Konten dari Pengguna

Mendidik atau Mengendalikan? Kritik terhadap Pola Asuh yang Terlalu Mengekang

(pexel.com/cottonbrostudio
zoom-in-whitePerbesar
(pexel.com/cottonbrostudio

Fenomena strict parenting di kalangan Gen Z sering kali menjadi perdebatan. Pola asuh yang menerapkan berbagai batasan kepada anak kerap dianggap sebagai bentuk perlindungan agar anak terhindar dari pergaulan yang dianggap buruk. Namun, apakah pola asuh yang terlalu mengekang tersebut benar benar membuat anak lebih terjaga dalam pergaulannya?

Dalam pola asuh strict parenting, anak dapat menghadapi berbagai batasan yang membuat anak tertekan dan merasa tidak diberi dukungan serta kepercayaan oleh orang tua dan juga hal ini menjadi penyebab nya sering kali anak tidak nyaman dalam menyampaikan pengalaman dan juga perasaannya. Ketika anak mengalami sesuatu yang dianggap tidak memenuhi aturan ataupun tidak sesuai kerap kali anak akan mendapat respons negatif yang muncul dan membuat mereka tidak nyaman untuk terbuka akibat respons negatif tersebut.

(pexel.com/Kampusproduction)

Hal ini berkaitan dengan temuan Zhazha (2021) yang menyebutkan remaja akhir memilih memendam dan menyimpan sendiri keluh kesahnya. Dampak pola asuh yang terlalu mengekang dapat membuat anak semakin menjauh dan memilih untuk tidak menceritakan masalahnya kepada keluarga. Anak mungkin akan mencari kehangatan dan penerimaan dari orang lain sehingga hal ini dapat membuat anak akan cenderung lebih nyaman dengan orang lain yang memahami diri nya dibanding orangtuanya.

Kondisi tersebut akan memengaruhi hubungan orang tua anak akan menjadi lebih rumit, dikarenakan lingkungan tersebut akan memengaruhi bagaimana cara berpikir anak dan mengambil keputusan, dan dapat menimbulkan kekhawatiran atas pergaulannya. Anak akan cenderung dianggap "menurut" dan tidak masalah akan pola asuh tersebut, dikarenakan jauhnya komunikasi orang tua dan anak.

Maka, perlu ditekankan bahwa mendidik dan mengendalikan merupakan dua hal yang berbeda. Orang tua tetap perlu memberikan aturan serta arahan kepada anak, tetapi penting juga untuk menyelaraskannya dengan pengalaman anak dan membangun komunikasi yang terbuka.

Hal ini berbeda dengan mengendalikan anak melalui aturan dan ancaman yang kerap kali membuat anak merasa takut untuk mengungkapkan pendapat serta pengalaman mereka. Oleh karena itu, penerapan pola asuh yang baik juga perlu melibatkan pembentukan hubungan yang kuat antara orang tua dan anak. Zuhdi dan Kuswanti (2023) menjelaskan bahwa komunikasi yang terbuka, saling pengertian, dan kepercayaan menjadi landasan penting dalam menciptakan pola asuh yang positif.