Komunikasi Krisis Fly Bali: Pelajaran bagi Bisnis Layanan Premium

Mahasiswi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amalia Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komunikasi krisis menjadi pelajaran utama dari kasus Fly Bali Heliport di Bali yang ramai dibahas sejak awal Oktober 2026. Berdasarkan pemberitaan SuperNews, Fly Bali menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf terbuka lewat Instagram resminya pada 2 Oktober 2026, setelah Ria Ricis membagikan pengalaman tidak menyenangkan saat hendak menaiki helikopter di sana. Menurut saya, kasus ini menarik bukan karena siapa yang benar, tetapi karena menunjukkan betapa mudahnya pesan yang masuk akal gagal diterima ketika cara menyampaikannya salah.
Apa yang terjadi: dua versi pengalaman
Berdasarkan laporan SuperNews, Ria Ricis mengaku merasa petugas di lapangan kurang ramah dan merasa ada perbedaan perlakuan dibanding wisatawan asing, hingga ia membatalkan rencana terbangnya. Dari sisi perusahaan, Fly Bali mengakui adanya kekurangan dalam cara staf menjelaskan penundaan jadwal.
Fly Bali juga menyampaikan kronologi: ada permintaan penerbangan di hari yang sama, disepakati diskon 20 persen dengan imbalan satu hingga dua unggahan Instagram Story, dan kesepakatan itu telah diinformasikan ke tim operasional. Penundaan disebut terjadi karena hanya satu pilot yang bertugas, sementara pilot lain sedang membantu penanganan kebakaran hutan di Kalimantan. Perusahaan berjanji mengevaluasi prosedur komunikasi dengan tamu.
Semua itu masih berupa pernyataan masing-masing pihak, dan saya tidak menilai versi mana yang lebih benar.
Teori komunikasi: pesan benar, tetapi tersumbat noise
Dalam model komunikasi Shannon dan Weaver (1949), pesan melewati pengirim, saluran, dan penerima, dan bisa terganggu oleh gangguan (noise). Alasan penundaan, yaitu keterbatasan pilot karena tugas kemanusiaan, mungkin valid. Tetapi bila disampaikan dengan nada dingin di tengah antrean dan emosi, yang diterima pelanggan bukan alasannya, melainkan sikapnya. Dalam kasus ini noise-nya adalah nada bicara, situasi padat, dan ekspektasi pelanggan.
Layanan premium: ekspektasi lebih tinggi, toleransi lebih rendah
Teori diskonfirmasi ekspektasi dari Oliver (1980) menjelaskan bahwa kepuasan ditentukan oleh selisih antara ekspektasi dan pengalaman. Pada layanan premium, ekspektasi bukan hanya soal produk (penerbangan), tetapi juga pengalaman interaksi. Teori ekuitas Adams (1963) menambahkan bahwa pelanggan membandingkan perlakuan yang ia terima dengan orang lain. Maka isu perbedaan perlakuan terhadap tamu asing mudah memicu rasa tidak adil, apa pun faktanya.
Komunikasi krisis: respons cepat, akurat, dan akomodatif
Dalam teori komunikasi krisis situasional (SCCT) dari Coombs (2007), strategi respons perlu disesuaikan dengan seberapa besar organisasi dianggap bertanggung jawab. Kajian atas kasus viral di Indonesia juga menyimpulkan efektivitas respons bergantung pada kecepatan dan ketepatan, dengan strategi akomodatif seperti meminta maaf dan menawarkan solusi. Fly Bali melakukan hal serupa: merespons lewat kanal resmi, meminta maaf, mengakui kekurangan, dan menjanjikan perbaikan.
Sisi lain: transparansi atau menekan pelanggan?
Ada dilema yang menurut saya patut dibahas. Membuka rincian kerja sama diskon dan promosi bisa dibaca sebagai upaya meluruskan informasi. Tetapi publik bisa menilainya sebagai cara menyudutkan pelanggan, terutama figur publik. Dalam komunikasi krisis, ada garis tipis antara menjelaskan konteks dan membela diri. Itu pendapat saya, bukan penilaian atas niat Fly Bali.
Pelajaran komunikasi krisis bagi bisnis layanan
Menurut saya, ada empat langkah yang bisa langsung diterapkan:
Siapkan pedoman penundaan. Staf garis depan perlu kalimat jelas dan empatik untuk menjelaskan alasan, estimasi waktu, dan alternatif.
Latih empati, bukan hanya prosedur. Nada bicara sama pentingnya dengan isi pesan.
Standarkan perlakuan antartamu, baik lokal maupun asing, agar tidak muncul persepsi tidak adil.
Siapkan protokol untuk tamu berpengaruh dan pemantauan media sosial, supaya keluhan ditangani sebelum menjadi viral.
Penutup
Komunikasi krisis bukan sekadar minta maaf cepat. Ia dimulai jauh sebelum krisis, yaitu dari bagaimana staf paling depan menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan. Bisnis yang menjual pengalaman perlu ingat bahwa pelanggan mengingat perasaannya, bukan hanya penjelasannya.
Sumber
SuperNews: https://supernews.co.id/viral-ria-ricis-batal-naik-helikopter-fly-bali-ungkap-kronologi-maaf-viral-ria-ricis-batal-naik-helikopter-gegara-petugas-jutek-fly-bali-beri-klarifikasi
Kajian komunikasi krisis (Bakso A-Fung, Jurnal Daruna): http://esensijournal.com/index.php/daruna/article/download/85/71
Rujukan teori: Shannon dan Weaver (1949), Oliver (1980), Adams (1963), Coombs (2007)
