Konten dari Pengguna

Dolar Naik, Harga Ikut Naik, Mengapa Pelemahan Rupiah Terasa di Dapur?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aliya permata sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: dibuat menggunakan AI oleh penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: dibuat menggunakan AI oleh penulis.

Di pasar dan warung, orang tidak membaca kurs atau dolar. Mereka membaca harga cabai, ayam, dan beras. Namun, angka di layar pasar valas dan angka di label harga saling terhubung, hanya jalurnya tidak selalu terlihat dan tidak selalu cepat.

Menurut kurs tengah transaksi Bank Indonesia (BI), kurs per dolar AS naik dari sekitar Rp16.782 pada akhir 2025 menjadi sekitar Rp17.937 pada 2 Oktober 2026, atau naik sekitar 6,9 persen, setelah sempat menyentuh sekitar Rp18.171 pada 9 Juni. Pada saat yang sama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus dan 2,88 persen pada Juli. Sasaran inflasi BI untuk 2026 adalah 2,5±1 persen, sehingga batas atasnya 3,5 persen. Jaraknya kini tinggal sekitar 0,2 poin persentase. Kurs tengah juga naik sekitar 0,7 persen sejak hari pertama rapat BI pada 22 September, sehingga tekanan belum benar-benar reda.

Dolar Menguat, Harga Pangan Tertekan?

Ada hal yang perlu diakui secara jujur.

Menurut BPS, faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga di bulan September adalah kelompok barang yang terkait makanan, minuman, dan rokok. Beberapa barang yang memberikan dampak besar adalah cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Itu bukan barang yang semuanya diimpor, dan data itu tidak menunjukkan bahwa kurs adalah penyebabnya. Oleh karena itu, pernyataan "dolar naik, harga ikut naik" tidak bisa langsung disimpulkan menjadi "semua kenaikan harga disebabkan oleh dolar".

Namun dapur tidak sepenuhnya lepas dari dolar. Sebagian bahan pakan ternak, pupuk, bahan baku industri makanan, dan komponen kemasan masih bergantung pada impor. Ketika kurs naik, biaya itu naik dalam rupiah, dan produsen cenderung meneruskannya ke harga jual, sering dengan jeda beberapa bulan. Beban biaya lain juga menumpuk. BPS mencatat kelompok transportasi mengalami inflasi tahunan 4,84 persen pada September, sementara harga minyak dunia, menurut BI, sempat menyentuh 132 dolar AS per barel sebelum turun ke bawah 100 dolar AS pada 22 September. Kedua angka itu tidak otomatis berkaitan, tetapi sama-sama menambah ongkos produksi dan distribusi.

Ada kabar yang agak melegakan. Inflasi inti, yang mencerminkan tekanan harga mendasar, tercatat 2,84 persen secara tahunan pada September 2026, masih berada dalam kisaran sasaran inflasi. Tekanan inflasi saat ini lebih kuat berasal dari kelompok pangan yang bergejolak, yang pada September mencatat inflasi tahunan 5,03 persen, dibandingkan tekanan dari inflasi inti. Namun, ruang tersebut bisa menipis jika pelemahan rupiah berlanjut dan biaya impor terus meningkat.

Beban inflasi juga tidak dirasakan secara merata. BPS mencatat inflasi tahunan terjadi di seluruh 38 provinsi, dengan Sulawesi Utara menjadi yang tertinggi sebesar 7,59 persen, sedangkan Sumatera Selatan terendah sebesar 2,55 persen. Rumah tangga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan tentu akan merasakan kenaikan harga tersebut lebih cepat.

Mengapa bunga ditahan? Di sinilah keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga BI sebesar 5,75 persen dalam pertemuan 22–23 September menjadi penting bagi dapur. Menurut BI, bank sentral Amerika Serikat telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75 sampai 4,00 persen, sedangkan imbal hasil obligasi Amerika Serikat naik dan dolar tetap memperkuat posisinya. Dalam situasi seperti ini, menurunkan suku bunga bisa membuat perbedaan imbal hasil lebih sempit dan mendorong modal keluar, sehingga rupiah bisa jadi lebih tertekan lagi. Rupiah yang turun membuat biaya mengimpor barang untuk produsen semakin mahal, dan akhirnya bisa memengaruhi harga di pasaran juga.

Menurut saya, mempertahankan suku bunga bukan hanya cara untuk menjaga nilai tukar mata uang, tetapi juga upaya untuk mencegah kenaikan harga barang yang akhirnya akan berdampak ke pengeluaran sehari-hari di rumah tangga.

Meski begitu, bunga bukan perisai segalanya. Suku bunga tidak menurunkan harga cabai. Harga pangan domestik ditentukan oleh pasokan, cuaca, dan distribusi, yang berada di wilayah kebijakan pemerintah, bukan bank sentral.

Tiga hal yang perlu dijaga : Pertama, pemerintah perlu menjaga pasokan dan kelancaran distribusi pangan, terutama komoditas yang paling cepat bergejolak. Dalam jangka menengah, ketergantungan pada impor pakan dan pupuk perlu dikurangi agar guncangan kurs tidak mudah merembes ke harga pangan. Kedua, BI perlu terus menjelaskan prioritas kebijakannya dengan jelas, karena inflasi yang sudah dekat batas atas sasaran membuat ruang kekeliruan semakin sempit. Ketiga, rumah tangga perlu menata ulang anggaran belanja, memeriksa utang berbunga mengambang, mengurangi cicilan konsumtif, dan memperkuat dana darurat, tanpa perlu panik.

Kurs tidak berhenti di layar. Ia merembes ke dapur lewat jalur yang sunyi biaya pakan, ongkos angkut, dan bahan baku. Selama inflasi sudah mendekati batas atas sasaran, menjaga rupiah dan menjaga harga di pasar sesungguhnya adalah satu pekerjaan yang sama.