Konten dari Pengguna

Dosen UMY Dampingi Sekolah Muhammadiyah 3T Tingkatkan Literasi Keuangan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Nadyasta Paramitha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dosen UMY, Dr. Wahyu Manuhara Putra, S.E., Akt., M.Si., memimpin program pengabdian kepada masyarakat di SMA Muhammadiyah Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk memperbaiki literasi keuangan dan menciptakan model keberlanjutan finansial di sekolah yang terletak di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).

"Literasi keuangan tidak hanya tentang angka. Ini tentang menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sekolah," kata Dr. Wahyu ketika dijumpai di tempat acara. Ia menambahkan bahwa sekolah-sekolah di daerah 3T kerap kali tertinggal bukan disebabkan kurangnya semangat, melainkan karena akses terbatas terhadap pelatihan dan pendampingan.

SMA Muhammadiyah Putussibau berdiri sejak 1998 dan kini memiliki 10 siswa aktif serta didukung oleh 14 guru dan 2 staf. Berdasarkan hasil diskusi kelompok terarah (FGD) bersama kepala sekolah dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kapuas Hulu, tim pengabdian menemukan bahwa pengelolaan keuangan sekolah masih lemah akibat kurangnya pelatihan akuntansi dasar.

Sebagai solusi, tim memperkenalkan ide BUMS (Badan Usaha Milik Sekolah) dengan mendirikan kantin sekolah sebagai model usaha yang dicontohkan. Program ini melibatkan secara aktif guru dan siswa, dengan memanfaatkan sistem voucer sebagai insentif untuk transaksi kantin serta media pembelajaran literasi keuangan.

Pelaksanaan program terdiri dari empat langkah, yaitu: FGD untuk menemukan masalah, seminar tentang literasi keuangan bagi pengelola sekolah, pendampingan model bisnis BUMS, dan evaluasi pemahaman melalui ujian. Hasil penilaian memperlihatkan peningkatan pemahaman terhadap prinsip dasar akuntansi di antara para peserta.

Kepala sekolah menyatakan bahwa program ini memberikan pemahaman baru tentang signifikansi manajemen keuangan sekolah yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satu pengajar yang terlibat menilai penerapan sistem voucer efektif untuk menumbuhkan disiplin dan tanggung jawab keuangan di kalangan pelajar.

Kegiatan ini mengalami tantangan logistik akibat lokasi yang terpencil, sehingga beberapa tahap dilaksanakan secara online. Meskipun begitu, semua kegiatan sukses diselesaikan pada awal Mei 2025. Saat ini, tim pengabdian UMY sedang menyusun laporan akhir dan publikasi ilmiah sebagai hasil dari program.

Dr. Wahyu berharap model ini dapat direplikasi di sekolah Muhammadiyah lainnya di wilayah 3T sebagai langkah konkret menuju kemandirian keuangan lembaga pendidikan.

Dokumentasi Pengabdian Masyarakat di Sekolah Muhammadiyah Kapuas Hulu. Dokumentasi oleh dr. Wahyu