Perusahaan Tidak Kekurangan Talenta, Mereka Hanya Belum Pandai Memetakannya

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Manajemen
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Naufal Majid tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin dinamis, perusahaan sering kali berlomba mencari talenta terbaik. Lowongan dibuka, proses rekrutmen dilakukan, berbagai platform pencari kerja dimanfaatkan. Namun, pernahkah perusahaan bertanya: jangan-jangan talenta yang dicari sebenarnya sudah ada di dalam perusahaan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena tidak semua potensi karyawan dapat terlihat hanya dari jabatan, masa kerja, atau pencapaian saat ini. Ada karyawan yang performanya konsisten tetapi belum memiliki kesempatan untuk menunjukkan potensi kepemimpinannya. Ada pula karyawan yang terlihat biasa saja dalam pekerjaannya, tetapi memiliki kemampuan komunikasi, kreativitas, atau problem solving yang sebenarnya sangat dibutuhkan perusahaan.
Di sinilah pemetaan talenta atau talent mapping menjadi relevan. Secara sederhana, pemetaan talenta merupakan proses untuk mengidentifikasi kemampuan, kinerja, potensi, serta kesiapan pengembangan karyawan. Perusahaan tidak hanya melihat siapa yang bekerja dengan baik hari ini, tetapi juga mencoba memahami siapa yang memiliki potensi untuk berkembang dan mengisi kebutuhan organisasi di masa depan.
Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah nine-box talent matrix, yang memetakan karyawan berdasarkan dua dimensi utama: kinerja dan potensi. Dari sini, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai karyawan yang memiliki kinerja tinggi, karyawan yang masih membutuhkan pengembangan, hingga karyawan yang berpotensi untuk dipersiapkan ke posisi yang lebih strategis.
Namun, menurut saya, persoalan sebenarnya bukan terletak pada apakah perusahaan memiliki sistem pemetaan talenta atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana perusahaan menggunakan hasil pemetaan tersebut.
Jangan sampai talent mapping hanya menjadi tabel berisi nama karyawan dan kategori tertentu yang kemudian disimpan di ruang HR.
Pemetaan talenta seharusnya menjadi dasar untuk mengambil keputusan pengembangan karyawan. Misalnya, karyawan dengan potensi kepemimpinan dapat diberikan kesempatan memimpin proyek. Karyawan yang memiliki kemampuan tertentu dapat memperoleh pelatihan yang sesuai. Sementara karyawan yang performanya belum optimal dapat diberikan pendampingan dan kesempatan untuk memperbaiki kompetensinya. Artinya, pemetaan talenta seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Karyawan ini masuk kategori apa?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah mengetahui potensinya, perusahaan akan melakukan apa?” Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah subjektivitas. Penilaian potensi karyawan sangat mungkin dipengaruhi oleh persepsi atasan. Karyawan yang sering terlihat aktif mungkin dianggap lebih potensial dibandingkan karyawan yang bekerja secara tenang di belakang layar. Padahal, keduanya bisa memiliki kontribusi dan potensi yang berbeda.
Karena itu, perusahaan perlu menggunakan indikator yang lebih objektif dan tidak hanya bergantung pada satu penilaian. Data kinerja, kompetensi, hasil evaluasi, pencapaian proyek, hingga asesmen tertentu dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan.
Lebih jauh lagi, karyawan seharusnya tidak menjadi objek pasif dalam proses ini. Mereka perlu mengetahui bagaimana perusahaan melihat potensi mereka dan seperti apa peluang pengembangannya.
Sebab, pemetaan talenta tanpa komunikasi dapat menimbulkan persoalan baru. Karyawan bisa merasa diberi label, dibandingkan dengan rekan kerja, atau bahkan merasa kariernya sudah ditentukan oleh satu hasil penilaian. Padahal, manusia bukan angka yang bisa ditempatkan secara permanen dalam sebuah kotak.
Potensi seseorang dapat berkembang seiring pengalaman, pembelajaran, lingkungan kerja, dan kesempatan yang diberikan. Karyawan yang hari ini belum siap menjadi pemimpin belum tentu tidak akan mampu memimpin di masa depan. Oleh karena itu, saya melihat talent mapping seharusnya diposisikan sebagai peta pengembangan, bukan alat pelabelan karyawan.
Perusahaan yang serius mengelola talenta perlu menghubungkan hasil pemetaan dengan career development, pelatihan, rotasi pekerjaan, succession planning, hingga pemberian proyek strategis. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya mengetahui siapa yang memiliki potensi, tetapi juga menciptakan ruang agar potensi tersebut benar-benar berkembang.
Pada akhirnya, perusahaan tidak selalu membutuhkan lebih banyak talenta dari luar. Bisa jadi, talenta yang mereka cari sudah duduk di meja kerja yang sama setiap hari.
Mereka hanya belum diberi kesempatan untuk terlihat dan mungkin, tantangan terbesar manajemen sumber daya manusia saat ini bukan lagi sekadar menemukan talenta, tetapi mengenali, memetakan, dan mengembangkan talenta yang sudah dimiliki.
