Houthi dan Rapuhnya Urat Nadi Energi Dunia

Alwy Hafidz adalah seorang mahasiswa aktif program studi Hubungan Internasional (HI) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Alwy Hafidz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kelompok Houthi melancarkan serangan ke Bandara Internasional Riyadh pada awal Oktober 2026, dunia sebenarnya sedang menyaksikan lebih dari sekadar eskalasi konflik di Yaman. Serangan yang terjadi secara beruntun ini memperlihatkan sebuah pola baru yang mengkhawatirkan. Kelompok bersenjata non-negara tersebut kini telah berevolusi dan membuktikan kemampuannya dalam menekan salah satu eksportir energi terbesar di dunia secara berkelanjutan.
Fenomena ini menghadirkan pergeseran paradigma dalam memandang anatomi konflik Timur Tengah. Houthi tidak lagi bisa dipandang sebelah mata sekadar sebagai kelompok pemberontak lokal yang berkutat pada perebutan kekuasaan domestik. Mereka telah bertransformasi menjadi aktor geopolitik yang mampu mendikte arah dan menjadi penentu keamanan maritim global.
Keberhasilan Houthi dalam memainkan peran sentral ini tentu memunculkan kekhawatiran serius bagi stabilitas pasar. Pada saat yang sama, semakin besar ancaman yang ditimbulkan terhadap rantai pasok global, semakin besar pula urgensi bagi komunitas internasional, termasuk Indonesia, untuk merumuskan langkah antisipasi strategis guna melindungi ketahanan ekonomi di dalam negeri.
Pergeseran Peta Energi Global
Untuk memahami skala persoalan ini secara utuh, kita perlu menengok kembali pergeseran peta energi dunia sepanjang tahun 2026. Sebelum terjadinya eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia masih aman bermanuver melewati Selat Hormuz. Namun, setelah jalur tersebut praktis lumpuh, Arab Saudi terpaksa mengalihkan ekspor energinya melalui jaringan pipa menuju pelabuhan-pelabuhan di sepanjang Laut Merah. Jalur alternatif krusial inilah yang kini secara presisi menjadi sasaran tembak.
Houthi membaca celah perpindahan rute logistik ini dengan sangat cermat. Mereka secara sepihak mengumumkan larangan bagi seluruh lalu lintas maritim yang terkait dengan Arab Saudi sejak Juli, dan menindaklanjutinya lewat serangan rudal mematikan ke kapal tanker di lepas perairan Yanbu. Langkah ini menunjukkan perencanaan taktis yang matang dan berjangka panjang, bukan sekadar letupan serangan sporadis.
Pada September, langkah Houthi menjadi semakin agresif dan struktural. Seluruh pesisir Yaman yang berbatasan dengan Bab al-Mandeb dilaporkan telah jatuh ke tangan mereka, menyusul direbutnya tiga pulau strategis, termasuk Pulau Mayyun (Perim) yang membelah selat tersebut. Konsekuensinya sangat fatal: Houthi tidak lagi sekadar menebar ancaman rudal dari darat secara jarak jauh, melainkan telah menduduki posisi geografis yang memungkinkan kontrol, blokade, dan pengawasan fisik langsung atas gerbang selatan Laut Merah.
Strategi Asimetris dan Efek Domino
Keberhasilan taktis Houthi di lapangan tidak lahir dari keunggulan militer konvensional yang simetris. Kekuatan mereka justru bersumber dari kejelian mengidentifikasi bahwa urat nadi globalisasi memiliki titik-titik sempit (choke points) yang sangat rapuh. Menguasai sebuah selat selebar puluhan kilometer, memutus satu jalur pipa, atau melumpuhkan sebuah pelabuhan utama sudah lebih dari cukup untuk mengguncang pasar energi. Hal ini terbukti jelas ketika serangan drone ke pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi memicu sentimen panik yang mendorong harga minyak global meroket melampaui USD 100 per barel.
Di sisi lain, Riyadh dan sekutunya dihadapkan pada dilema operasional yang rumit. Balasan berupa puluhan serangan udara dari Arab Saudi terbukti tidak cukup efektif untuk merebut kembali penguasaan wilayah teritorial maupun menggaransi keamanan jalur pelayaran. Diperparah lagi oleh sikap Washington yang enggan membuka front pertempuran baru akibat terkurasnya sumber daya dalam konflik dengan Iran. Keengganan ini semakin memberikan ruang gerak taktis dan impunitas bagi operasi Houthi.
Selain itu, menganggap Houthi beroperasi sendirian adalah sebuah kekeliruan analitis. Mereka merupakan instrumen penting dari jaringan Poros Perlawanan yang didukung penuh oleh Teheran. Konflik di Yaman kini berfungsi ganda sebagai panggung militer sekaligus katup tekanan geopolitik, yang dapat dibuka atau ditutup oleh Iran kapan pun diperlukan untuk menaikkan daya tawar di kawasan.
Mitigasi Strategis bagi Indonesia
Bagi Indonesia, eskalasi konflik di Laut Merah tidak boleh dipandang semata sebagai gejolak kawasan Timur Tengah yang jauh. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap lonjakan harga energi di pasar internasional akan mentransmisikan kejutan secara langsung ke postur APBN, melonjakkan beban subsidi energi, dan pada ujungnya memukul daya beli masyarakat. Terganggunya Terusan Suez juga berarti membengkaknya biaya logistik dan memanjangnya waktu tempuh kargo perdagangan ekspor-impor Indonesia ke Eropa.
Menghadapi kerentanan sistemik ini, terdapat tiga langkah strategis yang mutlak harus didorong oleh pemerintah. Pertama, percepatan diversifikasi sumber pasokan dan penguatan cadangan energi nasional. Indonesia harus memiliki bantalan penyangga strategis agar daya tahan perekonomian tidak mudah tersandera oleh guncangan geopolitik di satu titik sempit.
Kedua, penguatan diplomasi ekonomi dan politik. Berbekal prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki modal diplomatik untuk mendorong de-eskalasi lewat forum multilateral seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), sambil secara paralel merumuskan skema perlindungan evakuasi bagi WNI, pekerja migran, dan jemaah umrah.
Ketiga, disiplin dalam mitigasi risiko ekonomi makro. Otoritas fiskal perlu secara disiplin merancang instrumen lindung nilai (hedging) terhadap harga energi dan mempersiapkan skenario kontinjensi bagi alternatif jalur logistik. Krisis Houthi memvalidasi satu realitas geopolitik modern yang tak terbantahkan: selama tata ekonomi global masih bergantung pada segelintir selat dan pipa, maka di sanalah kerentanan dunia dapat dieksploitasi kapan saja. Jawabannya bukan sekadar bersikap reaktif, melainkan membangun ketahanan nasional yang solid dari dalam.
