Konten dari Pengguna

Keruntuhan Ekosistem Global Lebih Mengancam Daripada Konflik Tradisional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alviss Davie Hunafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerusakan Hutan. Sumber: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerusakan Hutan. Sumber: Pexels.com

Perhatian dunia saat ini hampir sepenuhnya tertuju pada berita perang dan konflik geopolitik. Namun, di balik riuhnya isu keamanan konvensional tersebut, ada ancaman lain yang jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu kerusakan ekosistem global. Pada Januari 2026, Pemerintah Inggris melalui Departemen Lingkungan (Defra), dengan masukan dari Komite Intelejen Gabungan, menerbitkan laporan resmi berjudul Nature Security Assessment on Global Biodiversity Loss, Ecosystem Collapse and National Security. Laporan ini menegaskan bahwa krisis alam sekarang menjadi ancaman langsung terhadap ketahanan nasional suatu negara.

Tingkat kerusakan biologis bumi saat ini sudah mencapai tahap yang menakutkan. Data menunjukkan bahwa rata-rata populasi satwa liar dunia telah merosot hingga 73% sejak tahun 1970, dengan penurunan terparah terjadi pada spesies air tawar yang mencapai 85%. Di saat yang sama, tingkat konsumsi manusia secara global kini telah menguras daya dukung alam hingga setara 1,7 planet Bumi per tahun. Simpelnya, manusia menggunakan sumber daya seakan-akan mereka mempunyai 1,7 Bumi meskipun kita hanya punya satu Bumi.

Peringatan serupa juga ditegaskan dalam World Economic Forum Global Risks Report 2026, yang menempatkan kerusakan ekosistem dan cuaca ekstrem sebagai ancaman paling parah dalam jangka panjang. Fakta-fakta ini menegaskan satu tesis utama: keruntuhan ekosistem global kini lebih sistemik, permanen, dan berbahaya dibandingkan dengan konflik militer tradisional. Sebab sekali melewati titik kritis, kerusakan alam hampir mustahil dipulihkan.

Sifat Sistemik dan Lintas Batas dari Kerusakan Ekosistem

Perbedaan mendasar antara konflik militer dan keruntuhan ekosistem adalah batas wilayah dan sifat dampaknya. Perang antarnegara umumnya memiliki garis depan teritorial yang jelas, di mana dampak fisiknya terkonsentrasi pada kawasan tertentu. Sebaliknya, Kerusakan ekosistem justru bekerja lintas batas negara dan merusak sistem pendukung kehidupan yang menjadi fondasi stabilitas global.

Ekosistem alam berfungsi sebagai sistem perlindungan alami yang mengatur ketersediaan air bersih, menstabilkan iklim, menjaga kesuburan tanah, serta menyerap emisi karbon. Ketika fungsi-fungsi ini terganggu, dampaknya tidak berhenti di lokasi kerusakan, tapi akan menjalar menjadi risiko kerusakan berantai yang memicu krisis pangan dan stabilitas di belahan bumi lain.

Pemerintah Inggris melalui laporan Nature Security Assessment (2026) memetakan enam wilayah ekosistem kritis dunia yang kerusakannya akan membawa dampak destruktif secara global:

  1. Hutan Hujan Amazon (Amerika Latin)

  2. Cekungan Kongo (Afrika)

  3. Terumbu Karang dan Hutan Mangrove Asia Tenggara

  4. Gletser Pegunungan Himalaya (Asia)

  5. Hutan Boreal Rusia

  6. Hutan Boreal Kanada

Setiap kawasan tersebut kini berada dalam arah menuju keruntuhan. Laporan resmi pemerintah Inggris tahun 2026 memperkirakan terumbu karang Asia Tenggara dan hutan boreal berpotensi mulai runtuh sejak 2030, diikuti hutan hujan tropis dan mangrove mulai 2050. Di Amazon, ambang kritis diperkirakan berada di angka deforestasi 20–25%, sementara kerusakan saat ini sudah mencapai 17%. Keruntuhan satu wilayah saja bisa mengubah pola cuaca global, melepaskan karbon secara masif, dan merusak rantai pasok pangan dunia sekaligus.

Permanensi Kerusakan dan Risiko Titik Kritis yang Tak Terpulihkan

Aspek lain yang membuat keruntuhan ekosistem lebih berbahaya adalah sifat kerusakannya yang permanen. Perang bisa dihentikan lewat perundingan, dan kota yang hancur masih bisa dibangun ulang. Sistem biologis Bumi tidak bekerja seperti itu.

Ketika sebuah ekosistem mengalami kerusakan parah hingga melewati titik kritisnya, sistem tersebut akan bergeser secara permanen ke kondisi yang rusak. Fungsi dasarnya, seperti menyediakan air bersih, menstabilkan suhu, dan menjaga pasokan pangan bisa hilang untuk selamanya.

Para ilmuwan mendefinisikan batas toleransi ini sebagai Planetary Boundaries, yakni ambang batas maksimum aktivitas manusia agar ekosistem Bumi tetap seimbang dan aman dihuni. Masalahnya, dari sembilan batas daya dukung utama planet ini, aktivitas manusia saat ini sudah melampaui tujuh di antaranya, termasuk ketersediaan air tawar, penggunaan lahan, dan stabilitas iklim. Artinya, kita telah memaksa alam bekerja melampaui kapasitas fisiknya.

Kenyataan ini seharusnya memaksa kita memperbarui tolok ukur keamanan nasional. Sejarah mencatat bahwa kota atau infrastruktur yang hancur akibat konflik selalu bisa dibangun kembali. Namun, ketika garis batas biologis Bumi terlampaui, tidak ada traktat perdamaian maupun alokasi anggaran negara yang sanggup menghidupkan kembali begitu luasnya terumbu karang yang rusak atau kekeringan masal. Tanpa kemauan untuk menempatkan keselamatan alam sebagai prioritas, seluruh kalkulasi keamanan negara hanyalah benteng kertas di hadapan krisis biologis yang sedang bergulir.