Digitalisasi Pajak: Ketika Modernisasi Tak Semudah Login
Tulisan dari Alzikri Nursyahbani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Janji kemudahan dari sistem pajak digital belum sepenuhnya terasa. Di balik layar, wajib pajak justru menghadapi kebingungan baru.
Era Baru, Harapan Lama
Digitalisasi pajak digadang-gadang sebagai tonggak baru reformasi fiskal Indonesia. Pemerintah menargetkan efisiensi, akurasi, dan transparansi melalui sistem berbasis teknologi, mulai dari e-Faktur hingga core tax administration system. Di atas kertas, semuanya tampak ideal: wajib pajak tinggal login, isi data, dan selesai. Namun, seperti banyak program digital lain, realitasnya tak selalu seindah janji.
Bagi sebagian besar wajib pajak, terutama pelaku UMKM dan individu non-teknis, sistem pajak digital justru menghadirkan kebingungan baru. Antarmuka yang rumit, gangguan server, hingga minimnya panduan membuat proses yang seharusnya cepat malah berlarut-larut.
Ketika Inovasi Tak Dibarengi Literasi
Modernisasi bukan hanya tentang membangun sistem, tetapi juga tentang membangun pemahaman pengguna. Sayangnya, literasi digital pajak di Indonesia masih rendah. Banyak pelaku usaha kecil tidak memiliki kemampuan teknis atau perangkat memadai untuk menyesuaikan diri. Akibatnya, mereka sering salah input, terlambat lapor, atau malah menyerah pada biro jasa.
Jika digitalisasi justru menciptakan ketimpangan baru antara yang melek teknologi dan yang tidak, maka modernisasi kehilangan maknanya.
Sistem yang Kacau, Kepercayaan yang Retak
Tak sedikit pengguna yang mengeluh soal gangguan teknis sistem crash saat pelaporan massal, laman tidak bisa diakses, atau data yang tiba-tiba hilang. Masalah-masalah ini mungkin dianggap sepele oleh otoritas pajak, tapi bagi wajib pajak, ini merusak kepercayaan.
Bagaimana publik bisa yakin pada sistem yang tidak stabil, sementara kesalahan input sedikit saja bisa berujung sanksi administratif?
Digitalisasi seharusnya menciptakan rasa aman dan efisien, bukan justru rasa frustrasi. Di sinilah muncul paradoks: sistem semakin modern, tapi kepercayaan semakin menipis.
Modernisasi yang Manusiawi
Pajak digital memang keniscayaan, tapi keberhasilannya ditentukan oleh human-centered reform — reformasi yang memikirkan kemampuan, kebiasaan, dan konteks sosial wajib pajak.
Negara harus membangun sistem yang tidak hanya kuat secara teknis, tapi juga mudah diakses dan dipahami semua kalangan. Pendampingan digital, literasi pajak daring, dan feedback loop yang transparan menjadi kunci agar modernisasi tak hanya jadi proyek teknologi, melainkan juga proyek kepercayaan.
Login Tidak Sama dengan Siap
Modernisasi pajak adalah langkah maju, tapi jangan lupa: tidak semua orang siap melangkah dengan kecepatan yang sama.
Sistem boleh canggih, tapi manusia tetap harus menjadi pusatnya. Karena tanpa kepercayaan dan kesiapan bersama, digitalisasi pajak hanya akan jadi janji modernisasi yang berubah jadi drama sistem baru.

