Budaya Thrifting Di Pasar Loak Jatinegara

Mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alvin Widad Damara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasar Loak Jatinegara (atau yang akrab disebut Pasar Jembatan) merupakan tempat jual beli barang antik atau barang second yang masih memiliki nilai jual yang tinggi. Pasar ini adalah sebuah arena sosial yang merepresentasikan aktivitas ekonomi informal serta dinamika budaya konsumsi masyarakat urban.
Sejak dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, trotoar di sepanjang jalan Jatinegara mulai bertransformasi. Tanpa etalase kaca yang megah, para pedagang cukup menggelar terpal atau kain seadanya di atas aspal. Barang barang yang ditawarkan sangat beragam dari kaset pita tua, kamera analog, perangkat elektronik jadul, hingga jajaran sepatu bekas maupun pakean (thrifting) dari berbagai merek ternama.
Menariknya, mekanisme jual-beli di sini mengandalkan kejelian dan ketelitian dalam memilih barang tersebut, tidak ada label dan harga yang pasti semua ditentukan melalui proses tawar-menawar langsung. Di sinilah letak daya tarik Pasar Loak Jatinegara yaitu kesetaraan posisi antara penjual dan pembeli yang saling bertukar nilai atas barang yang bernilai sejarah atau fungsi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pasar Loak Jatinegara tidak hanya didatangi oleh kolektor barang antik atau warga sekitar. Fenomena thrifting telah menarik perhatian generasi muda yang mencari identitas berbusana yang unik. Bagi anak muda, berburu pakaian atau sepatu di pasar ini adalah sebuah bentuk eksplorasi visual sekaligus bentuk pernyataan sikap terhadap budaya konsumerisme barang baru.
