatan tergeletak di samping, siap mencatat poin-poin penting. Namun, sejujurnya, saya hanya membaca sepenuhnya sekitar sepertiga dari jurnal-jurnal itu. Sisanya? Hanya bagian abstract dan kesimpulan. Cukup untuk memahami garis besar argumen, cukup untuk bahan presentasi. Praktis, efisien, dan tidak membuang waktu. Tapi saat jari saya men-scroll halaman demi halaman tanpa benar-benar membacanya, sebuah pertanyaan muncul di kepala: apakah kemudahan teknologi ini membuat saya lebih pintar, atau justru lebih dangkal? Saya adalah mahasiswa Pendidikan Sejarah, mempelajari bagaimana manusia belajar di masa lalu. Ironisnya, cara saya sendiri belajar telah berubah drastis dibanding generasi sebelum saya. Dan perubahan itu dimulai dari satu hal sederhana: sebuah AI bernama Perplexity yang mengubah riset menjadi proses instan.
Buku catatan itu tergeletak di samping laptop saya. Sampul merah, yang tampak tak tersentuh. Halaman pertama masih rapi, hanya terisi beberapa poin dari kuliah minggu pertama. Saya membelinya di toko alat tulis di kota saya Bondowoso sebelum masa perkuliahan di jember di mulai, dengan harapan akan mengisinya penuh dengan catatan sepanjang semester. Namun, setelah beberapa minggu, saya menyadari bahwa lebih banyak waktu yang saya habiskan mengetik di laptop daripada menulis di buku ini.
Buku catatan ini mengingatkan saya pada cerita dosen di kelas. Beliau bercerita bahwa dulu, untuk satu tugas seperti yang saya kerjakan sekarang, mereka harus datang ke perpustakaan dengan buku catatan di tangan. Mencatat kutipan penting secara manual, menulis daftar pustaka dengan teliti, bahkan memfotokopi ratusan halaman buku karena tidak bisa dibawa pulang. Prosesnya lambat, melelahkan, tetapi memaksa mereka untuk benar-benar membaca dan memahami setiap kalimat yang mereka catat. Tidak ada shortcut, tidak ada copy-paste. Yang ada hanya tangan, pulpen, dan kesabaran.
Ada sesuatu yang hilang dalam generasi saya, saya pikir. Ketika informasi bisa di-copy dalam sekejap, kita kehilangan momen "bergulat" dengan teks. Membaca ulang, mencoba memahami maksud penulis, merangkai argumen dengan kata-kata sendiri. Buku catatan adalah simbol dari proses itu: lambat, manual, tetapi mendalam. Setiap coretan adalah hasil dari pemahaman, bukan sekadar duplikasi data. Dan mungkin, itulah yang membuat generasi sebelum saya lebih terbiasa dengan membaca buku-buku tebal, karena mereka tidak punya pilihan lain.
Di sisi lain meja saya, atau lebih tepatnya, di layar laptop, ada Perplexity. Sebuah AI yang tidak terlihat, tidak bisa dipegang, tapi kehadirannya sangat nyata. Tidak ada wujud fisik, tidak ada berat, tetapi dampaknya luar biasa. Saya pertama kali mengenal Perplexity dari video seorang dosen di TikTok yang sering membahas skripsi. Videonya kebetulan sering muncul di FYP saya, dan di situ dia menjelaskan bagaimana AI ini bisa membantu mahasiswa mencari jurnal akademis dengan cepat. Penasaran, saya mencobanya, dan sejak itu, Perplexity menjadi "asisten riset" yang selalu saya andalkan.
Cara kerjanya sederhana: saya ketik topik yang saya butuhkan, misalnya "reformasi pendidikan 1998 Indonesia", dan dalam hitungan detik, Perplexity memberikan rangkuman dari berbagai sumber lengkap dengan tautan ke jurnal-jurnal yang open access. Tidak perlu scroll ratusan hasil pencarian di Google Scholar, tidak perlu klik satu per satu untuk mengecek apakah jurnal itu berbayar atau gratis. Semuanya tersaji rapi, relevan, dan siap diunduh. Memang, terkadang hasilnya tidak 100% sesuai. Ada beberapa jurnal yang isinya melenceng dari topik, jadi saya tetap harus memilah. Tapi dibanding cara tradisional, ini jauh lebih cepat dan efisien.
Namun, kemudahan ini membawa kebiasaan baru yang saya sendiri tidak yakin apakah itu baik atau buruk. Dari 7 jurnal yang saya unduh untuk tugas kelompok, saya hanya membaca sepenuhnya sekitar 2-3 jurnal. Sisanya? Hanya bagian abstract dan kesimpulan. Cukup untuk memahami garis besar argumen, cukup untuk bahan presentasi PowerPoint. Saya tahu ini bukan cara terbaik untuk benar-benar memahami sebuah riset, tetapi dengan waktu yang terbatas dan tugas yang banyak, ini terasa seperti solusi paling rasional. Perplexity memberi saya akses ke pengetahuan, tetapi apakah saya benar-benar mendapatkan pemahaman? Itu pertanyaan lain.
Generasi saya belajar di era instant access. Kami tidak perlu menunggu, tidak perlu bersabar, tidak perlu berjuang keras untuk mendapatkan informasi. Semua ada di ujung jari, dalam hitungan detik. Tapi apakah kemudahan ini membuat kami lebih pintar? Atau justru membuat kami lebih dangkal? Tahu banyak, tetapi paham sedikit? Saya tidak punya jawaban pasti. Yang saya tahu, Perplexity adalah simbol dari generasi saya: cepat, efisien, tetapi kadang melewatkan proses yang sebenarnya sama pentingnya dengan hasil.
"Malam itu, saya menatap dua benda di meja saya: buku catatan yang hampir kosong, dan laptop yang penuh dengan file PDF. Saya teringat scene ikonik dalam film The Matrix, ketika Morpheus menawarkan Neo dua pilihan: red pill untuk mengetahui kebenaran yang pahit, atau blue pill untuk tetap nyaman dalam ilusi. Buku catatan dan Perplexity adalah versi saya dari red pill dan blue pill itu. Keduanya adalah simbol dari dua cara belajar yang berbeda. Satu mewakili proses manual yang lambat tetapi mendalam, satu lagi mewakili teknologi yang cepat tetapi berisiko dangkal. Saya menyadari bahwa saya berada di persimpangan antara dua generasi: generasi yang masih menghargai proses, dan generasi yang mengutamakan hasil. Pertanyaannya bukan "mana yang lebih baik", tetapi "bagaimana kita bisa menggunakan keduanya dengan bijak?""
Saya teringat kutipan dari salah satu jurnal yang saya baca, yang kebetulan saya baca lengkap, bukan hanya abstractnya: "Membaca adalah proses dialog antara pembaca dan penulis. Ketika kita hanya membaca kesimpulan tanpa memahami argumen, kita kehilangan setengah dari dialog itu." Kata-kata itu menohok. Sebagai mahasiswa sejarah, tugas saya bukan hanya mengumpulkan fakta, tetapi memahami konteks, perspektif, dan proses berpikir di balik fakta itu. Buku catatan, dengan segala kelambatannya, memaksa saya untuk berdialog dengan teks. Perplexity, dengan segala kecepatannya, kadang membuat saya melompati dialog itu. Dan di sinilah dilema saya: bagaimana menyeimbangkan efisiensi dengan kedalaman?
Kembali menatap buku catatan dan layar laptop di meja saya, saya menyadari bahwa keduanya bukan musuh. Buku catatan mengajarkan saya nilai kesabaran dan proses; Perplexity memberi saya akses dan efisiensi. Keduanya punya tempat dalam cara belajar saya, asalkan saya tidak kehilangan esensi dari belajar itu sendiri. Mungkin, saya perlu lebih sering membuka buku catatan itu, menulis dengan tangan, merangkai argumen dengan kata-kata sendiri. Mungkin, saya juga perlu lebih bijak dalam menggunakan Perplexity. Tidak sekadar mengambil yang "cukup untuk presentasi", tetapi benar-benar membaca dan memahami.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Sejarah, saya belajar bahwa setiap zaman memiliki cara belajarnya sendiri. Generasi dosen saya belajar dengan buku catatan dan perpustakaan; generasi saya belajar dengan Perplexity dan laptop. Keduanya adalah produk dari zamannya, dan keduanya valid. Yang penting adalah kita tidak kehilangan esensi dari belajar sejarah itu sendiri: kemampuan berpikir kritis, memahami konteks, dan menghargai proses. Karena pada akhirnya, teknologi boleh berubah, alat boleh berbeda, tetapi pemahaman sejati tetap membutuhkan usaha, waktu, dan kedalaman pikiran yang tidak bisa digantikan oleh AI mana pun. Di meja saya, buku catatan dan Perplexity akan terus berdampingan. Dan saya, sebagai mahasiswa di persimpangan dua generasi, akan terus belajar bagaimana menggunakan keduanya. Bukan untuk menggantikan satu sama lain, tetapi untuk saling melengkapi.
