Belajar Akuntansi dari Tempat Magang
Tulisan dari Alzikri Nursyahbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kalau dulu saya berpikir belajar akuntansi hanya soal memahami debit, kredit, jurnal, dan laporan keuangan, setelah magang saya mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Sebagai mahasiswa Akuntansi Perpajakan, saya memang sudah terbiasa bertemu dengan angka dan berbagai tugas di kampus. Tapi jujur, ketika pertama kali masuk ke tempat magang, rasanya berbeda. Saya mulai bertemu dengan pekerjaan yang benar-benar dilakukan di dunia kerja, bukan sekadar soal yang ada di buku atau diberikan oleh dosen.
Awalnya saya sempat berpikir, “Ternyata begini ya dunia kerja.”
Di tempat magang, saya belajar bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian. Data dan dokumen harus diperhatikan, pekerjaan harus dikerjakan sesuai arahan, dan terkadang kita perlu mengecek kembali pekerjaan yang sudah selesai.
Dari situ saya mulai sadar bahwa kemampuan menghitung saja tidak cukup dalam akuntansi. Kita juga harus teliti dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Hal lain yang saya rasakan adalah saya jadi lebih berani untuk bertanya. Sebagai mahasiswa yang masih belajar, tentu ada banyak hal yang belum saya pahami. Awalnya mungkin ada rasa malu ketika harus bertanya, tetapi lama-kelamaan saya sadar bahwa bertanya justru membuat saya lebih cepat memahami pekerjaan.
Magang juga membuat saya bisa merasakan seperti apa dunia kerja yang sebenarnya.
Di kampus, kita biasanya belajar berdasarkan jadwal, mengerjakan tugas, kemudian mengumpulkannya. Di tempat magang, saya belajar bahwa ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, ada aturan yang perlu diikuti, dan ada orang lain yang juga bergantung pada pekerjaan kita.
Hal-hal seperti komunikasi, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan beradaptasi ternyata sama pentingnya dengan pengetahuan yang saya dapatkan di kelas.
Buat saya, pengalaman seperti ini sangat berharga. Saya bisa melihat langsung bagaimana ilmu yang selama ini dipelajari ternyata digunakan dalam pekerjaan sehari-hari.
Saya juga jadi tahu bahwa masih banyak hal yang harus saya pelajari. Dan menurut saya, itu bukan sesuatu yang buruk. Justru dari magang saya bisa mengetahui kekurangan diri sendiri dan menjadi lebih termotivasi untuk belajar.
Pada akhirnya, saya merasa magang bukan sekadar kewajiban mahasiswa yang harus diselesaikan.
Magang adalah kesempatan untuk mencoba dunia kerja sebelum benar-benar terjun ke dalamnya. Kita bisa belajar dari orang lain, belajar dari kesalahan, dan yang paling penting, mendapatkan pengalaman yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari dalam kelas.
Bagi saya, belajar akuntansi tidak berhenti di ruang kelas. Kadang, pelajaran yang paling mudah diingat justru datang dari pengalaman yang kita jalani sendiri.

