Lelah Jadi "Yes Man": Ketika Hidup Orang Lain Lebih Penting dari Diri Sendiri

mahasiswa farmasi UII
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari AMALIA NAJMA - tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu bilang “iya” ke orang lain, padahal dalam hati kamu sebenarnya pengen bilang “tidak”? Atau mengiyakan ajakan, tawaran, bahkan beban kerja tambahan karena takut dianggap tidak peduli, egois, atau kurang berkontribusi?
Kalau iya, mungkin kamu termasuk golongan people pleaser, orang yang terlalu fokus menyenangkan orang lain sampai lupa menyenangkan diri sendiri.
Di Luar Terlihat Baik, Tapi Dalamnya Lelah
Dulu aku pikir jadi orang baik itu artinya harus selalu siap membantu siapa pun, kapan pun. Semakin banyak orang senang, semakin “berarti” rasanya. Tapi lama-lama aku mulai merasa aneh.
Kenapa aku sering capek, tapi nggak bisa istirahat? Kenapa rasanya nggak pernah cukup, meski sudah berusaha sebisa mungkin untuk semua orang? Dan yang paling menyakitkan adalah kenapa nggak ada yang nanya balik, “Kamu butuh bantuan nggak?”
Banyak dari kita tumbuh dalam lingkungan yang membentuk mental people pleaser secara nggak sadar.
Diajarkan untuk selalu patuh, sopan, nggak boleh menolak orang yang lebih tua, harus jaga perasaan orang lain. Tapi kapan terakhir kali ada yang ngajarin kita jaga perasaan diri sendiri?
Orang-orang seperti ini sering merasa bersalah kalau bilang “tidak.” Mereka lebih takut mengecewakan orang lain daripada kecewa pada diri sendiri.
Aku baru tahu, ternyata ini bisa berakar dari inner child yang belum sembuh. Mungkin dulunya sering dimarahi kalau membantah. Mungkin pernah merasa hanya dicintai kalau berprestasi atau jadi anak penurut. Akhirnya saat dewasa, kita menjadikan “menyenangkan orang lain” sebagai identitas bukan pilihan.
Boleh kok bilang “Tidak”
Pertama kali aku belajar bilang “nggak bisa,” jujur rasanya aneh. Ada rasa bersalah, takut dijauhi, dan dicap sombong.
Tapi ternyata nggak seburuk itu. Bilang “tidak” bukan berarti egois. Itu tandanya kamu mulai sadar bahwa energimu terbatas, dan kamu juga layak dijaga.
Orang-orang yang kamu tolong belum tentu akan ada saat kamu lelah tapi kamu akan selalu bersama dirimu sendiri. Maka jangan jadikan “baik” sebagai alasan untuk terus mengabaikan kebutuhanmu.
Kita boleh kok berhenti sebentar. Menolak ajakan, menyendiri, minta maaf pada diri sendiri karena dulu terlalu keras.
Menjadi orang baik itu penting. Tapi menjadi baik pada diri sendiri jauh lebih penting. Aku tahu, melepaskan identitas “si baik hati” itu butuh waktu. Tapi hidup bukan soal membuat semua orang bahagia. Hidup adalah soal jujur pada dirimu sendiri, dan berdamai dengan pilihan-pilihan yang kamu ambil demi kebaikanmu.
Kamu juga berhak istirahat dan bahagia.
