Konten dari Pengguna

Jebakan Sok Barat dalam Novel Klasik Salah Asuhan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Almaida Rohimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah ketemu orang yang baru paham sedikit budaya luar, terus mendadak gengsi ngomong bahasa daerah dan menganggap tradisinya sendiri itu kuno? Fenomena krisis identitas atau yang biasa kita sebut "sok barat" ini ternyata bukan cuma kelakuan anak muda zaman sekarang.

Jauh sebelum ada media sosial, Abdoel Moeis sudah merekam tabiat itu lewat novel klasiknya, Salah Asuhan (1928). Cerita yang usianya hampir seratus tahun ini justru terasa sangat dekat dengan realitas sosial kita hari ini tentang orang yang terjebak gaya hidup ikut-ikutan demi dipandang keren.

Kisah novel ini berfokus pada Hanafi, pemuda kampung yang beruntung bisa sekolah di HBS. Masalahnya, pendidikan Barat yang dia dapat bukannya bikin pikirannya makin terbuka, tapi malah membuat kepalanya besar. Hanafi merasa derajatnya sudah setara dengan orang Eropa dan memandang sebelah mata orang-orang di kampungnya sendiri.

Ilustrasi Hanafi yang Mulai Merasa Lebih Tinggi dari Orang-Orang di Sekitarnya_Hasil Pengeditan Pribadi dengan Aplikasi Canva

Cara pandang Hanafi yang merasa paling maju ini kelihatan jelas sewaktu dia mengomentari masyarakat sekitarnya:

"Pikiran orang bumiputra yang belum dimajukan itu, masih picik sekali. Mereka belum tahu harga kemerdekaan dan kebebasan bernafas."

Bagi Hanafi, menjadi modern itu artinya membuang semua hal yang berbau lokal. Puncaknya, dia tega menolak Rapiah istri sah pilihan ibunya hanya karena Rapiah dianggap tidak selevel dengan gaya hidup Barat yang dia agungkan. Hanafi malah nekat mengurus status hukumnya supaya disamakan dengan bangsa Eropa demi bisa menikahi Corrie du Bussee, gadis peranakan Belanda.

Tapi, Abdoel Moeis memperlihatkan hal yang cukup ironis. Kertas kewarganegaraan dan setelan baju ala Eropa ternyata tidak otomatis membuat Hanafi diterima di lingkungan masyarakat Barat. Dia justru berakhir di posisi yang serba salah: asing di tanah lahirnya sendiri, tapi juga tidak pernah benar-benar diakui oleh lingkaran sosial yang dia puja.

Ibunya sendiri, Ibu Mariam, dengan sangat getir menegur perubahan sikap anaknya yang kehilangan rasa hormat dan sopan santun:

"Engkau sudah menjadi orang Belanda, Hanafi. Bahasa Belanda yang engkau pakai, pakaian Belanda yang engkau kenakan. Tapi ingatlah, darah yang mengalir di dalam tubuhmu itu darah Minangkabau!"

Teguran sang ibu memperlihatkan kesalahan mendasar Hanafi. Dia salah mengartikan kata "modern." Bagi Hanafi, modern itu berarti meniru gaya luar secara mentah-mentah dan bersikap egois. Dia cuma mengambil kulit luar budaya Barat, tapi membuang nilai dasar kemanusiaan dan rasa hormat pada asal-usulnya sendiri.

Pernikahan Hanafi dan Corrie pun sama sekali tidak seindah bayangannya. Rumah tangga mereka malah dipenuhi rasa cemburu dan rasa minder yang ditutupi gengsi tinggi, sampai akhirnya Corrie pergi dan meninggal karena sakit.

Setelah kehilangan segalanya, Hanafi pulang ke kampung halaman dalam keadaan hancur secara fisik dan mental. Di akhir hayatnya, dia baru sadar kalau kesombongannya yang silau oleh status sosial telah menghancurkan hidupnya sendiri. Sebelum meninggal, Hanafi meninggalkan pesan penuh penyesalan kepada ibunya:

"Satu permintaanku, Ibu... Didiklah anakku Syafei baik-baik. Janganlah ia diberi asuhan seperti asuhanku, supaya jangan ia menjadi seperti aku..."

Pesan terakhir itu jadi penutup yang menyayat hati, sekaligus mempertegas alasan kenapa novel ini diberi judul Salah Asuhan.

Membaca kembali Salah Asuhan hari ini rasanya seperti sedang berkaca. Di tengah derasnya arus informasi global, gampang sekali buat kita jatuh jadi "Hanafi modern" anak muda yang terlalu silau sama tren luar sampai lupa dan asing dengan realitas di sekitarnya sendiri. Pada akhirnya, novel ini mengingatkan kita bahwa menjadi terbuka pada hal baru itu penting, tapi kehilangan identitas diri demi mengejar gengsi semua hanya akan berujung pada penyesalan.