Konten dari Pengguna

Pemimpin yang Baik Hadir, Bukan Sekadar Menjabat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Altaliza Zahira Shofa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://share.gemini.google/BJzboO7SqQSd
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://share.gemini.google/BJzboO7SqQSd

Kepemimpinan Tidak Hanya Tentang Jabatan

Dalam kehidupan sehari-hari, pemimpin sering kali diidentikkan dengan seseorang yang memiliki jabatan atau kekuasaan. Padahal, kepemimpinan tidak hanya diukur dari posisi yang dimiliki, melainkan dari bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya ketika orang lain membutuhkan. Seorang pemimpin yang baik bukan hanya hadir ketika menerima amanah, tetapi juga tetap berada di tengah masyarakat saat menghadapi kesulitan.

Pesan tersebut terasa kuat dalam cerpen Majelis Minta Hujan karya Mashdar Zainal. Cerita ini tidak hanya menghadirkan kisah tentang kebakaran lahan di Desa Ngagrek, tetapi juga menyampaikan refleksi mengenai makna kepemimpinan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial yang masih relevan hingga saat ini.

Pengarang sejak awal menggambarkan situasi desa yang sedang berada dalam krisis.

"Desa Ngagrek dilanda kebakaran misterius selama berhari-hari. Api yang melalap sawah dan ladang..."

Krisis tersebut menjadi titik awal untuk melihat bagaimana seorang pemimpin menjalankan perannya ketika masyarakat benar-benar membutuhkan kehadirannya.

Ketika Jabatan Tidak Diiringi Tanggung Jawab

Dalam cerpen tersebut, Desa Ngagrek mengalami kebakaran yang terus melanda sawah dan ladang warga. Bencana itu mengancam sumber penghidupan masyarakat yang sebagian besar bekerja sebagai petani. Di tengah situasi tersebut, masyarakat tentu berharap kepala desa dapat menjadi sosok yang memimpin, menenangkan, sekaligus mencari solusi atas permasalahan yang sedang terjadi.

Namun, harapan itu tidak terwujud. Tokoh Sugi sebagai kepala desa justru digambarkan lebih banyak menghadiri berbagai kegiatan di luar desa daripada berupaya menyelesaikan persoalan yang dihadapi warganya. Pada bagian akhir cerita, pengarang menuliskan,

"Kepala desa mereka masih sibuk berkeliling kota menghadiri undangan dan pertemuan-pertemuan."

Kalimat singkat tersebut memiliki makna yang kuat. Seorang pemimpin memang memiliki banyak tanggung jawab, tetapi ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, kehadiran pemimpin menjadi hal yang tidak dapat digantikan. Jabatan tanpa kepedulian hanya akan menciptakan jarak antara pemimpin dan masyarakat.

Amanat tentang Kepemimpinan Menurut Burhan Nurgiyantoro

Burhan Nurgiyantoro (2013) menjelaskan bahwa amanat merupakan pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca melalui rangkaian peristiwa, konflik, maupun perilaku tokoh dalam cerita. Amanat sering kali tidak disampaikan secara langsung, melainkan dipahami melalui akibat dari tindakan para tokohnya.

Dalam cerpen Majelis Minta Hujan, amanat mengenai kepemimpinan dibangun melalui kontras antara penderitaan warga dengan sikap kepala desa yang kurang hadir di tengah krisis. Pengarang tidak pernah secara eksplisit mengatakan bahwa Sugi adalah pemimpin yang buruk. Akan tetapi, pembaca dapat menyimpulkannya dari berbagai peristiwa yang disajikan sepanjang cerita.

Dengan demikian, Mashdar Zainal mengajak pembaca untuk memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal kekuasaan, tetapi juga tentang tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Kepemimpinan yang Relevan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pesan moral dalam cerpen ini tidak hanya berlaku bagi seorang kepala desa. Nilai tersebut juga relevan bagi siapa saja yang diberi kepercayaan untuk memimpin, baik dalam keluarga, organisasi, sekolah, perguruan tinggi, maupun dunia kerja.

Di tengah kepanikan warga, Haji Qosim justru mengajak masyarakat untuk tetap bersatu dan berikhtiar.

"Jangan hanya diam, sebelum api benar-benar padam."

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari jabatan formal. Sikap mengajak, memberi semangat, dan mencari solusi bersama merupakan bentuk kepemimpinan yang nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga sering menjumpai sosok yang tidak memiliki jabatan, tetapi mampu menjadi tempat bertanya, memberi solusi, dan membantu orang lain. Sebaliknya, ada pula orang yang memiliki jabatan tinggi, tetapi sulit ditemui ketika dibutuhkan. Cerpen ini mengingatkan bahwa masyarakat lebih membutuhkan pemimpin yang hadir daripada pemimpin yang hanya memiliki gelar.

Hadir Saat Dibutuhkan, Itulah Makna Seorang Pemimpin

Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah ketika warga mulai kehilangan harapan. Mereka telah berusaha memadamkan api, mengikuti doa bersama, bahkan menunggu hujan turun. Namun, yang paling mereka butuhkan sebenarnya adalah pemimpin yang mau berada di tengah mereka.

Pada akhir cerita, pengarang menggambarkan keadaan warga dengan sangat sederhana tetapi menyayat.

"Warga Ngagrek sudah lelah. Sepenuhnya pasrah."

Kalimat tersebut bukan hanya menggambarkan kelelahan fisik akibat kebakaran, tetapi juga menunjukkan hilangnya harapan karena masyarakat merasa berjuang sendirian.

Dari sinilah amanat cerpen semakin terasa. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang hanya hadir ketika menerima jabatan atau tampil dalam acara resmi. Pemimpin sejati adalah mereka yang tetap berada di samping masyarakat ketika keadaan sedang sulit.

Kesimpulan: Kepemimpinan Sejati Hadir dalam Tindakan

Melalui cerpen Majelis Minta Hujan, Mashdar Zainal menyampaikan bahwa kepemimpinan bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat. Pesan moral tersebut sejalan dengan pandangan Burhan Nurgiyantoro bahwa amanat dalam karya sastra dapat dipahami melalui tindakan tokoh dan rangkaian peristiwa yang dialaminya.

Refleksi ini terasa dekat dengan kehidupan kita. Dalam keluarga, organisasi, lingkungan kerja, maupun masyarakat, jabatan hanyalah sebuah amanah. Yang benar-benar diingat oleh orang lain adalah siapa yang hadir ketika mereka membutuhkan pertolongan.

Pada akhirnya, menjadi pemimpin yang baik bukan berarti memiliki kedudukan yang tinggi, melainkan memiliki keberanian untuk peduli, bertanggung jawab, dan tetap berdiri bersama orang-orang yang dipimpin ketika menghadapi masa-masa sulit.

Daftar Pustaka

Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

“Majelis Minta Hujan.” 2026. Kompas. URL: https://www.kompas.id/artikel/majelis-minta-hujan