Konten dari Pengguna

Diplomasi Bilateral Indonesia–Uzbekistan melalui Program Wisata Religi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aliska Maniswa Maulidinaia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi : Aliska Maniswa, ketika orang tua saya sedang menunaikan ibadah haji pada bulan Mei 2026
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi : Aliska Maniswa, ketika orang tua saya sedang menunaikan ibadah haji pada bulan Mei 2026

Pernahkah kamu membayangkan ibadah umrah bisa mendekatkan dua negara? Awalnya terdengar aneh. Selama ini umrah dikenal sebagai ibadah umat Muslim ke Tanah Suci, sehingga kerja sama yang terbayang hanyalah antara Indonesia dan Arab Saudi. Lalu, apa kaitannya dengan negara lain? Namun, hal itulah yang sedang terjadi antara Indonesia dan Uzbekistan, dan ceritanya cukup menarik untuk diikuti.

Semuanya bermula dari program bernama Umrah Plus. Setelah menunaikan umrah di Arab Saudi, jemaah melanjutkan perjalanan ke Uzbekistan, terutama ke Samarkand dan Bukhara. Sekilas, program ini terlihat seperti paket perjalanan biasa. Padahal, di baliknya ada pertemuan resmi antara kedua negara. Pada 26 Januari 2026, asosiasi umrah dan haji dari Indonesia dan Uzbekistan bertemu di Jakarta, lalu menandatangani kerja sama di bidang umrah dan pariwisata. Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf, ikut hadir dan mengatakan bahwa hubungan kedua negara sebenarnya sudah lama terjalin lewat jalur ziarah. Pemerintah Uzbekistan juga menyiapkan dukungan kebijakan bagi wisatawan asal Indonesia. Jadi, kerja sama ini dipersiapkan dari kedua belah pihak, dan yang bergerak bukan hanya pemerintah, melainkan juga para pelaku usaha.

Lalu, mengapa Uzbekistan yang dipilih? Jawabannya ternyata dekat dengan kita. Imam Bukhari, ulama yang kitab hadisnya banyak dipelajari di pesantren dan kampus di Indonesia, dimakamkan di Samarkand. Pada April 2026, Gubernur Samarkand berkunjung ke Indonesia, dan Menhaj membalasnya dengan datang ke Samarkand. Di sana, beliau menyebut bahwa kedua negara memiliki "riwayat persaudaraan yang cukup lama". Kalau dipikir-pikir, ucapan itu memang sulit dibantah, sebab banyak dari kita mengenal nama Imam Bukhari jauh sebelum mengetahui letak kotanya. Dalam pertemuan itu, mereka juga membahas kemungkinan penerbangan langsung Indonesia–Uzbekistan. Sang gubernur menilai penerbangan langsung sebagai kunci agar kunjungan kedua negara bertambah, sedangkan Menhaj mengundang wisatawan Uzbekistan untuk berkunjung ke Indonesia.

Dari Samarkand, perjalanan berlanjut ke Tashkent. Di sana, Menhaj bertemu dengan jajaran Muslim Board of Uzbekistan dan menyampaikan terima kasih atas sambutan yang hangat. Pesan yang beliau bawa cukup sederhana. Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, Uzbekistan menyimpan banyak situs penting dalam sejarah peradaban Islam, dan kesamaan tradisi keislaman menjadi modal untuk saling mendekat.

Bagian berikutnya mungkin tidak banyak diduga. Kerja sama ini ternyata merembet sampai ke urusan pembayaran. Bank Indonesia dan Bank Sentral Uzbekistan sedang membahas penggunaan QRIS dan UzQR agar wisatawan kedua negara lebih mudah bertransaksi. Dari ibadah dan ziarah, hubungan itu pun melebar ke penerbangan, industri halal, dan perdagangan. Bentuk kerja sama seperti ini disebut diplomasi ekonomi, yaitu pemanfaatan hubungan antarnegara untuk membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Meski begitu, perjalanan ini belum sepenuhnya mulus. Penyelenggaraan umrah di Indonesia dijalankan oleh pihak swasta melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), sedangkan pemerintah bertugas mengatur tata kelolanya. Artinya, kerja sama antarnegara baru terasa nyata jika para penyelenggara siap menjalankannya. Selain itu, sebagian rute masih dalam tahap pengembangan dan belum menjadi penerbangan reguler. Oleh karena itu, kejelasan rute serta setiap perubahan rencana perjalanan sebaiknya dicantumkan dalam perjanjian tertulis dengan jemaah agar tidak menimbulkan sengketa di kemudian hari.

Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa diplomasi tidak selalu berlangsung di ruang rapat para pejabat. Ia bisa tumbuh dari ibadah yang dijalani umat Muslim, lalu menyentuh jemaah, pelaku usaha, tokoh agama, hingga urusan ekonomi. Bagaimana kelanjutannya masih bergantung pada kepastian transportasi dan kesiapan para penyelenggara perjalanan.

Sumber yang aku baca dan tonton :

CNN Indonesia (2026), video YouTube "Uzbekistan kerja sama umroh dan pariwisata".

Kementerian Haji dan Umrah RI (2026), "Menhaj perkuat kerja sama dengan Uzbekistan, dorong penerbangan langsung Indonesia–Samarkand".

Kementerian Haji dan Umrah RI (2026), "Menhaj perkuat kerja sama Indonesia–Uzbekistan melalui wisata religi dan hubungan keislaman".

Riani, A. (2026), "Umrah Plus Uzbekistan, jemaah bisa napak tilas jejak Imam Bukhari hingga Bahauddin Naqsyaband", Liputan6.com.

Setiawan, R. (2026), "Wisata religi Indonesia–Uzbekistan bergeliat, ada Umrah Plus hingga QRIS", Mozaik Inilah.

Redaksi ASPHIRASI (2026), "Kerja sama Uzbekistan perluas pilihan paket umrah Indonesia", Media ASPHIRASI.