Konten dari Pengguna

Misteri Hilangnya Uang Jajan: Ke Mana Larinya Potongan di Struk Belanja?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potongan PPN 11% di struk kopi sore ini, kontribusi kecil yang bermakna besar. Foto: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Potongan PPN 11% di struk kopi sore ini, kontribusi kecil yang bermakna besar. Foto: Gemini AI

Pernahkah kamu memperhatikan struk setelah makan siang di kafe atau belanja bulanan di supermarket? Ada pemandangan yang hampir selalu kita temui di bagian paling bawah: deretan angka kecil yang tertulis sebagai PPN atau Tax. Bagi sebagian besar dari kita, angka itu seringkali dianggap sebagai "biaya tambahan" yang mengganggu, atau bahkan "misteri" yang membuat uang jajan kita terasa lebih cepat habis dari biasanya.

Kita mungkin sering bertanya dalam hati, "Barangnya cuma segini, kok bayarnya jadi segitu?" atau yang lebih skeptis lagi, "Uang tambahan ini benar-benar sampai ke tujuannya tidak, ya?"

Potongan Kecil untuk Perubahan Besar

Sebenarnya, potongan yang sering kita sebut "uang jajan yang hilang" itu adalah cara kita sebagai warga negara untuk urunan secara kolektif. Bayangkan jika kita ingin membangun sebuah jembatan atau memperbaiki jalan yang rusak sendirian. Tentu tidak mungkin, bukan? Secara finansial maupun tenaga, itu mustahil bagi individu.

Di sinilah peran "potongan" tersebut. Ia adalah bentuk gotong royong modern yang paling nyata. Setiap kali kita membeli segelas kopi susu seharga 20 ribu rupiah dan membayar pajak di dalamnya, kita sebenarnya sedang menyumbang sekian rupiah untuk membayar gaji guru, menyediakan subsidi energi, hingga memastikan puskesmas di pelosok tetap beroperasi. Jadi, uang jajanmu tidak benar-benar hilang; ia hanya berubah wujud menjadi fasilitas yang bisa kita nikmati bersama.

Tantangan Transparansi dan Kepercayaan

Namun, wajar saja jika muncul rasa enggan. Masalahnya seringkali bukan pada nominalnya, melainkan pada trust atau kepercayaan. Sebagai konsumen sekaligus pembayar, kita berhak tahu ke mana setiap rupiah itu mengalir. Ketika kita melihat berita tentang oknum yang menyalahgunakan anggaran atau melihat jalanan di depan rumah yang tak kunjung diperbaiki, rasa "ikhlas" saat melihat struk belanja itu pasti berkurang.

Maka, tuntutan kita sebagai masyarakat seharusnya bukan agar "potongan itu dihilangkan," melainkan agar "pengelolaannya lebih transparan." Kita ingin melihat uang jajan yang "hilang" dari dompet kita itu kembali dalam bentuk transportasi publik yang nyaman, pendidikan yang terjangkau, dan birokrasi yang tidak berbelit-belit.

Belajar Menjadi Warga Negara yang Cerdas

Memahami ke mana larinya potongan di struk belanja adalah langkah awal untuk menjadi warga negara yang kritis. Kita bukan sekadar pembayar, kita adalah pemegang saham dari negeri ini. Dengan menyadari bahwa ada hak kita di setiap infrastruktur yang kita gunakan, kita akan lebih merasa memiliki dan lebih berani untuk mengawasi.

Lain kali, saat kamu melihat struk belanja, jangan hanya melihat angka total yang harus dibayar. Lihatlah angka pajak itu sebagai tiket langganan untuk fasilitas publik. Memang terasa berat saat dompet sedang tipis, tapi setidaknya kita tahu bahwa kita sedang ikut andil dalam menjaga roda negeri ini tetap berputar.

Sebab, pada akhirnya, misteri hilangnya uang jajan kita akan terjawab saat kita bisa berjalan dengan aman di trotoar yang layak atau saat melihat anak-anak di sekolah bisa belajar dengan tenang. Ternyata, uang jajan kita tidak hilang, ia hanya sedang bekerja untuk kita semua.

Kalau kamu, biasanya paling sering 'ikhlas' atau 'kesal' saat melihat potongan pajak di struk belanja?